Breaking News
Trending Tags

Ular Sanca Raksasa dan Hadiah 3 Buah Durian dari warga Lokal di Hutan Sambora (Bagian 3)

  • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Mempawah, ReportaseNews — Malam perlahan turun di Riam Sambora. Langit yang bersih tanpa gangguan polusi cahaya menghadirkan hamparan bintang yang seolah tak berujung. Ribuan titik cahaya bertaburan di angkasa, memantulkan keagungan ciptaan Tuhan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

‎Tidak ada lampu jalan yang berpendar seperti di kota. Yang terdengar hanya gemericik air yang memecah kesunyian, desir angin yang menggerakkan pucuk-pucuk pohon, dan sesekali suara satwa malam yang datang dari balik gelap hutan.

‎Di atas kepala, ribuan bintang bertaburan memenuhi langit Sambora. Begitu banyak hingga sulit membedakan mana gugusan bintang dan mana awan tipis yang melintas perlahan. Udara pegunungan yang dingin menusuk kulit, sementara api unggun kecil di samping tenda berusaha melawan hawa malam pedalaman Kalimantan.

‎Saya duduk sendirian di tepi Riam Sambora.

‎Senja itu, di bawah kanopi pepohonan, saya mendirikan tenda bersama sahabat lama, Mujiman, dan putra keduanya. Wajah putra Mujiman tampak sedikit murung. Sore tadi sebelum tiba di Riam Sambora, ia begitu bersemangat membawa peralatan pancing.

‎Berkali-kali ia memasang umpan, melempar kail, lalu menarik kembali tali pancing dengan penuh harap. Namun hingga matahari tenggelam, tak seekor pun ikan menyambar umpannya.

‎Meski gagal membawa pulang hasil tangkapan, semangatnya tak benar-benar padam. Sesekali ia masih bercerita tentang ikan-ikan besar yang menurutnya sering muncul di aliran sungai sekitar Riam Sambora.

‎Sebelum malam tiba, kami sempat menyusuri kawasan hutan di sekitar air terjun. Hutan itu masih menyimpan pesona alam yang memikat. Suara burung sesekali terdengar dari kejauhan, sementara aroma tanah lembap memenuhi udara.

‎Namun di balik keindahan itu, perubahan mulai terlihat.

‎Pohon-pohon besar yang dahulu menjadi penyangga utama ekosistem kini tidak lagi sebanyak yang dibayangkan. Kanopi hutan tampak lebih renggang. Sinar matahari dengan mudah menembus hingga ke lantai hutan, menciptakan bercak-bercak cahaya di antara semak dan dedaunan yang tersisa.

‎Pada beberapa bagian, vegetasi bawah yang biasanya rapat mulai berkurang. Di kejauhan, hamparan kebun kelapa sawit menjadi penanda bagaimana lanskap perlahan berubah. Batas antara hutan alami dan kawasan budidaya semakin nyata terlihat.

‎Mujiman memahami betul perubahan yang terjadi di kawasan hutan Sambora. Sebagai seorang rimbawan yang bertugas di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Landak, ia menyaksikan sendiri bagaimana bentang alam di wilayah itu perlahan berubah seiring berkembangnya perkebunan kelapa sawit yang menjadi sumber penghidupan masyarakat selain bertani dan berladang.

‎”Dulu air Riam Sambora ini sangat jernih. Sekarang selain sedikit keruh, debitnya juga mulai berkurang. Di bagian hulu sudah banyak pembukaan lahan untuk berbagai kebutuhan,” ujarnya sembari memandang aliran air yang mengalir di antara bebatuan.

‎Nada suaranya terdengar datar, tetapi saya dapat menangkap kegelisahan yang tersimpan di balik kalimat-kalimat sederhana itu. Mujiman masih mengingat bagaimana kawasan ini dahulu begitu teduh. Pohon-pohon besar berdiri rapat membentuk kanopi yang hampir menutupi seluruh lantai hutan.

