Penulis :  Iwan Ahmad Sudirwan  –  mantan Producer/Penyiar BBC London

 

TIMNAS  MENGGETARKAN, THAILAND PUN GENTAR!

Insya Allah, selangkah lagi Timnas Indonesia segera mencetak sejarah!

Pada kesempatan kelima tampil di final Piala AFF, Timnas Indonesia sangat berpeluang untuk menjadi juara Piala AFF untuk pertamakalinya.

Ya, itulah tugas dan misi perjuangan Timnas dalam partai hidup mati, leg 2 final Piala AFF, di kandang Thailand, Stadion Rajamanggala, Bangkok, Sabtu 17 Desember 2016 ini.

Dalam hitungan jam saja lagi, putra-putra terbaik bangsa ini akan maju ke medan laga dengan tujuan tunggal:  bermain sepakbola untuk mengalahkan tuan rumah atau mencetak gol sebanyak-banyaknya agar menang atau, setidaknya, meraih hasil imbang!

Coach Alfred Riedl, Assistant Coach Wolfgang Pikal dan seluruh staf tim telah memberikan yang terbaik, mengeluarkan kemampuan terbaik mereka dalam proses membentuk sebuah tim nasional dengan level sangat tinggi dalam setiap aspek permainan sepakbola, dan siap menjalani turnamen yang sangat menguras energi dan emosi.

Timnas yang mereka bentuk dan latih itu, dengan segala keterbatasan terutama minimnya waktu persiapan, kini berada di final! Bahkan telah memenangkan partai pertama final, dan kini tinggal menuntaskan partai kedua.

Iwan Ahmad Sudirwan, mantan Producer/Penyiar BBC World Service, London
Iwan Ahmad Sudirwan, mantan Producer/Penyiar BBC World Service, London

Saya kira masyarakat perlu memahami betapa pencapaian Timnas di ajang Piala AFF 2016 ini, sekali lagi di bawah arahan Coach Alfred Riedl dan timnya, adalah sesuatu yang lebih dari dahsyat. Ini luar biasa!

Meminjam ungkapan dalam bahasa Inggris, pencapaian ini tak sekedar tremendous namun sangat pantas disebut sebagai incredible!

Dalam kondisi itulah, sekaligus dalam status tim yang sangat mengejutkan itu pula, Timnas datang ke kandang lawan dan hal ini benar-benar menggetarkan!

Agaknya baru kali ini, setelah bertahun-tahun, Thailand tertegun. Ternyata, mereka bukan tak terkalahkan di Asia Tenggara. Ternyata, permainan menyerang mereka dapat diredam Timnas dan pertahanan mereka pun bisa ditembus! Bahkan selama Piala AFF ini Indonesia mampu empat kali merobek jala Thailand! Cuma Timnas yang mampu menjebol gawang mereka!

Gol-gol ke gawang Thailand itupun berasal dari empat pemain berbeda dari Timnas Indonesia, bukan cuma striker melainkan juga gelandang bahkan para bek  tengah Indonesia. Pantaslah jika Thailand gentar!

Strategi Pertama :  Kunci Dangda dan Kuasai Lapangan Tengah

Sementara, dari total lima gol Thailand ke gawang Kurnia Meiga empat diantaranya dibuat oleh striker Teerasil Dangda, andalan satu-satunya pasukan negeri gajah di barisan depan.

Dangda andalan satu-satunya? Ternyata, sejauh Piala AFF berjalan, cuma dia yang diandalkan Thailand untuk bikin gol. Pemain-pemain lainnya tak begitu piawai untuk urusan yang satu ini.

Setidaknya rekan-rekannya sangat bergantung pada Dangda, termasuk Chanatip Songkrasin. Betul, Chanatip dan beberapa pemain lain termasuk Sarawut Masuk atau Sarach Yooyen tetap perlu dikawal dan diwaspadai. Namun, terhadap mereka yang dituntut dari Timnas adalah dominasi atas para gelandang tuan rumah itu di lapangan tengah.

Sedangkan Teerasil Dangda harus dan wajib ditempel ketat secara man to man marking sepanjang pertandingan. Lagipula, taktik pengawalan khusus terhadap Dangda terbukti efektif pada laga leg pertama lalu. Kecuali pada satu momen saja yaitu tatkala Fachruddin Aryanto lengah menempel penyerang tengah Thailand itu hingga dia bisa mencetak gol sundulan yang sangat mudah.

Poin dari saya adalah, Teerasil Dangda tak akan terlalu membahayakan kalau dia terus dikuntit, diganggu, dan tak diberi sedikitpun ruang bebas, artinya buatlah Dangda senantiasa membelakangi gawang Kurnia Meiga dan selalu ada minimal satu bek tengah Timnas diantara dia dan gawang Timnas.

