Ketapang, reportasenews.com – Tim gabungan Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), Balai Konservasi Sumber Daya Alam Barat (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi (SKW) I Ketapang Resort Sukadana dan IAR Indonesia mentranslokasikan tiga orangutan korban kebakaran hutan ke kawasan Resort Kubang di dalam areal Taman Nasional Gunung Palung di Desa Batu Barat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Jumat (27/9).

Ketiga orangutan yang diberi nama Arang, Bara dan Jerit ini terpaksa ditranslokasikan karena habitat asal mereka sudah habis terbakar. Arang dan bara diselamatkan di Desa Sungai Awan Kiri, Senin (16/9) sedangkan Jerit diselamatkan di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara pada Sabtu (21/9), meskipun diselamatkan di tempat dan waktu yang berbeda, masalah yang mereka hadapi sama, yaitu kebakaran hutan dan ancaman manusia.

Ketika diselamatkan, kondisi mereka cukup memprihatinkan karena selain badannya sangat kurus , mereka juga mengalami dehidrasi akibat kekurangan makanan. Ditambah lagi dengan ditemukan adanya luka membusuk akibat lilitan jerat di kaki orangutan Jerit dan ditemukan 2 butir peluru di dekat mata orangutan Arang. Kondisi ini menunjukan bahwa selain terancam oleh kebakaran hutan yang menghanguskan rumahnya, orangutan juga rentan mendapat serangan dari manusia ketika terusir dan mencari kehidupan di luar habitat aslinya.

Tim medis IAR Indonesia sudah memastikan kondisi ketiga orangutan ini dalam keadaan baik. “Saat ini kondisi ketiga orangutan ini sudah sehat dan siap dikembalikan ke habitatnya,” ujar Advisor Tim Medis IAR Indonesia, drh. Joost Philippa. “Kami melakukan operasi pengangkatan peluru di muka Arang pekan lalu dan sekarang lukanya sudah sembuh, begitu juga dengan luka akibat jerat di kaki Jerit,” jelasnya lagi.

Tim pelepasan bersiap dari pusat rehabilitasi IAR Indonesia sejak subuh. Tim medis melakukan pemeriksaan terakhir sebelum tim berangkat menuju Batu Barat. Perjalanan darat ditempuh selama 4 jam dan dilanjutkan dengan perahu melintasi sungai selama 1 jam dan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama setengah jam menuju titik pelepasan.

Kawasan Batu Barat yang masuk ke dalam areal Taman Nasional Gunung Palung ini dipilih berdasarkan hasil survey pra-pelepasan yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung dan tim IAR Indonesia. “Berdasarkan survei lapangan yang telah kami lakukan bersama, jumlah populasi orangutan di kawasan ini masih rendah dan jumlah jenis pakan orangutan masih cukup tinggi sehingga lokasi ini sangat cocok untuk mentranslokasikan orangutan. Selain itu, status kawasan sebagai Taman Nasional juga lebih menjamin keselamatan orangutan di dalamnya,” jelas Manager Lapangan IAR Indonesia, Argitoe Ranting. (das)