‎Kini, di beberapa bagian, cahaya matahari sudah leluasa menembus sela-sela tajuk yang mulai renggang.

‎Meski demikian, Riam Sambora tetap menyimpan pesona yang sulit diabaikan. Airnya yang sejuk terus mengalir membelah batuan alami, menghadirkan suara gemericik yang menenangkan. Udara pegunungan yang segar dan panorama alam yang masih terjaga menjadikan kawasan ini destinasi favorit warga sekitar.

‎”Kalau akhir pekan biasanya cukup ramai. Banyak yang datang untuk berkemah, mandi di riam, foto-foto, atau sekadar melepas penat sambil bakar ayam bersama keluarga,” kata Mujiman.

‎Setelah puas mengitari jalan setapak di kawasan Hutan Riam Sambora, kami berjalan mencari lokasi yang cocok untuk mendirikan tenda. Dalam perjalanan, perhatian saya tertuju pada susunan batu-batu yang tersusun rapi membentuk semacam dinding kecil di tepi jalur setapak.

‎Sebagian masih utuh, sebagian lainnya telah runtuh dimakan usia.

‎Mujiman menjelaskan bahwa batu-batu tersebut bukan sekadar susunan biasa.

‎”Itu pantak. Dulu kawasan ini sangat sakral bagi masyarakat Dayak. Banyak ritual adat dilaksanakan di sini,” tuturnya.

‎Menurutnya, kawasan sekitar Riam Sambora dahulu dikenal sebagai tempat yang dihormati masyarakat setempat. Seiring waktu dan perubahan kepemilikan lahan, sebagian besar kawasan kini dikelola oleh masing-masing keluarga yang bermukim di sekitar hutan.

‎Tak lama kemudian kami menemukan sebuah area datar di dekat aliran sungai. Di sanalah saya memutuskan mendirikan tenda dan memarkir Kawasaki Versys yang sejak pagi setia menemani perjalanan.

Petualangan Asa 3. (Dok. ReportaseNews)

Petualangan Asa 3. (Dok. ReportaseNews)

‎Menjelang malam, Mujiman dan putranya berpamitan untuk kembali ke rumah mereka di Desa Sambora.

‎Sosok keduanya perlahan menghilang di balik tikungan jalan setapak. Saya memperhatikan hingga bayangan mereka benar-benar lenyap ditelan senja.

‎Kini hanya tersisa saya seorang diri di tengah kawasan Riam Sambora.

‎Malam turun perlahan.

‎Langit pedalaman yang bebas polusi cahaya menampilkan hamparan bintang yang luar biasa indah. Bulan sabit menggantung tenang di ufuk barat, sementara ribuan bintang berkilauan memenuhi angkasa.

‎Setelah menunaikan salat Magrib dan Isya di samping tenda, saya mengumpulkan ranting-ranting kering untuk menyalakan api unggun kecil. Udara mulai terasa dingin. Suara aliran air menjadi satu-satunya musik alam yang menemani malam.

‎Karena lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Pontianak, saya sempat terlelap.

‎Namun malam di pedalaman ternyata menyimpan banyak cerita.

‎Sekitar beberapa jam setelah gelap sepenuhnya, saya terbangun ketika sekelompok warga melintas di dekat tenda. Mereka hendak menuju bukit untuk nyandau durian, tradisi menunggu buah durian jatuh langsung dari pohonnya saat musim panen tiba.

‎Sebagian dari mereka membawa senter, karung, dan senapan angin untuk berburu satwa yang menjadi target mereka malam itu.

‎Setelah berbincang singkat, rombongan tersebut melanjutkan perjalanan menembus kegelapan menuju puncak bukit.

‎Kembali saya seorang diri.

‎Kesunyian malam perlahan mengambil alih.

‎Di tengah keheningan itu, telinga saya menangkap suara-suara yang sulit dijelaskan. Mula-mula samar, seperti keramaian orang menggelar hajatan dari kejauhan. Kadang terdengar jelas, lalu hilang begitu saja dibawa angin malam.

