Presiden Prabowo Sebut Gabungan Nama Kapolri dan Panglima TNI Tanda-tanda dari Langit
- calendar_month 10 jam yang lalu
- print Cetak

Presiden Prabowo meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). (FOTO: ISTIMEWA)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nganjuk, ReportaseNews.com — Presiden Prabowo Subianto berkelakar dengan menyebut perpaduan nama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto merupakan tanda-tanda dari langit, karena membentuk nama dirinya sendiri. Presiden menyampaikan kelakar ini saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
“Kapolri, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto. Kalau mereka berdua itu, Prabowo Subiyanto. Jadi.., nggak tahu saya. Tanda-tanda dari langit,” kata Presiden Prabowo di hadapan ribuan buruh dan tamu undangan yang hadir.
Momen kelakar yang disambut hangat oleh hadirin tersebut mewarnai rangkaian agenda peresmian museum yang didedikasikan bagi tokoh pejuang hak buruh Indonesia. Presiden Prabowo meresmikan fasilitas tersebut demi menghormati jasa besar almarhumah Marsinah yang kini menyandang gelar pahlawan bangsa.
“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim pada pagi hari ini, Sabtu, 16 Mei 2026, saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia dengan ini meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur,” ucap Prabowo yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi penandatanganan prasasti sebagai bukti otentik peresmian.
Sebelum meresmikan, Presiden Prabowo didampingi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea selaku inisiator pembangunan untuk meninjau bagian dalam museum.
Dalam tinjauan itu, Kepala Negara sempat menyapa keluarga Marsinah serta melihat replika kamar tidur pribadi Marsinah yang diabadikan di dalam kompleks museum bersama rombongan.
Isi di dalam museum ini dirancang secara sistematis ke dalam beberapa segmen yang menggambarkan keseluruhan perjalanan hidup dan perjuangan Marsinah. Bagian awal museum menyajikan segmen biografi Marsinah serta gambaran diorama komprehensif terkait realita kondisi objektif kaum buruh pada tahun 1990.
Selanjutnya, terdapat segmen khusus yang merekam jejak perjuangan Marsinah dalam membangun solidaritas antar-pekerja. Dia digambarkan sebagai sosok yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga berani bertindak serta mengambil risiko besar.
Museum juga menyajikan segmen tragedi dan keadilan yang menceritakan peristiwa bersejarah pada Mei 1993 saat Marsinah berdiri di barisan paling depan untuk memperjuangkan hak upah yang layak bagi rekan-rekannya di Sidoarjo sebelum akhirnya gugur.
Pada bagian akhir pameran, terdapat miniatur momen sakral saat Marsinah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada Senin, 10 November 2025, di Istana Negara, Jakarta, yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto.
Berbagai memorabilia asli seperti pakaian terakhir yang dikenakan Marsinah, tas, hingga kliping koran asli yang merekam peristiwa pembunuhan serta proses pengadilannya turut dipajang dengan rapi.
Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea menegaskan seluruh proses pembangunan gedung museum ini murni menggunakan dana iuran dari para buruh dan dibantu oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo selaku penasihat buruh, tanpa menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Fasilitas ini juga dilengkapi dengan rumah singgah yang diperuntukkan bagi para peziarah yang datang dari berbagai daerah.
Acara peresmian ini dihadiri sekitar 7.000 buruh dari wilayah Surabaya, Nganjuk, Mojokerto, hingga Jombang. Sejumlah pejabat tinggi negara dan tokoh internasional hadir mendampingi Presiden, di antaranya Sekretaris Jenderal Konfederasi Serikat Buruh Internasional (ITUC) Shoya Yoshida, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta jajaran pimpinan MPR RI dan DPD RI.
Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah ini akan dibuka untuk masyarakat umum tujuh hari setelah prosesi peresmian hari ini. Seluruh masyarakat yang ingin berkunjung dan mempelajari jejak sejarah perjuangan buruh tersebut dapat datang tanpa dipungut biaya masuk alias gratis. (RN-03)
- Penulis: RN-03




Saat ini belum ada komentar