Search

Gunung Rinjani, Pencapaian Sebuah Mimpi

Para pendaki ketika sampai di Puncak Gunung Rinjani. (foto: endang herman)
Para pendaki ketika sampai di Puncak Gunung Rinjani. (foto: endang herman)

Oleh : Chica

Rinjani, reportasenews.com – Awalnya, Saya mulai menyukai kegiatan mendaki gunung sekitar tahun 2013, Gunung Semeru adalah pengalaman pertama bagi saya. Hobby ini disalurkan dari Bunda, yang juga seorang pendaki gunung pada saat beliau kuliah dulu.

Gunung Merapi, Gunung Gede, Gunung Prau dan beberapa gunung lainnya pernah saya daki bersama dengan Bunda. Adik saya (Junior) yang masih berumur 7 tahun sudah menyukai kegiatan ini, saya ingat bunda pernah berkata “Nanti kalo Bunda udah tua gak kuat naik gunung, Chica harus jagain Junior digunung yah”, pesan Bunda.

Saya punya teman naik gunung, Radian, Yogi dan Chaca yang merupakan kembaran saya. Kami bersekolah di SMA yang sama, kami memiliki mimpi bersama yaitu bisa mendaki Gunung Rinjani yang telah menjadi mimpi kami sejak duduk di bangku SMA hingga saat kuliah sekarang.

keindahan Puncak Gunung Rinjani. (foto: endang herman)

keindahan Puncak Gunung Rinjani. (foto: endang herman)

Setelah lulus SMA kami sempat beberapa kali merencakan pendakian ini, namun karena beberapa kendala rencana ini akhirnya selalu gagal. Hingga bulan Juli 2017, kami merencakan pendakin ini lagi. Pendakian yang saya harapkan bisa bersama kami lakukan, namun karena kendala yang sulit akhirnya Yogi memutuskan untuk tidak ikut serta dalam pendakian ini.

Sedih, adalah ekspresi yang bisa saya rasakan pada saat itu. Sempat rencana pendakian ini di batalkan lagi, namun kami mengkhawatirkan jika tahun depan semakin banyak kendala akhirnya kami memutuskan untuk tetap melakukan pendakian.    Hingga akhirnya pada tanggal akhir Juli 2017, kami flight dari bandara Jakarta menuju bandara Lombok dengan durasi 1 Jam 50menit.

Setelah kami tiba, langsung menuju desa Sembalun yang merupakan salah satu pintu masuk pendakian Gunung Rinjani. Sekitar ± 5 jam kami telah sampai di desa tersebut kami langsung re-packing barang yang akan dibawa selama pendakian.

Banyak kendaraan umum yang bisa digunakan dari bandara menuju desa Sembalun dengan tarif 500 – 600 ribu rupiah/mobil. Pada pukul 14:44 WITA, kami melakukan perjalanan awal menuju Pos II hingga sampai pukul 18:57 WITA. Jalur dari pos awal hingga pos II cukup landai dan kami melewati hamparan savana yang luas dan indah, ditengah perjalanan kami bertemu dengan sekumpulan sapi yang hendak turun kearah pemukiman warga dan kami menikmati sunset gunung Rinjani yang sangat menawan.

Kami bermalam di pos II dan keesokan harinya melakukan pendakian untuk menuju pos berikutnya. Jalur dari pos II menuju pos III cukup panas, gersang dan berdebu. Jadi disarankan untuk tetap memakai buff sebagai perlindungan napas. Jalur yang sudah mulai nanjak dan panjang. Saya mulai merasa lelah pada jalur ini, karena matahari yang menyengat. Siang hari sekira pukul 11 WITA, kami tiba di pos III. Disana kami banyak berinteraksi dengan turis asing karena ternyata hampir 80% pendaki di gunung ini adalah oang asing. Saya mendapatkan pengalaman yang menarik bahwa, seorang pendaki wanita turis asing melakukan pendakian pada saat ia hamil 5 bulan.

Rinjani merupakan salah satu gunung yang paling diminati para pendaki. (foto. Endang Herman)

Rinjani merupakan salah satu gunung yang paling diminati para pendaki. (foto. Endang Herman)

Setelah istirahat sejenak  kami melakukan perjalanan menuju pos palawangan. Ada istilah “bukti penyesalan” digunung Rinjani, ini adalah gambaran untuk jalur yang akan kami hadapi. Pada jalur ini kami akan menaiki dan menuruni 7 punggungan bukit.

Mental dan fisik saya mulai teruji disini, rasa lelah sangat saya rasakan. ‘Jalur tanpa ujung’ ini gambaran untuk jalur bukit penyesalan. Hingga akhirnya pukul 19:49 WITA kami sampai di palawangan, pos terakhir sebelum melakukan perjalanan muncak (summit) . Perjalanan summit biasanya dilakukan pada saat subuh hari, hal ini bertujuan agar jalur yang dilewati tidak terlihat sehingga tidak merasakan kendala mental jika melihat jalur.

Selanjutnya jam 03:00 WITA kami yang berjumlah 8 orang (Ayah, Bunda, Chaca, Junior, Radian, Om Emon, Om Agus dan Saya) melakukan perjalanan summit. Berdoa, hal yang harus kami lakukan sebelum melakukan perjalanan ini. Perjalanan dimulai. Medan yang curam ditambah pasir yang gembur menjadi salah satu ujian fisik yang langsung kami temui di jalur ini.

Chica dan saudara kembarnya Chaca bersama kedua orang tua mereka dalam perjalanan ke puncak Kerinci. (foto. Endang Herman)

Chica dan saudara kembarnya Chaca bersama kedua orang tua mereka dalam perjalanan ke puncak Rinjani. (foto. Endang Herman)

Pijakan 1 langkah turun 1 langkah ini telah kami rasakan, ditambah dengan suhu udara yang ± 10-15 derajat celcius turut menemani perjalanan kami. Tekad dan doa yang saya punya menjadi penyemangat untuk terus melakukan perjalan ini. Pada saat kami telah melihat ujung puncak gunung Rinjani, kami mendapatkan kabar bahwa Bunda dan Junior tidak mungkin melanjukan perjalanan, dikarenakan Junior yang tidak sanggup untuk melanjukan summit ini.

Perasaan saat itu hanya bisa merasakan ‘kesedihan’. Puncak gunung yang menjadi imipian saya sejak SMA harus saya lalui tanpa Bunda, “mungkin tahun depan bunda udah engga kuat naik gunung tinggi, ayo jadi semangat rinjaninya” kalimat ini yang terbayang oleh saya, membuat air mata ini harus menjadi air mata kebahagiaan untuk bisa sampai ke puncak impian.

Karena beberapa kendala khususnya fisik akhirnya yang meneruskan perjalanan summit ini hanya Chaca, Radian, Om Emon dan Saya. “semangat puncak untuk Bunda, dibawah sana banyak yang udah doain kamu. Semangat ayo!” kalimat ini yang menjadi pendorong langkah kaki saya untuk terus melangkah hingga sampai puncak.

Perjalanan puncak Rinjani ini saya rasa paling berkesan. Disini kami di uji mental dan fisik. Awalnya Chaca sudah menyatakan bahwa, ia tidak akan melanjutkan perjalanan summit. Namun kami terus memberikan dukungan dan semangat kepada Chaca. Perjalanan ini kami tempuh dengan santai, sesekali Om Emon mengeluarkan kompor lalu menyediakan air untuk menghangatkan tubuh.

Tepat pada pukul 12:12 WITA, kami ber4 menginjakan kaki untuk pertama kalinya di puncak Gunung Rinjani 3726 Mdpl, yang telah lama menjadi impian kami. “Alhamdulilah Ya Allah. Terimakasih” kalimat pertama yang saya ucapkan pada saat berhasil menginjakan kaki. Sujud syukurpun langsung kami lakukan.

Durasi perjalanan 10 jam yang kami tempuh dengan lelah, terbayar sudah semua oleh keindahan alam yang tak terbayar. Bahagia atas kesempatan ini. Ya Allah terimakasih telah memberikan saya kesempatan ini, sungguh indah alamMU. Terimakasih atas semua dukungan dan doa yang menjadi penyemangat saya untuk melakukan perjalanan ini. Terimakasih atas semua keelokan dan kenangan yang telah diberikan dan tak mampu dibayar, Semua pesonanmu mampu menjadi rasa rindu untuk terus mengunjungimu lagi, Rinjani.

Persiapan jelang mendaki Gunung Rinjani. (foto: chica)

Persiapan jelang mendaki Gunung Rinjani. (foto: chica)

Aku dan kisahku Tak bisa ku ingat lagi berapa kali aku mendaki, Pun bagaimana caranya   Tak bisa ku ingat lagi semua tentang kisah itu, Tentang banyak kisah, rasa dan asa   Tapi ada beberapa hal yang tak pernah bisa terlupakan, Adalah tentang bagaimana alam membuatku menemukan,   Tanah mana yang harus ku pijak Udara mana yang harus ku hirup Tangan mana yang harus ku genggam Dan bagaiamana aku harus hidup.




Loading Facebook Comments ...