Meraba Pola dan Skema Mou dan Klopp
Oleh karena itu, kemungkinan besar, Coach Juergen Klopp akan meminta Countinho lebih banyak mengambil inisiatif, mengkreasi serangan dan, bersama Firmino, terus berkombinasi untuk mengganggu sisi tengah dan kanan pertahanan Man United.
Dalam taktik ini, maka tugas Sturridge adalah terus bergerak membuka ruang dan mencari celah dengan cerdas. Sturridge tak bisa lagi hanya bermain pasif, sekedar menunggu passing bola dari rekan-rekannya. Dia harus benar-benar berperan sebagai striker!
Sebenarnya, kehadiran kembali Countinho di dalam skuadnya memberi alternatif pola yang lebih efektif bagi Klopp. Dia dapat memainkan 4-3-3, dengan tiga penyerang sekaligus, yaitu Firmino, Sturridge dan Lallana yang punya daya jelajah sangat tinggi.
Barisan tengah tentu dikawal Wijnaldum, Can dan Coutinho di sisi kiri namun bermain cenderung lebih ke depan atau lebih dekat dengan Firmino. Bek sayap kiri James Milner siap memberi dukungan lewat overlap maupun passing terobosan. Skema ini akan membuat Valencia bek kanan Manchestter United kerepotan dan berpikir dua kali untuk melakukan overlap ke pertahanan kiri Liverpool.
Sementara, di sektor kanan, Klopp berharap banyak pada Adam Lallana untuk membongkar pertahanan Man U. Mobilitas tinggi Lallana dan Wijnaldum, di sisi kanan ini, diharapkan akan mengatasi permainan Carrick, Herrera dan bek kiri Man U yang kemungkinan akan ditempati oleh Daley Blind atau Matteo Darmian.
Tapi, ini pola terbuka yang berpotensi meng-ekspos kerawanan dan celah di antara para gelandang dan bek Liverpool sendiri, dan skema ini pun agaknya akan dapat diatasi oleh Carrick, Herrera dan Pogba karena visi, kejelian dan pengalaman kolektif mereka yang lebih superior.
Advantage ini justru yang kini semakin disadari dan di-eksploitasi oleh Coach Jose Mourinho. Barisan gelandang yang padu antara Carrick, Herrera dan Pogba, benar-benar bikin Mou nyaman dan percaya kepada para pemainnya.
Itu masih ditambah dengan peran dan kontribusi hebat Zlatan Ibrahimovic, striker gaek yang kini berusia 35 tahun, namun terbukti sangat tajam dengan catatan 13 gol di liga, enam gol di antaranya dicetak dalam sembilan partai terakhir.
Saling pengertian antara Ibra dan Pogba bahkan disebut banyak pundit sebagai hal yang hampir telepatik. Keduanya pun mampu mendorong rekan-rekan mereka untuk bermain pada level maksimal, bahkan sering kali melewatinya.
Sementara, Juan Mata tak pernah mengecewakan setiap kali turun sebagai starter.
Henrikh Mkhitaryan? Bahkan kini dia bermain jauh lebih mengesankan daripada saat di Borussia Dortmund, apalagi dengan gol kalajengkingnya yang terpilih sebagai Goal of the Month untuk Desember lalu.
Keseluruhan faktor itulah yang membawa Manchester United pada level permainan tinggi saat ini, tak terkalahkan dalam 15 partai, termasuk sembilan kemenangan beruntun dalam sembilan laga terakhir!

