Inkonsistensi Penilaian Juri Lomba Cerdas Cermat MPR di Kalbar Jadi Sorotan
- calendar_month 7 jam yang lalu
- print Cetak

Dewan juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat menuai kritik tajam netizen. (FOTO: ISTIMEWA)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Dewan juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menuai kritik tajam netizen setelah potongan video babak final yang menunjukkan ketidakkonsistenan penilaian viral di media sosial.
Dalam tayangan tersebut, juri memberikan poin sempurna kepada satu peserta, tetapi memberikan nilai penalti kepada peserta lain, meski keduanya melontarkan kalimat jawaban yang secara substansi dan redaksi dianggap identik oleh penonton.
Peristiwa ini bermula saat Grup C dari SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan mengenai pertimbangan wajib DPR dalam memilih anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Perwakilan Grup C menjawab bahwa anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh Presiden.
Namun, juri Dyastasita langsung memberikan nilai minus lima dengan dalih unsur “DPD” tidak disebutkan dalam jawaban tersebut.
Suasana memanas ketika Grup B dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang sama persis dengan apa yang diucapkan oleh Grup C sebelumnya. Secara mengejutkan, Dyastasita justru memberikan nilai sempurna 10 poin kepada Grup B dan menyatakan inti jawaban mereka sudah benar.
Sontak, peserta dari SMAN 1 Pontianak melayangkan protes keras di atas panggung karena merasa diperlakukan tidak adil atas jawaban yang serupa.
Menanggapi protes tersebut, dewan juri bersikukuh pada keputusan mereka dengan menekankan faktor kejelasan suara saat menjawab.
Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR Indri Wahyuni menegaskan teknis penyampaian merupakan bagian dari penilaian yang mutlak di tangan juri.
“Begini ya, kan sudah diperingatkan dari awal ya, artikulasi itu penting, ya. Jadi, biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas. Kalau menurut kalian sudah, tapi Dewan Juri menilai kalian tidak karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, ya itu artinya Dewan Juri berhak memberikan nilai -5,” kata Indri saat memberikan penjelasan kepada peserta yang memprotes.
Keputusan itu memicu perdebatan luas di kolom komentar media sosial. Publik mempertanyakan objektivitas juri dalam lomba tingkat negara tersebut. Meskipun juri beralasan pada aspek artikulasi, banyak pihak menilai perbedaan perlakuan terhadap jawaban yang secara auditif terdengar sama telah mencederai sportivitas kompetisi pendidikan tersebut. (RN-03)
- Penulis: RN-03




Saat ini belum ada komentar