Timnas Masih Lemah dalam Menghadapi Setpiece
Nah, persoalan besar yang tak kunjung diatasi Timnas adalah kesiapan dan koordinasi dalam menghadapi sebuah situasi dari setpiece alias bola mati. Kelemahan ini kembali terekspos saat Filipina mendapatkan tendangan bebas, sedikit di luar daerah pertahanan, sekitar setengah jam kemudian. Tembok untuk menutup ruang hanya diisi oleh dua pemain saja, Evan Dimas dan Andik Vermansah. Penjaga gawang Kurnia Meiga terlihat memberi isyarat cukup dua pemain saja.
Namun, hal yang luput dari antisipasi para pemain Timnas, termasuk Kurnia Meiga, adalah adanya ruang kosong dan bebas bagi lawan persis di depan kanan gawang. Dan, ke titik itulah bola ditempatkan oleh Phil Younghusband dan disambut rekannya Misagh Bahadoran. Proses yang sederhana. Kurnia Meiga dan para pemain belakang Indonesia terlambat bereaksi. Gawang Timnas pun jebol, skor imbang 1-1.
Di babak kedua, para patriot Garuda bekerja lebih keras lagi, mati-matian menahan gempuran lawan sembari menciptakan sejumlah peluang gol. Berturut-turut kapten Boaz Solossa, Evan Dimas bahkan Stefano Lilipaly nyaris mencetak gol.
Tapi, Roland Mueller bermain gemilang di bawah mistar gawang Filipina, dia mementahkan tendangan para pemain Indonesia. Faktor keberuntungan juga belum berpihak kepada anak-anak Indonesia. Tendangan keras kaki kanan Andik Vermansah sebenarnya sudah tak dapat ditahan Mueller namun bola hanya menghantam tiang kiri gawang Filipina.
Gol yang ditunggu-tunggu, terutama oleh para supporter Merah Putih yang tak lelah memberi dukungan, akhirnya tercipta juga. Lagi-lagi akselerasi Andik, yang kali ini memutuskan untuk cut dari sayap kanan ke tengah, menembak keras dengan kaki kiri (!) tapi bola kembali membentur tiang.
Kali ini, bola yang memantul dari tiang kanan itu justru mengarah ke tengah, dan disana Boaz sigap untuk menceploskan bola ke dalam gawang Filipina setelah memenangkan duel dengan dua bek lawan. Timnas unggul lagi, 2-1.

