Korea Selatan, reportasenews.com – Korea Utara telah membuka kembali komunikasi hotline dengan Korea Selatan, sehari setelah Seoul menawarkan perundingan tingkat tinggi untuk mengajak Pyongyang ikut serta mengirimkan tim olahraga terbaik mereka di Olimpiade Musim Dingin 2018.

Saluran hotline yang sempat ditutup oleh Korut pada bulan Februari 2016, dipulihkan pada pukul 15:00 waktu setempat (06:30 GMT) pada hari Rabu di desa perbatasan Panmunjom.

Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan bahwa Korea Utara melakukan kontak dan petugas memeriksa apakah saluran telepon tersebut bekerja dengan baik. Percakapan berlangsung 20 menit, kata kementerian tersebut.

Korea Utara mengatakan bahwa pemimpin Kim Jong meminta hotline ini dipulihkan kembali untuk membahas keinginan Pyonyang mengirimkan tim olahraga ke Korea Selatan di Olimpiade musim dingin 2018.

Rin Son Gown, ketua komite reunifikasi Korea Utara, mengatakan Korea Utara akan terlibat dengan Korea Selatan dengan cara yang “tulus dan jujur”.

Dibukanya saluran hotline ini dimulai saat Kim Jong Un dalam pidato Tahun Baru, mengatakan bahwa dia “terbuka untuk berdialog” dengan Korea Selatan, dan menyatakan ketertarikannya untuk mengirim atlet Korut.

Korea Selatan dengan cepat menyambut baik isyarat tersebut dan mengusulkan untuk mengadakan pembicaraan pada tanggal 9 Januari.

Namun, Presiden Moon Jae-in mengatakan adanya perbaikan dalam hubungan tersebut tidak lepas dari upaya denuklirisasi Korut.

Sebaliknya Kim, dalam pidato Tahun Baru, mengatakan akan bergerak maju dengan “memproduksi hulu ledak nuklir dan rudal balistik untuk penempatan operasional pada tahun 2018”.

Kim juga memperingatkan Presiden AS Donald Trump bahwa ia memiliki “tombol nuklir” di mejanya yang siap setiap saat ditekan oleh dia.

Graham Ong-Webb, seorang peneliti di Sekolah Studi Internasional S Rajaratnam di Singapura, mengatakan bahwa “sangat tidak mungkin” Korut akan dikompromikan dengan program senjatanya.

“Kita harus memiliki harapan yang sangat sederhana untuk dialog yang akan datang,” Ong-Webb mengatakan kepada Al Jazeera.

“Isi dari percakapan yang ada antara Utara dan Selatan tidak akan mengenai pengendalian nuklir, tapi ini tentang kontrol, dan mencoba agar Korea Utara dapat berperilaku lebih baik, dan tidak untuk berkembang biak dan membangun gudang senjata nuklir yang berlebihan.”

Pejabat AS tampaknya masih bersikap sinistik dan menolak prospek pembicaraan positif antara dua Korea.

Nikki Haley, duta besar AS untuk PBB, mengatakan bahwa ada dialog antar Korea yang akan menjadi “plester penambal luka” kecuali jika pembicaraan tersebut melakukan upaya pemusnahan program nuklir di Korea Utara.

Heather Nauert, juru bicara departemen luar negeri AS, juga memperingatkan bahwa Kim “mungkin mencoba mengemas irisan antara Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Cina bagaimanapun, telah menggambarkan prospek pembicaraan antar dua Korea sebagai “pesan positif”. Amerika rupanya tidak begitu senang dua Korea menjadi rukun ditahap ini. (Hsg)