‎Tak lama kemudian suara satwa malam mulai bersahut-sahutan dari arah hutan.

‎Ketika sedang berbaring di dalam tenda, bulu kuduk saya sempat meremang. Dari luar terdengar bunyi langkah yang menginjak daun-daun kering. Perlahan suara itu mendekat ke arah tenda.

‎Saya segera membuka resleting tenda dan memeriksa keadaan sekitar.

‎Gelap.

‎Tak ada siapa-siapa.

‎Hanya suara air dan desir angin yang bergerak di antara pepohonan.

‎Mungkin satwa liar. Mungkin pula hanya perasaan saya yang terlalu capek saat perjalanan kesini di dalam suasana malam pedalaman.

‎Saya kembali masuk ke dalam tenda dan akhirnya tertidur pulas.

‎Tepat sekitar tengah malam, suara langkah dan percakapan kembali terdengar.

‎Rombongan pemburu durian yang tadi melintas kini kembali turun dari bukit. Mereka tampak gembira karena berhasil membawa satu karung penuh durian matang.

‎Namun yang paling menarik perhatian saya adalah seekor ular sanca berukuran besar dengan panjang lebih dari tiga meter yang mereka bawa. Kepala ular itu telah tertembus sebatang kayu dan masih sesekali bergerak lemah.

‎Ular tersebut dibawa oleh Agustinus Darwis, yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Panglima Jilah. Menurut mereka, ular itu akan dimanfaatkan sebagai bahan pangan.

‎Malam itu terasa begitu panjang.

‎Durian, hutan, ular sanca, dan cerita-cerita pedalaman berpadu menjadi pengalaman yang tak mungkin saya temukan di kota. Sebelum berpisah, mereka memberikan tiga buah durian matang kepada saya.

‎Hadiah sederhana yang terasa begitu berharga dan bermakna. Saya berkenalan dengan orang-orang baru yang pertama kali saya jumpai, ada Robertus, Juan dan istrinya, Agustinus dan rombongannya, dan sepasangan kakek nenek yang tetap kuat dan sehat menapaki jalan setapak untuk membawa hasil pertanian dan buah durian dari kebun agar bisa dinikmati keluarganya di rumah.

‎Pagi harinya, di bawah cahaya matahari yang hangat dan suasana yang hening, durian-durian itu menjadi menu sarapan yang istimewa. Setelah menunaikan salat Subuh, saya duduk sejenak menikmati udara segar Riam Sembora.

‎Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Air sungai terus mengalir tanpa lelah seperti malam sebelumnya.

‎Saya memandangi sekeliling untuk terakhir kalinya sebelum membongkar tenda dan mengemas perlengkapan.

‎Karena pada akhirnya, perjalanan terbaik bukanlah tentang seberapa jauh roda berputar. Melainkan tentang cerita-cerita yang kita temukan ketika memutuskan untuk kembali ke jalan. Perjalanan belum berakhir.

 

(*/RN-07)

  • Penulis: Tama

Reportase Pilihan

  • Polda Metro Jaya menangkap enam pelaku kejahatan jalanan, termasuk jambret ponsel milik bocah di Ciputat yang viral di media sosial. (Foto: Ist)

    Aksi Jambret HP Bocah Viral Berakhir, 6 Begal Lainnya Turut Diciduk Polisi

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Tama
    • 0Komentar

    Jakarta, ReportaseNews – Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menangkap enam pelaku kejahatan jalanan yang beraksi di sejumlah wilayah Jakarta dan sekitarnya. Salah satu tersangka merupakan pelaku penjambretan telepon genggam milik seorang anak kecil di Ciputat, Tangerang Selatan, yang videonya sempat viral di media sosial. ‎Penangkapan dilakukan oleh Tim Pemburu Begal Ditreskrimum Polda Metro […]

  • Diperiksa Penyidik, Korban Beberkan Kronologi Dugaan Malapraktik RS Permata Madina

    Diperiksa Penyidik, Korban Beberkan Kronologi Dugaan Malapraktik RS Permata Madina