Terbukti, Dangda tak terlalu kuat dalam dribble atau menggocek bola untuk melewati hadangan, apalagi jika bek yang harus dia hadapi dalam situasi seperti itu adalah Fachruddin dan atau Hansamu. Melumpuhkan Dangda dengan cara demikian, tanpa lengah sedetik pun, merupakan kunci untuk mengawali kemenangan Indonesia atas Thailand di kandang mereka sendiri.

Untuk itu, disiplin dan koordinasi yang lebih rapi menjadi semakin dibutuhkan diantara para bek dan gelandang Timnas guna memastikan tercapainya tujuan dari taktik ini yang, sangat mungkin, merupakan suatu game plan yang menakutkan bagi Thailand.

Ulas Strategi Timnas :  Mencari Formasi Paling Pas

Coach Alfred Ridel pastilah telah menentukan strategi dan konsep bermain Timnas pada leg 2 final Piala AFF 2016 ini. Mungkin sekali sang Coach memilih strategi main bertahan, tapi sangat mungkin pula Timnas disiapkannya untuk bermain normal bahkan offensive.

Dipastikan pula, Coach Riedl telah mengantongi formasi yang diyakininya terbaik bagi Timnas guna menaklukkan Thailand di hadapan para pendukung mereka sendiri.

Kita saksikan bahwa Coach Riedl terbukti fleksibel terkait formasi Timnas sekalipun pada dasarnya selalu 4-2-3-1 tetapi dalam aplikasinya, sesuai dinamika pertandingan, formasi itu sering bertransformasi cepat ke 4-4-2 atau bahkan 4-3-3. Coach Riedl sangat hebat dalam membaca jalannya laga, dan membuktikan dirinya sangat piawai dalam melakukan penyesuaian formasi dan taktik.

Kita percaya pada pilihan terbaik Coach Riedl. Namun, sekedar usul, sekarang ada kesempatan (bahkan keniscayaan) untuk menurunkan formasi dan komposisi pemain yang akan memperkuat The Winning Team Indonesia.

Opportunity untuk membuat Timnas semakin tangguh sejak awal laga nanti dimulai dengan penunjukkan pemain yang paling pas untuk menempati posisi Andik Vermansah yang harus absen karena cedera.

Opsi yang tersedia, secara normal, adalah memainkan Zulham Zamrun di sayap kanan. Tetapi, kali ini, ada pilihan strategi lain yang bisa lebih menguntungkan Timnas, tapi justru sangat tak diinginkan lawan.

Timnas ditakuti lawan, antara lain, karena memiliki pemain-pemain sayap yang sangat cepat, lincah, jago dalam penetrasi dengan dribble, bahkan mampu mencetak gol.

Rizky Pora, seperti biasa menempati posisi gelandang sayap kiri. Namun, kini Rizky Pora akan mengirim bola crossing, passing dan umpan ke kotak pinalti lawan bukan lagi untuk Boaz Solossa melainkan ke Lerby Eliandri sebagai ujung tombak.

Boaz Solossa sendiri akan menyerang dari sayap kanan, dengan support Stefano Lilipaly sebagai gelandang kanan. Jelas, Boaz punya kemampuan hebat dalam dribbling, dan itu sangat dikhawatirkan Thailand.

Tapi, tugas Boaz tak sekedar melepas umpan dan crossing, namun juga menusuk ke tengah pertahanan lawan. Boaz, dengan segala kapabilitas dan tekniknya, sangat mampu untuk melakukan penetrasi ke dalam kotak pinalti Thailand.

Dari situ, Boaz bisa memilih untuk bermain one-two dengan Lerby, atau shooting dengan kaki kirinya (kaki terkuatnya) atau men-delay sampai bek lawan terpaksa menjatuhkannya.

Bola crossing tinggi dari Rizky Pora dan Boaz Solossa akan membuka peluang gol melalui Lerby Eliandri yang punya kelebihan dalam sundulan. Apalagi kalau Bayu Pradana lebih berani masuk dari secondline untuk menyambut bola tinggi dari kedua sayap Timnas.

Strategi Paling Pas :  Memperkuat The Winning Team Timnas

Khusus Bayu Pradana, dia perlu ditugasi untuk lebih berani naik menyambut umpan dari sayap, mendukung Lerby Eliandri guna lebih membuat bingung para bek lawan, bahkan melakukan tusukan untuk shooting saat memungkinkan.

Sosoknya di jantung pertahanan Thailand, bergantian dengan Stefano Lilipaly, berpotensi menimbulkan kepanikan terhadap bek-bek tengah Thailand, Adison Promrak dan Koravit Namwiset atau Theerathon Bunmathan.

Bayu Pradana mesti lebih berani maju karena memiliki postur tinggi dan tak mudah dijatuhkan para bek lawan itu. Dan, dia juga punya kecepatan serta stamina untuk kembali turun meng-cover lapangan tengah bersama Manahati Lestusen.

