Esai Foto: Jogjakarta, reportasenews.com. Tinggal sebulan lagi, tepatnya tanggal 17 dan 18 Februari mendatang, masyarakat Jogjakarta kembali akan menikmati pesta dirgantara. Jogja airshow kali ini akan menyuguhkan atraksi dari Jupiter Aerobatik Team, Solo aerobatic heli EC-120, aksi paramotor, terjun payung hinga pentas seni. Bahkan dijanjikan pula adanya atraksi pemecahan rekor 50 paramotor yang terbang bersamaan.
Jogjakarta sejatinya tidak asing bagi kegiatan kedirgantaraan. Pasalnya kota tersebut merupakan kawah candradimuka bagi para calon penerbang TNI AU, yaitu lokasi Akademi Angkatan Udara dan Sekolah Penerbang. Di Lanud Adisucipto pula markas Tim Aerobatik Jupiter yang sudah mendunia. Sehingga, masyarakat Jogya tentu tidak asing dengan atraksi aerobatik. Dan yang tak kalah penting, di Jogjakarta lah terdapat Musium Dirgantara Mandala, yang koleksinya boleh dibilang paling lengkap se-Asia Tenggara. Jika anda ingin menumbuhkan minat dirgantara pada anak-anak anda, maka musium ini bisa jadi pilihan. Karenanya, Jogjakarta dan Dirgantara adalah hal yang tak dapat dipisahkan.

Ajang Joga Airshow sendiri sudah beberapa kali dilakukan. Antuasiasme warga maupun peserta bisa dibilang cukup tinggi. Hal ini membuktikan kecintaan masyarakat Jogjakarta terhadap dunia dirgantara.
Meski demikian, dalam ajang airshow manapun, atraksi bukanlah yang utama, melainkan keamanan. Baik keamanan bagi pengunjung maupun pelaku alias peserta. Bagi pengunjung, terdapat aturan aturan yang sangat ketat, apalagi bila ajang airshow dilakukan di kawasan Bandara atau pangkalan udara. Sampah, walau hanya sebuah puntung rokok, bisa menyebabkan kerusakan mesin pesawat. Tangan-tangan para pengunjung pun seharusnya dilarang menyentuh pesawat yang dipamerkan, karena bisa merusak peralatan sensitif yang ada di pesawat tersebut. Jarak antara penonton dengan pesawat yang tengah taxi pun harus diatur agar keamanan terjamin.
Penulis sendiri pernah mengunjungi airshow di Jogja pada 2015 lalu. Dalam ajang itu pesawat Tim Jupiter yang tengah taxi hanya berjarak beberapa meter saja dari para pengunjung yang menyemuti apron. Ini tentu saja sangat berbahaya.
Selain pengunjung, pelaku atau peserta airshow. juga harus taat terhadap aturan yang ditetapkan panitia. Ketinggian terbang, manuver, hingga aturan kedaruratan harus dipatuhi betul, sehingga bisa menghindari hal hal yang tak diinginkan. Di sisi lain, panitia juga harus disiplin dan menyiapkan segala sisi keamanan yang diperlukan. Termasuk tim kesehatan hingga tim SAR.

Dalam event kali ini, ada sebuah atraksi yang harus diamati betul , yaitu aksi terjun payung di Pantai Parangtritis. Terjun payung sendiri termasuk olahraga yang aman. Namun lain ceritanya jika dilakukan di tepi pantai. Angin yang besar bisa menyeret penerjun ke lautan, dan akhirnya terpaksa mendarat di air. Karenanya kesediaan tim SAR yang mampu bereaksi cepat dan jumlahnya cukup menjadi keharusan. Pada ajang Jogja Airshow tahun lalu, seorang penerjun meninggal dunia karena kasus semacam ini.
Pada akhirnya, sebuah Airshow bertujuan meningkatkan minat dirgantara. Jangan sampai, pesta dirgantara justru berubah menjadi tragedi karena kelalaian yang seharusnya bisa dihindari. (nasakah arc/win. foto-foto dokumentasi Jogja Airshow)

