Menyoroti Kinerja Mou di Man U

Kritik pedas mulai gencar diarahkan oleh penggemar Man U dan para pundit sepakbola Inggris yang sangar dalam dua minggu belakangan ini. Hampir semua komentator ahli sepakbola itu menyerang taktik dan komposisi pemain Man U yang tak pernah sama dari laga ke laga. Setidaknya ini tampak jelas di lini tengah mereka.

Coach Mourinho, menuurut mereka, tak pernah mempertahankan formasi gelandang yang sama untuk setidaknya tiga partai berturut-turut.

Pada satu pertandingan, yang skor akhirnya lagi-lagi bukan menjadi keberuntungan Man U, Mou memainkan Paul Pogba bersama Michael Carrick dan Juan Mata, misalnya. Lalu, pada laga berikut, komposisi berubah. Manager yang temperamental itu mengganti Carrick dengan Ander Herrera atau Marruone Fellaini.

Memang saat Man U kalah lagi, atau kembali hanya bermain seri, maka Coach Mourinho langsung mengubah komposisi starter timnya pada partai selanjutnya. Begitulah seterusnya, dan ini praktis sudah berlangsung sejak awal musim kompetisi.

“Saat dia membesut Chelsea, terutama di periode awalnya, Mou berhasil memaksimalkan momentum, karena dia sesungguhnya manager yang ditolong momentum. Sekarang situasi tidak lagi demikian,” kata Martin Keown dalam wawancara dengan BBC Sport minggu lalu.

Pressure is mounting. Ya, tekanan tambah hebat terhadap Mou. Apalagi, laga pekan ini dimainkan di Stadion Old Trafford. Bagi Manchester United tak ada pilihan lain kecuali menang atas Spurs. Namun, target ini bakal tak mudah. Terutama jika Coach Mourinho masih terus bongkar pasang komposisi timnya.

Tak terbayangkan kalau Man U sampai kalah nanti.

Apakah Coach Jose Mourinho masih tetap mengatakan timnya unlucky alias tak beruntung? Dipastikan, bila itu terjadi, Mou akan tambah frustrasi karena kekalahan akan semakin menjauhkan Manchester United dari peringkat empat klasemen yaitu batas terakhir untuk lolos ke Liga Champions.