Pembangunan 107 Unit Huntap Tahap II di Batangtoru Ditargetkan Rampung Empat Bulan
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

Bupati Tapsel Gus Irawan Pasaribu menyaksikan penandatanganan perjanjian kontrak pembangunan Huntap Tahap II antara Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dengan CV Reynand Utama di Desa Hapesong Baru, Selasa (28/04/2026). (Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tapsel, ReportaseNews – Pembangunan 107 unit rumah Hunian Tetap (Huntap) tahap kedua bagi korban bencana di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) ditargetkan selesai dalam waktu empat bulan kedepan. Proyek ini kelanjutan pembangunan tahap pertama sebanyak 120 unit yang telah selesai dikerjakan dan telah ditempati warga terdampak di Desa Hapesong Baru.
Bupati Tapsel Gus Irawan Pasaribu menyaksikan prosesi penandatanganan perjanjian kontrak pembangunan Huntap Tahap II antara Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dengan CV Reynand Utama selaku kontraktor pelaksana di Desa Hapesong Baru, Selasa (28/04/2026).
Kerja sama ini memastikan total bantuan dari lembaga kemanusiaan tersebut mencapai 227 unit rumah bagi warga yang direlokasi dari Desa Simatohir dan Desa Panobasan Lombang.
Gus Irawan mengapresiasi komitmen Yayasan Buddha Tzu Chi yang terus mendampingi pemerintah daerah sejak masa tanggap darurat hingga tahap pemulihan fisik bagi masyarakat. Keberhasilan Tapsel dalam meresmikan hunian tetap sebelumnya bahkan telah mendapat perhatian nasional sebagai daerah tercepat di wilayah Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat dalam program rehabilitasi pascabencana.
“Hari ini kita lanjutkan pembangunan Tahap II. Ini bentuk kolaborasi luar biasa antara pemerintah dan lembaga kemanusiaan. Saya berharap pembangunan dapat diselesaikan lebih cepat dari target kontrak empat bulan,” ujar Gus Irawan Pasaribu.
Selain fokus pada penyediaan tempat tinggal, Gus Irawan menegaskan pemerintah daerah berkomitmen memastikan keberlanjutan ekonomi warga di lokasi baru. Pemkab Tapsel menyiapkan berbagai program pemberdayaan, mulai dari penyediaan kolam bioflok untuk budidaya ikan lele dan nila hingga sistem pertanian tumpang sari jagung yang akses pasarnya akan difasilitasi oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
“Tantangan terbesar setelah hunian tersedia adalah mengembalikan masa depan masyarakat yang kehilangan mata pencaharian. Karena itu, pemerintah menyiapkan berbagai program pemberdayaan ekonomi bagi warga penerima Huntap,” jelas Gus Irawan.
Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara Mujianto menyatakan pihaknya akan bekerja maksimal untuk mempercepat proses konstruksi di lapangan. Dia berharap dukungan penuh dari pemerintah daerah, terutama dalam penyediaan sarana pendukung lainnya, agar hunian tersebut dapat segera diserahterimakan kepada warga.
“Kami optimistis pembangunan dapat diselesaikan secepatnya sehingga masyarakat segera menempati rumah yang layak, aman, dan nyaman,” tegas Mujianto.
Hingga saat ini, kondisi seluruh warga terdampak bencana dilaporkan sudah tidak lagi berada di tenda pengungsian. Sejak sebelum Hari Raya Idulfitri, masyarakat telah menempati hunian sementara maupun tetap. Sementara pembangunan tahap kedua ini diharapkan menjadi solusi akhir bagi warga yang masih menunggu relokasi permanen. (Lily)
- Penulis: RN-03



Saat ini belum ada komentar