Duta Pepelingasih Dorong Perubahan Perilaku Masyarakat terhadap Sampah Sungai
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banjarmasin, ReportaseNews – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat (FISIP ULM) Banjarmasin, Kalsel melakukan penelitian perspektif dan strategi komunikasi yang dilakukan oleh Muhammad Zaini Duta Pepelingasih dalam upaya penanganan masalah sampah sungai Kota Banjarmasin.
Kota Banjarmasin dikenal sebagai Kota Seribu Sungai sejak abad ke-14 hingga ke-16. Sungai menjadi bagian dari kebutuhan hidup masyarakat bantaran sungai. Selain warga bantaran sungai, sungai menjadi kawasan kebanggaan Kota Banjarmasin karena sungai juga menjadi sektor pariwisata Kota Banjarmasin. Namun kini, sungai yang dulu menjadi kebanggaan berubah menjadi tempat pembuangan limbah rumah tangga, sampah plastik, dan sisa makanan, sehingga julukannya bergeser menjadi Kota Seribu Sampah.
Permasalahan ini menjadi permasalahan utama sungai Kota Banjarmasin yang menimbulkan ancaman bagi ekosistem dan kesehatan. Sampah terbawa arus ke laut dan berpotensi menjadi mikroplastik dalam rantai makanan. Kebiasaan turun-temurun warga bantaran sungai menganggap sungai sebagai tempat sampah paling praktis. Volume sampah di TPS Banjarmasin mencapai 300–600 ton per hari.
Pemerintah dan MUI telah mengeluarkan regulasi larangan membuang sampah ke sungai, namun belum sepenuhnya bisa mengubah perilaku. Pesan komunikasi lingkungan belum bisa tersampaikan dengan efektif ke masyarakat. Di sinilah peran duta lingkungan. Program Duta Pepelingasih membangun agen perubahan akar rumput. Ahmad Zaini, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat angkatan 2023, penggagas “Pilah Sampah Banjarmasin”, aktif dalam kegiatan lingkungan. Ia menggunakan pendekatan personal berbasis contoh, FGD, serta kombinasi media sosial dan edukasi tatap muka untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.
Temuan tersebut sejalan dengan hasil riset yang dilakukan oleh Kelompok 5 Mahasiswa Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Melalui wawancara dengan Ahmad Zaini selaku Duta Pepelingasih Kota Banjarmasin, ditemukan bahwa permasalahan sampah sungai menjadi tantangan besar dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan di kota ini.
Menurut Zaini, kondisi sampah di sungai Banjarmasin saat ini masih tergolong memprihatinkan. Meskipun berbagai program dan kegiatan telah dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, maupun mahasiswa, sungai di Banjarmasin belum sepenuhnya terbebas dari sampah.
“Kita kan memang Kota Seribu Sungai dan bahkan banyak narasi-narasi yang mengarahkan bahwa kita itu bukan lagi Kota Seribu Sungai, tapi Kota Seribu Sampah,” ujarnya saat diwawancarai langsung pada Rabu, 6 May 2026.
Ia menjelaskan bahwa sampah rumah tangga, plastik, dan sisa makanan masih banyak ditemukan mengapung maupun menumpuk di tepian sungai. Kondisi tersebut terlihat jelas di beberapa kawasan sungai ketika sampah terbawa arus lalu terdampar di pinggiran sungai.
Menurut Zaini, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan sampah sungai adalah mengubah kebiasaan masyarakat yang telah berlangsung secara turun-temurun. Banyak warga yang tinggal di bantaran sungai masih menganggap sungai sebagai tempat pembuangan yang mudah dijangkau. Selain itu, keterbatasan fasilitas seperti tempat sampah dan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) juga menjadi faktor yang turut memengaruhi perilaku masyarakat.
Ia menambahkan bahwa dampak sampah tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar sungai. Sampah yang terbawa arus akan bermuara ke laut dan berpotensi mencemari ekosistem perairan yang lebih luas. Bahkan, sampah plastik dapat terurai menjadi mikroplastik yang masuk ke rantai makanan melalui ikan dan organisme perairan lainnya.
Sebagai Duta Pepelingasih, Zaini aktif melakukan berbagai kegiatan edukasi lingkungan dan aksi bersih sungai. Ia juga mengembangkan Program Pilah Sampah Banjarmasin sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah sejak dari rumah.
Menurutnya, penyelesaian masalah sampah sungai tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas lingkungan, dan generasi muda agar upaya menjaga kebersihan sungai dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Kalau semisal kalian tuh enggak bisa berkontribusi untuk bener-bener membantu membersihkan lingkungan, jangan mengotorinya,” pesannya.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa upaya menjaga kebersihan sungai tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau komunitas lingkungan, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Melalui kolaborasi berkelanjutan serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhdapa pengelolaan sampah, identitas Banjarmasin sebagai Kota Seribu Sungai diharapkan dapat terus terjaga bagi generasi mendatang. (RN-09).
- Penulis: Ferdy Ferdy




Saat ini belum ada komentar