Korban Hilang Banjir Bandang Solok Ditemukan, Operasi SAR Ditutup
- calendar_month 24 menit yang lalu
- print Cetak

Korban terakhir yang hilang akibat banjir bandang di Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, ditemukan meninggal dunia. Total dua orang meninggal. (BNPB)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Solok, ReportaseNews — Operasi pencarian korban banjir bandang di Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, resmi berakhir setelah tim gabungan menemukan satu korban yang sebelumnya dilaporkan hilang dalam kondisi meninggal dunia pada Jumat (25/9/2026).
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, penemuan korban tersebut membuat seluruh warga yang sebelumnya dilaporkan hilang telah ditemukan.
“Dengan ditemukannya korban tersebut, jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang Kabupaten Solok menjadi dua orang,” kata Berton, Sabtu (26/9/2026).
Kedua korban meninggal dunia masing-masing berinisial DA (21) dan A (59). Sebelumnya, satu korban telah ditemukan meninggal dunia, sementara satu korban lainnya masih dalam pencarian oleh tim gabungan.
Banjir bandang menerjang kawasan Arosuka pada Senin (21/9/2026) sekitar pukul 19.45 WIB setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah Kabupaten Solok. Kondisi tersebut meningkatkan debit sejumlah aliran sungai, termasuk Sungai Batang Laso, serta memicu longsor pada bukit di sekitar aliran sungai.
Material berupa pasir, batu, lumpur dan air kemudian menerjang Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok serta permukiman di sekitarnya. Material banjir bahkan sempat meluap hingga badan Jalan Raya Solok–Padang.
Selain menyebabkan korban jiwa, bencana tersebut mengakibatkan empat warga mengalami luka. Tiga korban mengalami luka ringan, sedangkan satu korban mengalami luka berat dan telah mendapatkan penanganan medis sebelum dirujuk ke rumah sakit di Kota Padang.
“Dampak banjir juga tercatat pada sektor permukiman dan fasilitas pemerintahan. Sebanyak 12 gedung perkantoran terdampak, dengan enam gedung mengalami kerusakan berat dan enam lainnya rusak ringan,” kata Berton.
Sementara itu, sebanyak 98 rumah terdampak. Rinciannya terdiri atas 19 rumah rusak berat, 16 rusak sedang, 52 rusak ringan, delapan rumah terendam, dan tiga rumah berada dalam kondisi rawan.
Bencana juga berdampak terhadap tujuh kendaraan roda empat, sementara pendataan kendaraan roda dua masih berlangsung. Di sektor pertanian, sekitar 57 hektare lahan terdampak, terdiri atas 42 hektare sawah dan 15 hektare lahan kering.
Kerusakan infrastruktur meliputi lima ruas jalan dan dua jembatan. Gangguan jaringan air bersih juga terjadi di lima kompleks perumahan sehingga diperlukan percepatan perbaikan jaringan dan dukungan tandon air.
Sekitar 480 warga masih mengungsi di sejumlah lokasi, di antaranya rumah dinas Wakil Bupati, rumah dinas Bupati, rumah ladang, masjid serta lokasi pengungsian mandiri.
Setelah operasi pencarian berakhir, penanganan difokuskan pada pembersihan material banjir, pemetaan wilayah terdampak dan pendataan pengungsi. PLN melakukan perbaikan jaringan listrik yang terputus, sedangkan unsur pekerjaan umum menangani aliran sungai dan infrastruktur yang terdampak.
Pemulihan jaringan air bersih juga dilakukan melalui perbaikan jalur pipa yang rusak akibat terjangan material banjir.
BNPB turut menyalurkan dukungan logistik dan peralatan melalui Dana Siap Pakai yang tiba pada 24 September 2026. Bantuan tersebut antara lain 117 paket sembako, satu koli masaji, dua koli selimut, 50 koli family kit, 50 paket alat kebersihan, 50 helm rescue dan 50 pasang sepatu boot.
Berton mengatakan, BNPB bersama pemerintah daerah kini memprioritaskan akurasi data masyarakat terdampak agar bantuan dapat disalurkan sesuai kebutuhan.
“BNPB bersama pemerintah daerah terus mempercepat pendataan masyarakat terdampak, termasuk data rumah rusak, pengungsi dan kebutuhan dasar. Data tersebut akan dipadupadankan dengan data kependudukan untuk memastikan bantuan diberikan secara tepat sasaran,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Solok juga menyiapkan Surat Keputusan Bupati terkait data rumah rusak berat, sedang dan ringan. Data estimasi kebutuhan hunian sementara ditargetkan tersedia pada 28 September 2026.
BNPB juga mengarahkan pemerintah daerah agar warga terdampak tidak terlalu lama berada di tenda pengungsian. Alternatif tempat tinggal sementara yang aman dan layak diminta segera disiapkan, terutama bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat.
Tahap berikutnya akan diarahkan pada pemulihan layanan dasar serta penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P). Kajian teknis dan risiko wilayah terdampak juga akan dilakukan sebagai dasar penanganan infrastruktur dan hunian masyarakat.
Dengan ditemukannya korban terakhir, pencarian seluruh warga yang dilaporkan hilang dalam banjir bandang Kabupaten Solok dinyatakan selesai. Penanganan kini bergeser ke tahap pembersihan, pemenuhan kebutuhan dasar dan percepatan pemulihan wilayah terdampak.
(RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar