Indonesia Bersyukur…. Timnas Pantang Takabur”
Penulis : Iwan Ahmad Sudirwan – mantan Producer/ Penyiar BBC World Service, London
Alhamdulillah… Jujur, inilah ungkapan penulis usai Indonesia memastikan kemenangan atas Singapura pada pertandingan terakhir Grup A Piala AFF di Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina, pada Jum’at malam lalu. Tim Garuda memukul the Lions 2-1 dalam laga yang berlangsung sangat dramatis!
Bangsa Indonesia, khususnya publik sepakbola nasional, wajib bersyukur atas pencapaian Timnas ini. Terbukti! Semangat pantang menyerah, percaya diri namun tetap rendah hati, ternyata mampu mengantarkan Indonesia melaju ke semifinal Piala AFF 2016!

Wajar, karenanya, beberapa hari belakangan ini masyarakat Indonesia bersemangat sekali jika berbicara mengenai Timnas. Nada positif dan apresiatif terhadap Timnas kini terdengar dalam perbincangan di banyak tempat mulai dari café maupun resto, tempat nongkrong kalangan affluent, sampai warung-warung kopi pinggiran jalan.
Terpancar kembali kebanggaan yang sempat hilang akibat sanksi FIFA dan periode minim prestasi selama beberapa tahun sebelum Indonesia dikucilkan dari pergaulan sepakbola internasional. Tim Garuda kini mulai menjadi buah bibir dan kebanggaan baru bangsa ini yang, mungkin, sudah sumpek dengan kesulitan ekonomi dan kegaduhan politik. Jadi, terbukti setidaknya untuk saat ini, Timnas adalah pelipur lara sekaligus tumpuan harapan baru bagi Indonesia.. Tetapi, di depan mata dua partai sulit telah menanti, maka selayaknya Timnas jangan dulu berpuas diri!
Habis Sanksi, Raihlah Prestasi
Minggu lalu, dalam ulasan menjelang partai Indonesia kontra Singapura, penulis menyadari telah terbawa semangat nasionalisme sehingga justru memilih angle tentang peluang Timnas untuk mengatasi Singapura. Sekarang, banyak diantara kita hanyut dalam nasionalisme yang meluap-luap, larut dalam euphoria..
Ini suatu perasaan luar biasa yang, penulis yakin, menguasai setiap individu yang bangga menjadi orang Indonesia. Setelah sempat setahun lebih menderita akibat sanksi FIFA, menyusul kisruh sepakbola nasional, kini saatnya Indonesia harus berani menggapai prestasi!
Sekarang Timnas memang baru menapak ke semifinal, belum final. Itu betul. Tapi, kita sadar bahwa realitas persaingan sepakbola di kawasan Asia Tenggara kini semakin ketat karena semua negara mencoba memacu kinerja tim nasional masing-masing dengan sangat serius dan keras.
Faktanya, Singapura dan Malaysia bahkan tuan rumah Filipina saja tersingkir di penyisihan grup Piala AFF kali ini. Kita tahu Malaysia memiliki kompetisi liga yang rapi dan lebih punya capital dibanding kompetisi disini.
Peluang yang sekarang terbentang untuk melangkah lebih jauh di kancah sepakbola antar negara yang diakui FIFA ini harus diambil dan dimaksimalkan oleh Timnas. Para pemain dan tim pelatih, bahkan kita semua masyarakat Indonesia ingin Tim Garuda terbang meraih prestasi tinggi.
Untuk Laga Semifinal, Timnas Sudah Punya Modal
Partai semifinal Piala AFF 2016 melawan Vietnam merupakan semifinal pertama bagi Indonesia setelah selalu gagal di babak penyisihan grup Piala AFF sejak 2012.
Laga semifinal akan dimainkan dalam dua leg yakni kandang dan tandang. Indonesia bertindak sebagai tuan rumah pada hari Sabtu 3 Desember 2016. AFF dan PSSI telah resmi menunjuk Stadion Pakansari Bogor, Jawa Barat, sebagai tempat Timnas melayani perlawanan Vietnam. Setelah itu, Indonesia akan melakoni laga tandang di Vietnam pada tanggal 7 Desember 2016.
Sudahkah Indonesia punya modal untuk menghadapi dua laga nan berat ini? Coba sejenak kita flashback dulu ke partai penyisihan grup lalu.
Kebetulan terbukti, bahwa beberapa aspek yang penulis bayangkan terkait strategi dan taktik dalam menghadapi Singapura, ternyata, sesuai dengan apa yang diterapkan oleh Coach Timnas, Alfred Riedl.
Yang pertama tentu saja skema permainan menyerang dalam formasi 4-4-1-1 yang dinamis. Kedua, Bayu Pradana dimainkan sebagai starter di posisi gelandang bersama Stefano Lilipaly. Evan Dimas didorong sedikit ke depan guna mendukung penyerang tengah Boaz Solossa. Ketiga, Timnas memilih bermain ofensif, fully attacking!
Andik Vermansah mencetak gol indah lewat sebuah tendangan first time untuk menyamakan kedudukan, 1-1. Lalu, lima menit sebelum akhir, gol kemenangan itu pun tercipta. Stefano Lilipaly menceploskan bola ke gawang Singapura juga melalui tendangan first time!
Riedl selalu menurunkan kapten Boaz Solossa, Rizki Pora, dan Andik Vermansah sebagai starter di lini depan. Menemani mereka ada Lerby Eliandri (pada partai lawan Thailand dan Filipina) atau Evan Dimas Darmono pada laga kontra Singapura.
Jadi, modal pertama yang telah dimiliki Timnas adalah komposisi dan skema permainan yang pas! Ini dibuktikan dengan susunan pemain-pemain starter yang boleh dibilang hampir final, atau mulai jadi pakem!
Kedalaman Skuad Juga Modal Kuat
Substitute untuk Andik, Lerby atau Evan, selalu Zulham Zamrun dan Ferdinand Sinaga. Masuknya kedua pemain ini pada partai kontra Singapura terbukti sangat efektif. Zulham dan Ferdinand mampu berkombinasi dengan Boaz, saling membuka ruang saat salah seorang rekannya sedang pegang bola, atau melakukan dribble dengan arah yang bikin bingung lawan.
Coach Alfred Riedl sangat cerdas! Dia ternyata telah menyiapkan formula dan strategi pergantian pemain yang memberi efek berbeda, bahkan, sangat mengejutkan lawan.
Di lini tengah, starter Timnas awalnya adalah pasangan Stefano Lilipaly-Evan Dimas. Namun, pada laga yang menentukan kontra Singapura itu kembali Riedl menunjukkan kapasitasnya sebagai jago strategi yang jeli dengan memainkan Bayu Pradana sebagai starter bersama Stefano Lilipaly di tengah, sedangkan Evan Dimas diminta bermain lebih ke depan mendampingi striker Boaz Solossa yang merangkap kapten Timnas.
Selama babak pertama, kombinasi ini memang tak menghasilkan tekanan hebat yang konstan terhadap lawan, tak pula supply umpan matang bagi Boaz Solossa. Tapi, minimal Indonesia tidak didikte lawan di lapangan tengah.
Barulah, pada saat lawan mulai mengalami kelelahan, Coach Riedl menurunkan super subs andalannya Zulham Zamrun dan Ferdinand Sinaga, hampir berbarengan. Tak ayal kecepatan, dribble, dan agility keduanya langsung memporakporandakan pertahanan lawan.
Sesungguhnya, dengan materi pemain-pemain seperti ini, banyak opsi kombinasi serangan yang bisa diterapkan Timnas. Apalagi mereka semua tengah on-fire.
Lini Belakang Perlu Lebih Disiplin, Terorganisir dan Komunikatif
Sektor yang paling sering disorot dalam tiga penampilan Timnas adalah lini belakang karena kebobolan tujuh gol. Bahkan, beberapa gol diantaranya tergolong gol mudah atau akibat dari kecerobohan sendiri.
Barisan belakang hingga penjaga gawang Timnas agaknya merupakan lini yang, dalam pandangan Riedl, sudah given. Tak bisa diganggu gugat. Kurnia Meiga adalah penjaga gawang nomor satu. Tapi, Andritany Ardyasa dan Teja Paku Alam juga sangat siap untuk tampil bila diperlukan.
Sementara, dua fullback pastilah M. Abduh Lestaluhu di kiri dan Benny Wahyudi di kanan. Dua bek jangkung, Fachruddin Aryanto dan Rudolof Yanto Basna, seolah dipatenkan oleh Riedl sebagai duet palang pintu. Tapi keduanya akan absen dalam laga kontra Vietnam akibat akumulasi kartu kuning. Sungguh disayangkan.
Tetapi mungkin ada blessing, hikmah, di balik ini. Absennya Fachruddin dan Yanto Basna memberi kesempatan bagi Gunawan Dwi Cahyo, Manahati Lestusen ataupun Hansamu Yama Pranata. Boleh jadi pasangan bek di jantung pertahanan Timnas adalah Gunawan-Manahati, namun mungkin pula Coach Riedl memilih Hansamu untuk mendampingi Gunawan.
Peran Gunawan nanti akan mirip Fachruddin. Bek tengah yang lebih cenderung menguasai kontrol atas wilayah pertahanan dari tengah ke kiri. Eks punggawa Tim Merah Putih pada SEA Games 2011 ini adalah pemain kidal, kaki kirinya sangat kuat. Namun, Gunawan juga punya kemampuan menyundul bola yang sangat bisa diandalkan untuk menjebol gawang Vietnam. Mirip Fachruddin. Dia punya insting gol yang tajam.
Sekarang, selain lebih matang, Gunawan juga lebih cerewet, dalam arti positif, dalam menjalin komunikasi dengan rekan-rekannya di benteng pertahanan. Rasanya, Gunawan akan mampu bekerjasama harmonis dan membangun saling pengertian tinggi baik dengan Hansamu atau, Manahati, bila pelatih lebih memilih opsi untuk mengamankan bola-bola bawah dan umpan lawan yang menusuk cepat. Untuk skema ini, agaknya Manahati memang lebih cocok.
Mencari Taktik dan Strategi Tepat Untuk Benam Vietnam
Meladeni Vietnam bukanlah pekerjaan enteng.
Tim dari negeri Paman Ho itu memiliki ciri permainan cepat, kompak, sangat gigih dan tak kenal takut. Secara teknis, Timnas pastilah tak kalah dari Vietnam. Berkaca pada dua pertandingan persahabatan antara Timnas dan Vietnam, beberapa pekan sebelum perhelatan Piala AFF, kita bisa analisis perimbangan antara kedua tim. Indonesia menahan imbang lawan, 2-2, di Solo, lalu sebulan kemudian, giliran tampil di kandang Vietnam, Timnas dipaksa menyerah 2-3.
Untuk level Asia Tenggara, Vietnam telah menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan. Kata banyak pemerhati bola Vietnam mulai memetik buah pembinaan sepakbolanya yang serius dan terukur. Bahkan, menurut mantan penyerang tengah andalan Indonesia, Ricky Yacob, kini Vietnam hanya sedikit di bawah Thailand.
“Vietnam sekarang mainnya rapi dan terorganisasi. Pemain-pemainnya berkarakter cepat dan yang sangat menonjol adalah kekompakan merekaâ€, kata Ricky Yacob, striker Timnas era 80-an hingga 90-an yang antara lain pernah dua kali turut membawa Indonesia meraih medali emas SEA Games termasuk Manila 1991 dimana saat itu Indonesia juga membekuk Vietnam.
Pemain Vietnam yang paling berbahaya dan perlu perhatian, bahkan pengawalan ketat, adalah striker Le Cong Vinh. Pemain ini tak sekedar penyerang andalan Vietnam, tapi dia juga berperan sebagai reference sekaligus lokomotif permainan timnya.
Tidak terlalu jangkung, tapi Cong Vinh kerap memenangkan duel bola atas, dan sering membuat bek-bek lawan kecolongan dengan sprint kejut yang menjadi satu lagi senjatanya. Dia pun pintar pula mencuri peluang, sekecil apapun itu. Memang, biasanya, Cong Vinh seolah-olah menghilang dari permainan, tapi dia tahu betul soon or later rekan-rekannya pasti memberikan bola ke arahnya. Perlukah ada pemain yang khusus dan fokus mengawal Le Cong Vinh? Kita pastikan tim pelatih telah memikirkannya.
Indonesia Menuju Gelar Juara AFF yang Pertama
Never change the winning team! Begitu kata ungkapan. Apakah Coach Alfred Riedl akan tetap mempertahankan formasi yang sama (kecuali di posisi bek tengah) pada partai semifinal pertama kontra Vietnam di Stadion Pakansari Bogor pada hari Sabtu mendatang?
Dengan catatan bahwa pemain-pemain yang menjadi starter pada laga terakhir di penyisihan grup dalam kondisi fit, maka dipastikan merekalah yang akan dimainkan oleh Riedl sejak awal nanti.
Indonesia harus bermain maksimal, mengambil inisiatif serangan sejak kickoff! Namun, tentu, tetap dengan kewaspadaan penuh, full alert, mulai lini tengah hingga penjaga gawang sebagai antisipasi serangan balik lawan yang cepat. Ancaman dari Vietnam tak hanya berasal dari penyerang mereka Le Cong Vinh karena para gelandang dan sayap mereka juga sangat cepat.
Maka, untuk menahan kecepatan lawan itu, publik bola Indonesia layak sepakat dengan Riedl jika dia memainkan Rizki Pora sebagai starter di posisi sayap kiri dan Andik Vermansah di kanan. Lapangan tengah Timnas rasanya akan tetap dipercayakan pada Stefano Lilipaly dan Bayu Pradana karena kualitas mereka. Tapi juga karena mereka punya mobilitas tinggi.
Siapa yang akan mendampingi Boaz Solossa untuk menggedor pertahanan lawan? Bisa Evan Dimas, bisa jadi Lerby Eliandri. Ini sepenuhnya keputusan Coach Alfred Riedl. Ini juga tak terlepas dari pilihan formasi atau pola yang dipilih pelatih. Apakah tetap 4-4-1-1 atau 4-3-3?
“Pelatih paling paham kondisi para pemain berdasarkan latihan menjelang pertandingan. Jadi, Riedl tahu betul formasi terbaik dan paling efektif buat Timnas. Yang jelas, ada harapan kita menang lawan Vietnamâ€, kata Ricky Yacob.
Ya, memenangkan pertandingan lawan Vietnam pada laga pertama semifinal Piala AFF. Itulah harapan jutaan pendukung Timnas! Itulah doa dan harapan segenap bangsa! Optimisme dan semangat tinggi patut dan wajib digelorakan para pemain Indonesia di dada mereka.
Ayo Garuda, cengkeram dan benamkan Vietnam! Menang di semifinal, Timnas melaju ke final.. Ayo, Garuda rebut gelar juara AFF yang pertama kali buat Indonesia..!

