Myanmar, reportasenews.com – Pemimpin sipil Myanmar Aung San Suu Kyi akhirnya berbicara mematahkan kebisuannya pada krisis Rohingya pada hari Selasa (19/9), dalam sebuah pidato yang bertujuan untuk meredam tudingan komunitas internasional yang merasa ngeri oleh kekerasan yang dipimpin militer yang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa digambarkan sebagai kondisi “pembersihan etnis”.
Berikut adalah poin penting dari pidato 30 menit, yang disiarkan secara nasional dan disampaikan dalam bahasa Inggris:
1) Ikut merasakan kepedihan.
Suu Kyi tetap menghindari penggunaan istilah “Rohingya” – sebuah kata yang di negara mayoritas Buddha ini menolak untuk menggunakannya. Mereka mengatakan bahwa Muslim Rohingya bukanlah kelompok etnis yang berbeda, namun imigran ilegal dari Bangladesh.
Namun, dia mengungkapkan keprihatinan atas “penderitaan semua orang” yang terbawa dalam kekerasan terbaru, ini merupakan kalimatnya yang “paling baik menunjukan belas kasihan” bagi 410.000 orang Rohingya yang telah meninggalkan negara bagian Rakhine ke Bangladesh.
“Kami merasakan penderitaan yang dalam bagi semua orang yang terjebak dalam konflik. Mereka yang harus meninggalkan rumah mereka cukup banyak. Bukan hanya Muslim dan (etnis) Rakhines, tapi juga kelompok minoritas kecil,” katanya.
2) Menghindari aksi tunjuk hidung.
Sementara Suu Kyi mengakui intensitas kekerasan tersebut, namun dia menolak untuk menyalahkan kelompok tertentu.
Pengungsi Rohingya, kelompok hak asasi manusia dan PBB menuduh massa militer dan massa Buddhis menggunakan peluru dan pembakaran untuk mengusir Rohingya dalam kampanye pembersihan etnis yang sistematis.
Tentara dan pemerintah, sementara itu, telah membela operasi militer tersebut sebagai tindakan keras yang sah terhadap gerilyawan Rohingya yang telah menyerang pos polisi pada akhir Agustus, sehingga menewaskan sekitar belasan petugas pemerintah.
“Saya mengerti bahwa banyak teman kami di seluruh dunia prihatin dengan laporan desa-desa yang dibakar dan gerombolan pengungsi melarikan diri,” kata Suu Kyi.
“Kami juga prihatin. Kami ingin mengetahui apa masalahnya sebenarnya. Ada tuduhan dan bantahan, dan kami harus mendengarkan semuanya Kami harus memastikan bahwa tuduhan tersebut didasarkan pada bukti yang kuat sebelumnya kami mengambil tindakan”.
Dia bersumpah untuk bertindak melawan orang-orang yang melanggar hukum atau hak asasi manusia, “terlepas dari agama, ras atau posisi politik mereka”.
3) Siap melakukan repatriasi.
Suu Kyi memberikan janji yang paling konkret adalah sebuah sumpah untuk memulai sebuah “proses verifikasi” untuk memulangkan orang-orang yang telah melarikan diri.
“Ada seruan untuk memulangkan kembali pengungsi yang telah melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh. Kami siap untuk memulai proses verifikasi setiap saat,” kata Suu Kyi.
Dia mengatakan pemulangan tersebut akan mengikuti prinsip kesepakatan dengan Bangladesh pada awal 1990an yang memungkinkan kembalinya Rohingya yang bisa membuktikan tinggal di Myanmar.
“Kami akan mematuhi kriteria yang disepakati pada saat itu,” kata Suu Kyi. “Mereka yang telah diverifikasi sebagai pengungsi dari negara ini akan diterima tanpa masalah dan dengan jaminan penuh atas keamanan dan akses mereka terhadap bantuan kemanusiaan.”
Tapi verifikasi akan rumit. Kebanyakan penduduk Rohingya melarikan diri dengan beberapa barang ditinggal begitu saja rumah – sebagian adalah dokumen kependudukan – telah dibakar.
4) Tengoklah sendiri kemari.
Suu Kyi meminta pengamat luar untuk mengunjungi Myanmar dan melihat situasinya sendiri – meski ada pembatasan ketat yang telah diberikan pemerintahnya untuk akses ke zona konflik di Rakhine utara.
Bantuan kemanusiaan telah dikurangi secara ketat di wilayah ini sejak akhir Agustus dan media hanya diizinkan memasuki daerah tersebut dalam kunjungan pemerintah.
“Kami mengundang Anda untuk bergabung dengan kami, untuk berbicara dengan kami, untuk berdiskusi dengan kami, untuk pergi bersama kami ke area bermasalah, di mana kami dapat menjamin keamanan untuk Anda,” katanya.
“Kami ingin Anda bergabung dengan kami di sana, lihat sendiri apa yang terjadi, pikirkan sendiri, apa yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi masalah ini?”
5) Myanmar minta waktu.
Suu Kyi meminta pemahaman tentang kemunculan Myanmar dari pemerintahan militer selama beberapa dekade.
Tentara melonggarkan monopoli kekuasaannya pada tahun 2011 namun tetap memegang kendali atas kebijakan keamanan dan cabang-cabang penting pemerintahan lainnya.
“Birma adalah negara yang kompleks seperti yang Anda semua tahu,” kata Suu Kyi. “Dan kompleksitasnya diperparah oleh kenyataan bahwa orang mengharapkan kita untuk mengatasi semua tantangan ini sesingkat mungkin.”
“Kami adalah negara demokrasi yang masih muda dan rapuh yang menghadapi banyak masalah, tapi kita harus mengatasi semuanya sekaligus, kita tidak bisa hanya berkonsentrasi pada beberapa hal.”
“Sangat menyedihkan bahwa dalam pertemuan dengan komunitas diplomatik saya, saya berkewajiban untuk berfokus hanya pada sedikit masalah saja, padahal ada banyak hal yang menurut saya bisa kami selesaikan bersama.” (Hsg)

