Jerman, reportasenews.com – Pengusiran imigran mulai menyapu Jerman, banyak yang ditangkap dan diusir dari negara ini. Salah satunya ada seorang siswa pengungsi dari Afghanistan hendak ditangkap Polisi namun mendapat perlawanan dari rekan sekelasnya melawan Polisi.

Sebuah demonstrasi di luar sebuah perguruan tinggi di Nuremberg di Jerman berubah menjadi kekerasan ketika polisi mencoba untuk menangkap seorang pria muda Afghanistan. Pria Afghanistan itu adalah pencari suaka karena akan dideportasi ke Kabul tapi teman-teman sekelasnya melakukan semua yang mereka bisa untuk menghentikan polisi mengusirnya.

Pencari suaka berusia 20 tahun itu belajar menjadi tukang kayu di perguruan tinggi tersebut. Ketika polisi tiba, sekitar dua puluh teman sekelasnya mencoba untuk memblokir mobil polisi masuk.

Sepuluh orang lainnya bergabung dengan mereka dan pertemuan kecil tersebut dengan cepat berubah menjadi sebuah demonstrasi melawan pengusiran siswa Afghanistan tersebut. Segera penduduk setempat bergabung dalam demonstrasi tersebut, situasi menjadi riuh karena melibatkan perlawanan menjadi hampir 300 orang.

Tapi dua jam setelah demonstrasi dimulai, situasi mulai lepas kendali. Petugas cadangan polisi telah dipanggil untuk mencoba membubarkan para pemrotes dengan menggunakan semprotan merica, pentungan dan anjing.

Petugas polisi berhasil pergi dengan menyeret pria Afghanistan tersebut, namun demonstrasi tersebut tidak berakhir. Para pemrotes menuju ke pusat kota di Nuremberg, di mana ketegangan terus berlanjut. Menurut polisi, tiga petugas polisi terluka. Polisi tidak bisa mengkonfirmasi jumlah pemrotes yang terluka. Beberapa orang dijebloskan dalam tahanan.

Pria Afghanistan itu ditangkap, namun dilepaskan hanya beberapa jam kemudian. Terjadi pemboman di Kabul, Afghanistan, pada hari yang sama, yang menewaskan lebih dari 90 orang dan menyerang bagian kota dengan kedutaan asing. Semua penerbangan ke Kabul dibatalkan.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de Maizière menjelaskan bahwa kedutaan besar Jerman di Kabul rusak parah akibat ledakan tersebut. Dia mengatakan bahwa kedutaan “memainkan peran logistik penting dalam kedatangan orang-orang yang dideportasi”.

Deportasi telah ditunda tapi tidak dibatalkan secara langsung. Berlin mengatakan bahwa Afghanistan adalah “negara yang aman”, yang memungkinkan mereka mendeportasi pencari suaka di sana.

Sikap ini telah dikritik oleh kelompok hak asasi manusia dan kemanusiaan, namun, karena situasi keamanan di Afghanistan tampaknya tidak stabil.

Sejak Desember 2016, Jerman telah mendeportasi 106 pencari suaka ke Afghanistan. Hanya satu dari dua orang Afghanistan diberikan suaka di negara ini. (Hsg)