Jakarta, reportasenews.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terbaru korban bencana banjir, longsor, dan puting beliung yang melanda wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel). Hingga Minggu (27/1/2019), tercatat sebanyak sebanyak 68 orang meninggal, tujuh orang hilang, 47 orang luka-luka, dan 6.757 orang mengungsi.
Ada 188 desa yang terdampak bencana tersebut. Kerusakan fisik yang terdata berupa 550 unit rumah rusak, 5.198 rumah lainnya terendam. Bencana juga berdampak pada ruas jalan sepanjang 16,2 km, 13.326 hektare sawah, 34 jembatan, dua pasar, 12 fasilitas ibadah, delapan fasilitas pemerintah, serta 65 bangunan sekolah.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya menyebutkan empat daerah yang terdampak paling parah akikbat banjir adalah Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Jeneponto, Maros, dan Wajo.
Tercatat 45 orang meninggal dunia di Gowa. Sementara tiga orang masih belum ditemukan, 46 lainnya luka-luka, dan sebanyak 2.121 orang mengungsi. Satu jembatan rusak, sepuluh rumah rusak dam 604 rumah lainnya terendam. Sebanyak 477 rumah juga terendam di Kota Makassar dengan korban satu orang meninggal, 2.942 orang terdampak, dan 1.000 orang mengungsi.
Sebanyak 14 orang meninggal di Jeneponto, tiga orang hilang, 3.276 orang mengungsi, 470 unit rumah rusak, 15 jembatan terdampak, 1.304 hektare sawah terendam, serta 41 bangunan sekolah rusak.
Banjir juga merendam 552 unit rumah dan 8.295 hektar sawah di Maros. Sementara satu fasilitas ibadah rusak, 251 orang mengungsi, 1.200 orang terdampak, dan empat orang meninggal dunia.
Sementara di Wajo tercatat 2.705 orang terdampak dan 2.421 rumah terendam. Banjir juga berdampak pada 16,2 km jalan, merendam 2.025 hektare sawah, merusak sembilan jembatan, 10 fasilitas peribadatan, 21 fasilitas pendidikan, dan lima fasilitas pemerintah.
Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Kepala BNPB Doni Monardo menyambangi kantor Gubernur Sulsel untuk mendapatkan penjelasan penanganan bencana. Wapres juga meninjau beberapa lokasi bencana dan Bendungan Bili-Bili untuk mendapatkan penjelasan kondisi bendungan.
“Beberapa arahan Wakil Presiden dan Kepala BNPB diberikan kepada Pemda untuk percepatan penanganan darurat dan pascabencana,” kata Sutopo.
Pencarian tujuh orang hilang masih dilakukan tim SAR gabungan. BNPB terus mendampingi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam penanganan darurat seperti di Desa Sapaya, Desa Bontomanai, Desa Mangempang, dan Desa Buakang di Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa yang mengalami banjir dan longsor dengan jumlah korban 29 orang meninggal.
Sutopo mengatakan pembangunan jembatan darurat balley dilakukan TNI dibantu instansi terkait dan warga. Pelayanan kesehatan ditangani Dinas Kesehatan, PMI, dan NGO. “Dapur umum pun telah didirikan oleh Dinas Sosial dan Satuan Brimob Polda Sulsel,” katanya.
Prioritas penanganan saat ini, kata dia, membersihkan lumpur dan material yang menutup jalan, lingkungan, dan rumah. Material lumpur yang ada di dalam rumah mencapai ketebalan 50 cm dan kondisinya mulai mengeras, sehingga sulit dibersihkan. “Material lumpur dibersihkan dengan menerjunkan alat berat,” katanya.
Menurut dia, sebagian pengungsi sudah kembali ke rumah dan membersihkan lumpur di rumah masing-masing. Banyak surat berharga yang rusak karena tidak terbawa saat mengungsi.
“Kebutuhan mendesak yang diperlukan adalah makanan, selimut, matras, pelayanan medis, MCK dan sanitasi, relawan untuk membersihkan lumpur, peralatan rumah tangga untuk membersihkan lumpur, trauma healing, dan lainnya,” papar Sutopo. (*/Sir)