Memperkuat The Winning Team Timnas akan lebih efektif, dan pas dengan kebutuhan, ketika Manahati Lestusen diberi peran khusus yaitu mematikan Chanatip Songkrasin di lapangan tengah.

Manahati punya semua kualitas yang dibutuhkan untuk meredam permainan gelandang tim lawan yang paling berbahaya itu. Manahati kuat dalam bertahan, tangguh secara fisik, dan efektif dalam tackling. Manahati juga kuat dalam duel udara. Sesungguhnya, Thailand sangat ngeri pada Manahati.

Gelandang yang pernah diprediksi oleh mantan pelatih timnas Rachmad Darmawan akan menjadi andalan Timnas di masa depan ini, mampu mendorong rekan-rekannya untuk bertarung habis-habisan.

Satu lagi opsi yang bisa dipertimbangkan adalah memainkan Bayu Gatra di sayap kanan. Memang belum pernah tampil, tetapi Bayu Gatra menjanjikan permainan yang membahayakan bagi lawan di sektor sayap kanan.

Bayu Gatra gesit sekaligus ngotot dan bisa bermain sedikit turun untuk melapis para gelandang saat tim ditekan lawan. Bayu Gatra juga punya fighting spirit yang sangat dibutuhkan dan faktor ini sangat klop dengan apa yang menjadi kebutuhan Timnas, yaitu mentalitas petarung.

Gaya bermainnya yang cepat, penuh determinasi dan bernyali itu akan membuat gelandang dan bek kiri lawan mikir-mikir untuk melakukan overlapping.

Saya kira Bayu Gatra akan dapat bekerjasama baik dengan Boaz Solossa dan Stefano Lilipaly. Memang dengan menurunkan Bayu Gatra maka, otomatis, Timnas akan mengandalkan Boaz sebagai striker dan Lilipaly sebagai second striker, dalam pola menyerang dengan formasi 4-4-2 atau 4-4-1-1.

Petarung Timnas Harus Menang Bertarung

Seperti penulis ingatkan sejak laga penentuan di fase grup Piala AFF 2016, lantas semifinal dan final leg pertama, Timnas membutuhkan para petarung di semua lini!

Dan, sejauh ini, semua pemain Timnas membuktikan diri mereka benar-benar petarung sejati! Timnas membuktikan diri, bahwa mereka sangat dapat diandalkan oleh bangsa Indonesia!

Daya juang tinggi, determinasi hebat dan kepercayaan diri yang ada kini wajib ditampilkan lagi oleh para petarung Timnas dalam laga hidup mati di kandang Thailand. Hanya satu laga lagi, Indonesia akan dapat membuktikan diri sebagai tim yang patut disegani!

Mentalitas petarung para pemain Timnas harus dimulai dari lini depan dan barisan gelandang yang wajib menguasai setiap jengkal lapangan tengah.

Ini pada gilirannya akan membantu lini belakang Timnas untuk mengamankan pertahanan dan gawang Kurnia Meiga. Kita harapkan kedua bek sayap, Benny Wahyudi di kanan dan M. Abduh Lestaluhu di kiri, tampil dalam kondisi dan level permainan terbaik mereka.

Mereka berdua perlu lebih waspada, karena boleh jadi lawan telah menyiapkan taktik untuk menembus sektor sayap kiri maupun kanan pertahanan Timnas.

Namun, kedisiplinan tinggi juga semakin diharapkan dari duet bek tengah Timnas Fachruddin Aryanto dan, kemungkinan besar, Hansamu Yama Pranata. Keduanya harus kompak dalam berbagi tugas menempel ketat Teerasil Dangda. Tak boleh lengah lagi.

Permainan lugas dan efektif kini lebih dituntut lagi dari Fachruddin dan Hansamu guna memastikan gawang Kurnia Meiga aman dari ancaman lawan.

Penjaga gawang Kurnia Meiga, yang tampil gemilang dan sangat membanggakan sejak semifinal, diminta tetap fokus dan berkonsentrasi penuh termasuk saat Timnas sedang dalam posisi menyerang. Kurnia harus mewaspadai kemungkinan counterattack lawan agar tak kecolongan.

Masyarakat sepakbola Indonesia percaya Timnas akan maju sebagai petarung sejati ke medan laga hidup mati pada final Piala AFF 2016, Sabtu malam ini.

Jika semua pemain Timnas menjalankan instruksi Coach Alfred Riedl dengan benar, tetap bermain kompak dan terus bertarung dengan daya juang maksimal hingga peluit panjang, maka Timnas akan mengimbangi bahkan memaksa Thailand bertekuk lutut.

Ayo Tim Garuda, bermainlah dengan gagah perkasa demi kehormatan Indonesia!

Doa 250 juta rakyat negeri tercinta mengiringi perjuangan para petarung Timnas Indonesia, agar unggul dari Thailand, dan… menjadi Juara Piala AFF untuk kali pertama!