Amerika, reportasenews.com: Keputusan kontroversial Donald Trump menutup AS bagi masuknya pengungsi perang dari Irak, Suriah dan sekitarnya mendulang reaksi dari CEO Starbuck, Schultz.
Schultz, yang bulan lalu mengumumkan ia akan mengundurkan diri sebagai CEO tapi tetap sebagai ketua eksekutif, mengatakan perusahaan telah melakukan kontak langsung dengan karyawan yang terkena larangan imigrasi.
Schultz mengatakan akan merekrut 10.000 pengungsi sebagai karyawan gerai Starbuck diseluruh dunia. Starbucks akan melipatgandakan upayanya untuk mempekerjakan orang-orang yang melarikan diri dari perang, kekerasan, penganiayaan dan diskriminasi, katanya, dan mempekerjakan 10.000 pengungsi di seluruh dunia dalam lima tahun ke depan.
Di Amerika Serikat, upaya tersebut akan dimulai dengan pekerja yang pernah bekerja dengan pasukan AS sebagai penerjemah dan staf pendukung di sejumlah negara.
Schultz juga mengatakan langkah Starbucks merupakan bagian dari Program Aksi untuk Anak Pendatang (DACA) juga dikenal sebagai “Dreamers” Program, yang diberlakukan pada tahun 2012. Bantuan ini memberikan 750.000 imigran ilegal yang datang ke AS sebagai anak-anak untuk ijin bekerja dan tinggal sementara. (HSG/ Fortune)

