Yogyakarta, reportasenews.com – Suara dentuman bom dan letusan tembakan memekikkan telinga warga Yogyakarta, Minggu (05/03), hari ini. Sejumlah orang berpakaian layaknya tentara Belanda terlibat pertempuran sengit dengan para pejuang Republik Indonesia.
Sejumlah warga yang menyaksikan, berdecak kagum. Namun ini semua bukanlah pertempuran sungguhan, melainkan reka ulang para pegiat sejarah dalam rangka memperingati serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.
Acara ini diikuti ratusan anggota komunitas Reenactor dari Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Balikpapan bersama warga Yogyakarta yang tergabung dalam Paguyuban Wehrkreise (PWK) III, dan sejumlah reenactor (pegiat sejarah) lintas daerah.
Mereka berkostum layaknya tentara Belanda dan pejuang kemerdekaan RI. Akurasi yang benar-benar terjaga, bahkan hingga ke replika senjata yang digunakan.
Menurut salah satu reenactor asal Bandung Satya Krisnawan (44), acara yang diadakan di halaman Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta ini untuk memperingati, serangan umum yang dikenal peristiwa 6 Jam di Yogyakarta. Hal itu selalu menjadi ingatan bangsa Indonesia ketika  ibukota RI berada di Yogyakarta.
“Walaupun republik hanya bisa mempertahankan Jogja selama 6 jam, dari jam 6 sampai jam 12. Namun itu bisa membuktikan bahwa TNI masih utuh tdk hancur oleh tentara belanda,” tegas Satya.
Satya juga menambahkan, acara semacam ini bertujuan untuk memupuk rasa nasionalisme terhadap sejarah bangsa Indonesia.
“Kalau saya disini ikut memperingati salah satu tonggak sejarah berdirinya RI. SO (Serangan Oemoem 1 Maret) merupakan titik balik perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan yang sudah dideklarasikan oleh Bapak Bangsa Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945,” kata Satya.
Adegan reka ulang diawali dengan peristiwa agresi militer Belanda II dengan merebut Lapangan Udara Maguwo. Kegiatan yang dilakukan berbagai komunitas penggiat sejarah ini menjadi acara menarik setiap tahun di gelar di halaman Benteng Vredeburg.
Tidak hanya mereka ulang sejarah, Firman Hendriyansyah (35), mengatakan, kegiatan juga diisi dengan berziarah ke Taman Makam Pahlawan di Yogyakarta untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam pertempuran 6 jam di Jogja.
“Acaranya teatrikal Serangan Umum 1 maret jogja, setelah itu ziarah ke TMP kusumanegara,” kata Firman reenactor dari Bandung.
Acara juga dimeriahkan sejumlah kendaraan tempur milik Kodam 3 Siliwangi, seperti kendaraan Daimler Dingo scout car yang terlihat klasik
Ranpur (kendaraan tempur) diterjunkan. (ist)
Ranpur (kendaraan tempur) diterjunkan. (ist)
Seperti diketahui, Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah serangan yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan instruksi dari Panglima Divisi III.
Hal itu untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI – berarti juga Republik Indonesia – masih ada dan cukup kuat, sehingga dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda. Selain itu, untuk membuktikan pada dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan. Soeharto pada waktu itu sebagai komandan brigade X/Wehrkreis III turut serta sebagai pelaksana lapangan di wilayah Yogyakarta. (Tam)