Trump Makin Frustasi, Desak Iran Segera Berdamai atau Hadapi Kehancuran
- calendar_month 13 menit yang lalu
- print Cetak

Donald Trump mengancam akan kembali melakukan pengeboman terhadap Iran jika kesepakatan tidak tercapai. AS juga berencana memindahkan uranium Iran. (Foto: AFP via Getty Images/ Patrick T)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman keras kepada Teheran terkait mandeknya proses perdamaian.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu (18/5/2026), Trump meminta Iran segera bergerak menuju kesepakatan damai sebelum situasi semakin tidak terkendali.
“Bagi Iran, waktunya terus berjalan dan mereka harus bergerak cepat, atau tidak akan ada lagi yang tersisa dari mereka. Waktu sangat mendesak!” tulis Trump, seperti dikutip dari France24, Senin (18/5/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan ketika konflik antara Washington dan Teheran belum menunjukkan tanda mereda sejak serangan besar Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari lalu.
Perang yang mengguncang kawasan Timur Tengah itu juga berdampak pada ekonomi global. Penutupan efektif Selat Hormuz — jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen ekspor minyak dunia — memicu kenaikan harga energi internasional.
Situasi keamanan kawasan turut memburuk setelah konflik meluas hingga melibatkan Israel dan Lebanon. Kelompok Hizbullah yang didukung Iran disebut terus melancarkan serangan ke wilayah Israel meski gencatan senjata telah diperpanjang.
Seorang pejabat militer Israel mengatakan sekitar 200 proyektil ditembakkan Hizbullah ke arah Israel sepanjang akhir pekan. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan terbaru Israel di wilayah selatan negara itu menewaskan lima orang, termasuk dua anak-anak.
Otoritas Lebanon mencatat lebih dari 2.900 orang tewas akibat serangan Israel sejak perang dimulai. Dari jumlah tersebut, sekitar 400 korban meninggal setelah gencatan senjata berlaku pada 17 April lalu.
Negosiasi Damai Masih Buntu
Amerika Serikat dan Iran sebenarnya telah menyepakati gencatan senjata pada 8 April 2026. Namun, pembicaraan damai belum menghasilkan kemajuan berarti dan serangan sporadis masih terjadi di sejumlah wilayah.
Media Iran menuding Washington tidak memberikan konsesi nyata dalam proposal terbaru negosiasi. Kantor berita Fars melaporkan Amerika Serikat meminta Iran hanya mengoperasikan satu fasilitas nuklir dan menyerahkan stok uranium yang diperkaya tinggi kepada Washington.
Selain itu, AS juga disebut menolak mencairkan sebagian besar aset Iran yang dibekukan di luar negeri maupun memberikan kompensasi atas kerusakan akibat perang.
“Amerika Serikat tidak menawarkan konsesi nyata, tetapi justru ingin memperoleh keuntungan yang gagal mereka dapatkan selama perang. Sikap itu hanya akan membuat negosiasi menemui jalan buntu,” tulis kantor berita Mehr.
Ketegangan baru juga muncul di kawasan Teluk setelah serangan drone memicu kebakaran di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun kebocoran radiasi, insiden tersebut memperlihatkan meningkatnya ancaman keamanan regional.
Pakistan diketahui terus memainkan peran sebagai mediator dalam perundingan damai Iran dan Amerika Serikat. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi dilaporkan bertemu Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf di Teheran pada Minggu.
Usai pertemuan tersebut, Ghalibaf menilai perang yang melibatkan AS dan Israel telah memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah.
“Sejumlah negara di kawasan menganggap kehadiran Amerika Serikat akan membawa keamanan. Namun, peristiwa terbaru menunjukkan kehadiran itu justru tidak mampu menciptakan keamanan dan malah memicu ketidakstabilan,” kata Ghalibaf.
Sementara itu, Trump juga sempat membahas isu Iran dalam pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping pekan ini. Namun, belum ada perkembangan signifikan terkait upaya penyelesaian konflik.
Pemerintah China sebelumnya mendesak agar jalur pelayaran internasional segera dibuka kembali demi menjaga stabilitas perdagangan global. (AFP/France24/RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar