Trump Tolak Bertemu Iran, Ancam Serangan Baru ke Fasilitas Nuklir
- calendar_month 16 menit yang lalu
- print Cetak

Donald Trump mengancam akan kembali melakukan pengeboman terhadap Iran jika kesepakatan tidak tercapai. AS juga berencana memindahkan uranium Iran. (Foto: AFP via Getty Images/ Patrick T)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hamilton, ReportaseNews – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan pemerintahannya belum memiliki kepentingan untuk bertemu dengan Iran hingga Teheran menunjukkan keseriusan dalam perundingan mengenai program nuklir.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menerima Presiden Lebanon Joseph Aoun di Ruang Oval, Gedung Putih, Selasa (22/7/2026) waktu setempat.
Trump mengklaim Iran saat ini sangat ingin membuka komunikasi dengan Amerika Serikat. Namun, menurutnya, Washington tidak akan merespons sebelum Iran benar-benar siap melakukan pembicaraan yang dianggap bermakna.
”Mereka sangat ingin bertemu dengan kami. Namun, sampai mereka benar-benar siap melakukan pertemuan yang bermakna, kami sama sekali tidak tertarik untuk bertemu,” kata Trump, seperti dilansir Anadolu, Rabu (22/7/2026).
Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Ia juga mengklaim operasi militer yang dilakukan Washington telah melemahkan kemampuan Iran secara signifikan.
”Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” ujar Trump.
Ia bahkan mengeklaim apabila Amerika Serikat menghentikan operasinya saat ini, Iran membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 25 tahun untuk membangun kembali kekuatannya.
”Jika kami berhenti sekarang, Iran akan membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 25 tahun untuk membangun kembali kekuatannya,” ucap Trump.
Menurut Trump, konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih jauh dari selesai. Ia menilai langkah Washington telah memberikan dampak besar terhadap Iran dan berpengaruh terhadap situasi di Timur Tengah.
Trump juga mengklaim bahwa tanpa tindakan Amerika Serikat, keberadaan Israel akan berada dalam ancaman yang lebih besar.
Ia kemudian membandingkan operasi militer Amerika di Iran dengan operasi sebelumnya di Venezuela. Menurut Trump, operasi di Iran memiliki skala yang jauh lebih besar.
”Operasi di Iran jauh lebih besar. Sejujurnya, mereka belum melihat apa pun. Selama ini kami masih bersikap baik,” katanya.
Saat ditanya mengenai laporan dugaan pemindahan sentrifugal nuklir Iran ke kawasan Pickaxe Mountain, Trump mengaku belum memiliki bukti yang memastikan informasi tersebut.
Meski demikian, ia menegaskan Amerika Serikat terus memantau pergerakan material nuklir Iran dan mengisyaratkan kemungkinan operasi militer baru.
”Kami mengikuti pergerakan material nuklir. Di situlah inti persoalannya, dan kemungkinan besar kami akan segera mendatangi wilayah itu,” ujar Trump.
Trump bahkan mengancam akan melancarkan serangan besar terhadap kawasan tersebut.
”Kami akan menyerang wilayah itu dalam waktu dekat dengan kekuatan yang sangat besar,” tegasnya.
Pekan lalu, Trump dilaporkan menerima pengarahan di Situation Room mengenai sejumlah opsi untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran. Beberapa skenario yang dipertimbangkan antara lain operasi untuk merebut Pulau Kharg yang menjadi terminal utama ekspor minyak Iran serta serangan udara terhadap fasilitas nuklir di Pickaxe Mountain.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer. Eskalasi tersebut terjadi meski pada Juni lalu kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri perang dan membuka jalan menuju kesepakatan damai jangka panjang.
(RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar