Gelandang dan Penyerang Sayap Perlu Lebih Taktis

Jika rencana taktis ini diterapkan mulai barisan gelandang, dibantu kedua pemain sayap Timnas yang rela berkorban, mau turun membantu para gelandang, maka setengah dari agresivitas para pemain Vietnam bisa diredam. Tinggal kewaspadaan para bek sayap Timnas terhadap serangan bek sayap lawan yang memiliki pacing tinggi saat melakukan overlapping.

Bek kiri Timnas, M. Abduh Lestahulu sudah tampil baik, begitu juga bek kanan Benny Wahyudi telah bermain efektif dalam mengawal lawan sekaligus mengawali serangan. Cuma, di Hanoi nanti, mereka dituntut lebih sigap dan waspada terhadap counter attack lawan yang sangat cepat lewat lini sayap, mengingat para gelandang mereka telah dikunci di lini tengah.

Second striker Timnas nanti mestinya lebih sering men-support lini tengah, membantu Bayu Pradana dan Stefano Lilipaly yang akan berjibaku untuk menghentikan para gelandang lawan. Posisi tersebut bisa diisi oleh Evan Dimas atau Ferdinand Sinaga. Tapi pilihan sepenuhnya di tangan Coach Riedl.

Sekilas rencana taktis ini mengisyaratkan Timnas akan bermain defensif. Tidak sama sekali!

Sesuai dengan karakter para penyerang Timnas yang juga punya kecepatan, terutama kapten Boaz Solossa serta Andik Vermansah dan Rizki Pora, taktik ini memungkinkan serangan Timnas justru menjadi lebih intens dan lebih cepat mencapai kotak pinalti lawan atau masuk ke dalam jarak tembak ke gawang lawan. Karena para penyerang Timnas tak perlu lagi menunggu bola datang jauh dari barisan pertahanan sendiri, seusai para bek mematahkan serbuan lawan.

Skema demikian seolah Timnas memainkan high defense line. Padahal, sesungguhnya Timnas hanya membuat perangkap untuk meredam kecepatan lawan sejak di lini tengah.