Begalan Banyumas, Humor yang Sisipkan Nasihat Rumah Tangga
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Tradisi Begalan dalam pernikahan adat Banyumas tak sekadar hiburan. Setiap perlengkapan yang dibawa menyimpan simbol dan nasihat bagi pasangan pengantin. (Kus)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyumas, ReportaseNews — Tradisi Begalan masih bertahan di tengah masyarakat Banyumas dan kawasan Barlingmascakeb. Kesenian yang biasanya hadir dalam prosesi pernikahan adat Jawa ini tidak hanya menyuguhkan humor, tetapi juga menyampaikan nasihat rumah tangga melalui berbagai perlengkapan simbolis yang disebut bubah kawak.
Pertunjukan Begalan digelar dalam pernikahan Diki dan Devita di Kelurahan Karangklesem, Purwokerto Selatan, Banyumas. Dua pemain dari Sanggar Gading Kusumah, Banteran, Sumbang, yakni Wahyu Limanto dan Nuri Purnomo, membawakan pertunjukan dengan dialog, lawakan, sekaligus pesan kehidupan bagi pasangan pengantin.
Sejumlah perlengkapan dibawa dalam pertunjukan tersebut. Setiap benda memiliki makna tersendiri yang disampaikan melalui percakapan antar-pemain dengan gaya jenaka sehingga pesan yang diberikan lebih mudah diterima.
Wahyu Limanto mengatakan salah satu pesan dalam Begalan disampaikan melalui tampah. Benda tersebut menjadi simbol agar pasangan pengantin mampu menata perilaku dalam menjalani kehidupan rumah tangga dan menjaga kesetiaan.
“Begalan merupakan adat turun-temurun dalam pernikahan Jawa di Banyumas. Maknanya memberikan nasihat kepada pengantin melalui alat-alat atau bubah kawak,” ujar Wahyu, Kamis (17/9/2026).
Selain tampah, terdapat pula gayung, cobek, centong, hingga padi. Perlengkapan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari properti pertunjukan, tetapi memiliki simbol yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga dan harapan bagi pasangan pengantin.
Usai pertunjukan, sejumlah perlengkapan kemudian diperebutkan warga. Sebagian masyarakat masih mempercayai benda-benda tersebut memiliki makna keberkahan.
Salah seorang warga, Ria Nurohmah, mendapatkan padi dan centong dalam perebutan perlengkapan Begalan. Ia berharap benda tersebut membawa makna kesuburan sekaligus menambah rezeki.
Di sisi lain, keberadaan Begalan juga menjadi ruang bagi para pelaku seni untuk mempertahankan warisan budaya Banyumas. Kesenian tersebut terus dipentaskan dalam acara pernikahan sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Untuk sekali pementasan, kelompok seni Begalan memasang tarif sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta. Besaran biaya tersebut menyesuaikan paket pagelaran yang dipilih oleh pihak penyelenggara.
Tradisi Begalan menunjukkan bahwa hiburan dalam prosesi pernikahan adat Banyumas dapat sekaligus menjadi media penyampaian nilai kehidupan. Di balik lawakan dan perlengkapan yang tampak sederhana, tersimpan pesan agar pasangan pengantin mampu menjalani kehidupan rumah tangga dengan sikap saling menjaga, menata perilaku, dan membangun kehidupan bersama.
(Kus)
- Penulis: Kus
- Editor: Tama




Saat ini belum ada komentar