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle RN-03
    • 0Komentar

    Madina, ReportaseNews – Korban dugaan malapraktik Rumah Sakit (RS) Permata Madina Panyabungan, RSH (18) bersama kedua orangtuanya dan Tim Pendamping Hukum, Musuwari dan Ridwan, memenuhi panggilan penyidik Satreskrim Polres Mandailing Natal (Madina), Kamis (18/6/2026). Korban mendatangi Polres Madina untuk menjalani pemeriksaan perdana sebagai pelapor sekaligus membeberkan secara rinci kronologi penanganan medis yang mengakibatkan tangan kirinya […]

  • Tim URC Polres Ende Tangkap Ojek yang Ancam dan Cabuli Remaja Perempuan 

    Tim URC Polres Ende Tangkap Ojek yang Ancam dan Cabuli Remaja Perempuan 

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Didik
    • 0Komentar

    Kupang, ReportaseNews – Seorang pria yang bekerja sebagai  ojek di Kota Ende, Kabupaten Ende, NTT, berinisial YDD ditangkap polisi usai melakukan pengancaman dengan pisau dan mencabuli seorang pelajar perempuan berusia 16 tahun berinisial MFMN. Tindak pidana  pengancaman dan pencabulan tersebut terjadi pada Senin (1/6) dinihari sekitar pukul 01.40 wita di rumah tersangka YDD . Kapolres […]

  • Krisis Kepercayaan Mengintai? BI Didesak Jelaskan Dugaan “Bank dalam Bank”

    Krisis Kepercayaan Mengintai? BI Didesak Jelaskan Dugaan “Bank dalam Bank”

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • account_circle Admin Situs
    • 0Komentar

    Jakarta, Reportasenews— Isu sensitif kembali menghampiri sektor keuangan nasional. Dugaan praktik “bank dalam bank” di Bank Indonesia (BI) pernah mencuat pada era penyaluran BLBI kini kembali disorot setelah Andri Tedjadharma, pemegang saham Bank Centris International menjadi korban dalam melakukan perjalanan jual beli promes disertai penyerahan dengan Bank Indonesia. Andri menyampaikan peringatan soal potensi risiko terhadap […]

  • Bongkar Kasus Korupsi dan Satwa, 9 Polisi Sidimpuan Diganjar Penghargaan

    Bongkar Kasus Korupsi dan Satwa, 9 Polisi Sidimpuan Diganjar Penghargaan

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle RN-03
    • 0Komentar

    Padangsidimpuan, ReportaseNews – Kapolres Padangsidimpuan AKBP Wira Prayatna menganugerahkan penghargaan kepada sembilan personel berprestasi yang sukses membongkar kasus korupsi bernilai miliaran rupiah dan perdagangan satwa dilindungi. Penghargaan diberikan bertepatan dengan upacara HUT ke-80 Bhayangkara di Mapolresta Padangsidimpuan, Senin (1/7/2026). Hal ini menjadi sorotan karena Korps Bhayangkara di tingkat lokal membuktikan taringnya dalam menyasar dua lini […]

  • Dirresnarkoba Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ahmad David bersama jajarannya membongkar clandestine lab ekstasi dan happy water di apartemen Cipinang, Jakarta Timur. Dua tersangka ditangkap, polisi sita bahan baku 16,6 kilogram. (Foto: RN/HO-Ditresnarkoba Polda Metro Jaya)

    Polisi Bongkar Lab Ekstasi di Apartemen Basura

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Tama
    • 0Komentar

    Jakarta, ReportaseNews – Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya mengungkap praktik laboratorium klandestin atau laboratorium gelap pembuatan narkotika jenis ekstasi dan “happy water” di sebuah apartemen kawasan Cipinang, Jakarta Timur. ‎Pengungkapan dilakukan Unit 5 Subdit 3 Ditresnarkoba pada Senin (30/3/2026), sekitar pukul 19.00 WIB. Polisi lebih dulu menangkap dua pria berinisial K (32) dan S […]

expand_less