Kawal Pengantin Hingga insiden pengusiran wartawan Mewarnai aksi 112

Sabtu 11 Februari 2017 adalah hari istimewa  yang dinanti nantikan Asido dan Filicia. Pasangan  kekasih ini hendak melangsungkan pemberkatan di Gereja Katedral, Jakarta. kerumunan massa aksi 112 yang membludak dan memenuhi ruas jalan depan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral tentu bisa menghambat rencana mereka.

Namun apa yang terjadi? kekhawatirannya tidak terbukti karena kehadiran pasangan pengantin ini justru disambut massa.  Massa membuka jalan, kedua mempelai dan rombongan pun bisa melenggang tenang dengan pengawalan para peserta aksi hingga tiba  di depan gereja. Bahkan, sebagian peserta aksi turut memayungi pengantin dan rombongan.

“Ayo Pak, tenang kami akan kawal sampai ke depan gereja. Ayo, minggir dulu, kita beri jalan untuk saudara kita umat Nasrani yang akan melangsungkan pernikahan,” ucap salah seorang massa aksi 112 berseragam FPI.

Senyum pun mengembang di wajah pasangan pengantin. Sambil jalan perlahan mempelai perempuan mengucapkan terima kasih kepada Massa aksi. “Mohon doanya  ya…,” kata  Filicia, disambut tepuk tangan massa.

Aksi massa 112 ini pun membuat Asido, sang mempelai pria terkesan. Ia mengaku kagum dengan toleransi dan penghargaan yang diberikan kepada mereka.

“Saya merasa excited dengan aksi ini, sangat toleransi. Dan saya dikawal dengan massa sampai sini (Gereja Katedral),” ucap Asido usai menjalani pemberkatan di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Sabtu (11/2/2017).

Ia mengaku baru mengetahui adanya aksi 112 pada Jumat 10 Februari kemarin. mengetahui lokasi di sekitar Gereja Katedral akan dipenuhi massa, Asido dan pasangannya, Filicia, sempat khawatir. Namun, ia pasrah dan tetap akan melangsungkan acara yang telah direncakan sejak cukup lama.

“Ya ini jalan Tuhan, kita sudah dijadwalkan di sini, hari ini ya bagaimana,” ujar Asido.

Asido pun mengucapkan terima kasih atas bantuan massa aksi 112 yang turut mengawal rombongan menuju Gererja Katedral yang sudah di padati massa. “Mereka sangat menghargai, terima kasih,” tutup Asido.

Aksi kawal pengantin yang mewarnai aksi 112 ini sempat viral di media sosial dan menimbulkan simpati yang besar akan toleransi dan kebhinekaan.

Selain Peristiwa di atas yang sangat humanis  ada juga peristiwa lain yang membuat Aksi Damai 112 ini sedikit tercoreng.  Sejumlah massa aksi dilaporkan mengusir reporter Metro TV Desi Fitriani dan kameramannya Ucha Fernandes yang tengah meliput di pintu masuk masjid sisi timur laut.

“Usir Metro TV, usir Metro TV, ” Teriak massa sambil menggiring keduanya keluar kompleks masjid.

Wartawan MetroTv mengaku sempat mengalami kekerasaan. Ucha dipukuli di bagian perut leher dan kaki. Sementara Desi dipukul menggunakan bambu di bagian kepala hingga mengalami luka.

Sementara itu, di media sosial sejumlah akun peserta aksi massa yang menyaksikan peristiwa pengusiran menyangkal ada pemukulan.

Kejadian yang mengganggu aksi damai tersebut sudah dilaporkan ke kepolisian.

Ada pun aksi intimidasi yang dialami kameraman Global TV bernama Dino, terjadi Jumat (10/2/2017) malam. Massa menuduh Dino tidak sopan dalam menyebut nama pimpinan FPI Rieziq Shihab lantaran tidak menyebut kata “Habib”. Pengusiran juga dialami tim  Kompas TV dari area masjid pada Jumat malam.

Sejumlah organisasi wartawan seperti Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)  dan Aliansi Jurnalis Indonesi (AJI)mengecam tindak kekerasan terhadap wartawan.

Tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis yang sedang melakukan kegiatan jurnalistik ini bertentangan dengan Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999.

“Tindakan kekerasan terhadap jurnalis jelas melawan hukum dan mengancam kebebasan pers,” kata Nurhasim ketua AJI Jakarta.

Di bilangan Gambir, Jakarta. Empat orang Polisi bersenjata lengkap berpatroli menggunakan motor. Saat menembus kerumunan massa ada beberapa orang yang menyoraki para Polisi tersebut. Sontak Massa yang lain pun  ikut menyoraki dan mengelilingi Polisi sambil berteriak, “Polisi huuuu… ” Syukurnya ada beberapa peserta lain yang menahan  massa agar tidak bertindak anarki.   Mengantisipasi situasi yang tidak diinginkan Polisi tersebut pun putar balik dan segera merapat ke Markas Kostrad yang terletak tak jauh dari Stasiun Gambir.

Massa memang rentan terprovokasi. Akibat ulah beberapa  gelintir peserta aksi, massa  lain yang tadinya tenang  bisa tersulut emosi.

Sebening Hujan 112

Masjid Istiqlal menjelang  zuhur,  hujan mereda, tapi mendung  masih menggantung.  Tiba-tiba angin  berembus amat kencang, membuat bendera Merah putih  dan bendera bertuliskan kalimat Tauhid LaIla ha ilallah   yang diusung jemaah  berkibar-kibar.

Sejurus kemudian langit Jakarta kembali  menumpahkan air berderai-derai. Kendati basah kuyup akibat diguyur hujan deras, jemaah yang masih bersesakan di halaman masjid tetap bergeming hingga acara yang diakhiri dengan salat zuhur berjamaah usai. Dari dalam Masjid Istiqlal buah karya F Silaban, arsitek beragama Kristen Protestan, Habib Rizieq syihab  masih mengumandangkan salawat yang diikuti ratusan ribu jemaah Doa dan Tausiah Untuk Keselamatan Negeri.  Beberapa peserta di halaman masjid kebanggaan Indonesia ini masih saja mengucurkan  air mata yang menyatu dengan bulir  bening air hujan.

Seperti aksi aksi sebelumnya, agaknya  selain menggetarkan, Aksi 112 umat Islam ini juga telah kembali menorehkan kisah yang  meninggalkan kesan mendalam. (pei)