KNKT Bongkar Biang Tabrakan Argo Bromo: Komunikasi Berbelit Telan 16 Nyawa
- calendar_month 44 menit yang lalu
- print Cetak

KA Argo Bromo Anggrek terlibat tabrakan dengan kereta lain di Bekasi Timur. KAI lakukan evakuasi dan investigasi penyebab kejadian. (Tangkapan Layar)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap temuan awal terkait kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026. Dalam investigasi sementara, KNKT menyoroti sistem komunikasi antar-pengendali perjalanan kereta api yang dinilai terlalu panjang dan lambat saat kondisi darurat.
Kecelakaan tersebut melibatkan KA Argo Bromo Anggrek nomor 4B, KRL Commuter Line KA 5568A relasi Kampung Bandan-Cikarang, KA 5181 relasi Cikarang-Angke, serta sebuah taksi GreenSM. Insiden itu menewaskan 16 orang dan menjadi salah satu kecelakaan kereta paling fatal tahun ini.
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi Soerjanto Tjahjono mengatakan jalur komunikasi antara pusat kendali operasi membuat informasi penting terlambat diteruskan kepada masinis.
“Sistem komunikasi Petugas Pusat Pengendalian Operasi Kereta Api (PK) terlalu berbelit. KA 5568A menggunakan Radio Sepura dan berada pada wilayah komunikasi S.27 (PK Selatan). Sementara KA 4B Argo Bromo Anggrek menggunakan radio lokomotif dan berada pada wilayah komunikasi S.1 (PK Timur). Ini membuat jeda terlalu lama karena PK Selatan harus memberitahukan kepada Chief. Lalu chief meneruskan informasi ke PK Timur. Ini perlu diperbaiki,” ujar Soerjanto dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5/2026).
KNKT juga menemukan bahwa petugas pusat kendali tidak mengetahui situasi nyata di sekitar Stasiun Bekasi Timur karena seluruh koordinasi hanya mengandalkan komunikasi radio suara.
“Kami mendapat laporan dari masinis KA Argo Bromo Anggrek bahwa ia sempat melakukan pengereman dari jarak 1,3 kilometer setelah menerima informasi ada temperan KRL di depan. Masinis sudah mencoba pengereman, cuma di PK tidak tahu kondisi sebenarnya di sekitar Stasiun Bekasi Timur karena komunikasi lewat suara saja,” katanya.
Dalam laporan investigasi awal, KNKT mengungkap masinis KA Argo Bromo Anggrek hanya diminta melakukan pengereman bertahap dan memperbanyak semboyan 35 atau klakson. Tidak ada instruksi pengereman penuh meski kondisi jalur belum dipastikan aman.
“Informasi dari PK Timur, KA 4B Argo Bromo Anggrek hanya diminta melakukan pengereman secara bertahap dan perbanyak semboyan 35 (klakson), serta status jalur hulu dan hilir belum didapatkan informasi dari lintas terkait ruang bebas KA,” ujar Soerjanto.
Hasil pemeriksaan rekaman percakapan atau voice logger juga menunjukkan informasi penting dari KA 5568A tidak sepenuhnya tersampaikan ke PK Selatan. Saat itu, masinis melaporkan kereta masih tertahan di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur akibat kerumunan warga di sekitar lokasi kecelakaan sebelumnya.
Namun pada saat bersamaan, PK Selatan tengah fokus menangani insiden lain, yakni temperan antara KA 5181 dengan taksi GreenSM serta pengamanan KA 6075 yang berada di belakang rangkaian tersebut.
KNKT turut menemukan adanya perbedaan standar waktu pada sejumlah perangkat komunikasi dan sistem operasional, mulai dari radio komunikasi, logger lokomotif, sistem persinyalan, hingga CCTV stasiun dan kereta. Perbedaan sinkronisasi waktu itu dinilai berpotensi menghambat proses koordinasi saat kondisi darurat.
Berdasarkan kronologi investigasi awal, kecelakaan bermula ketika KA 5181 mengalami temperan dengan taksi di dekat Stasiun Bekasi Timur. PK Selatan kemudian berupaya mengamankan perjalanan kereta lain di lintasan tersebut.
Di saat bersamaan, masinis KA 5568A melaporkan kereta belum dapat diberangkatkan karena adanya kerumunan warga di lokasi kejadian. Namun laporan itu tidak diteruskan secara sempurna karena pusat kendali sedang sibuk menangani insiden sebelumnya.
Sementara itu, PK Timur tetap menginstruksikan masinis KA Argo Bromo Anggrek untuk melakukan pengereman bertahap. Tanpa informasi kondisi jalur yang utuh, tabrakan akhirnya tidak dapat dihindari.
Pasca-insiden, masinis KA 4B melaporkan telah terjadi tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KA 5568A di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur.
Hingga kini, KNKT masih melanjutkan investigasi untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan tersebut sekaligus mengevaluasi sistem keselamatan dan komunikasi operasional kereta api nasional.
“KNKT telah menerima informasi terkait tindakan yang dilakukan oleh para pihak terkait dalam rangka peningkatan keselamatan pasca kejadian,” kata Soerjanto. (RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar