Ramadan di Balik Terpal, Nestapa Warga Aceh dan Desakan Tegas Mendagri Tito
- calendar_month 6 menit yang lalu
- print Cetak

Suasana awal Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Aceh Utara dan Pidie Jaya. Sejumlah warga masih tinggal di tenda darurat. (Foto: Antara)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Aceh, ReportaseNews – Suasana awal Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Aceh Utara dan Pidie Jaya tahun ini terasa jauh dari kata hangat. Alih-alih berkumpul di meja makan rumah yang nyaman, sejumlah warga masih harus bergelut dengan pengapnya udara di dalam tenda darurat.
Pemandangan pilu itulah yang menyambut kedatangan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian saat meninjau progres pemulihan pascabencana pada Sabtu (21/2/2026).
Langkah kaki Tito menyusuri area pengungsian memperlihatkan kenyataan pahit bagi warga yang desanya hilang diterjang banjir dan tanah longsor pada akhir tahun lalu. Di tengah upaya menjalankan ibadah puasa, para penyintas ini masih bertahan dengan fasilitas seadanya.
Rasa prihatin yang mendalam tak mampu disembunyikan oleh mantan Kapolri tersebut saat berdialog langsung dengan warga yang menanti kepastian relokasi.
Mendagri Tito Karnavian secara terbuka mengungkapkan rasa iba melihat kondisi masyarakat yang harus beribadah di tengah keterbatasan fisik dan infrastruktur. Menurut dia, kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, terutama karena momentum Ramadan seharusnya menjadi saat di mana warga mendapatkan ketenangan, bukan justru beban tambahan akibat ketidakpastian hunian.
“Kita sudah lihat bagaimana progres dan saya cukup prihatin melihat pengungsi masih menempati tenda darurat pada bulan puasa ini,” ujar Tito di hadapan para awak media yang meliput kunjungan tersebut.
Keresahan Tito bukan tanpa alasan. Keberadaan warga di tenda darurat dalam jangka waktu lama berisiko menurunkan kualitas kesehatan dan mental para korban. Oleh karena itu, dia menginstruksikan kementerian terkait, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum (PU), agar segera menyelesaikan pembangunan Hunian Sementara (Huntara).
Bagi Tito, kecepatan kerja pemerintah saat ini menjadi pertaruhan martabat bagi para penyintas bencana di Aceh. Persoalan teknis dan birokrasi diharapkan tidak lagi menjadi penghalang bagi pemenuhan hak dasar warga.
Tito menekankan setiap hari yang berlalu di bawah tenda adalah beban berat bagi rakyat. Dia menuntut adanya jadwal yang konkret agar masyarakat memiliki harapan yang jelas mengenai kapan mereka bisa meninggalkan pengungsian dan memulai hidup baru di lokasi yang lebih aman.
“Kita butuh kepastian juga kapan selesainya, sehingga para pengungsi ini tidak lagi tidur di bawah tenda darurat. Jangan lama-lama,” tegas Tito sebagai bentuk peringatan agar seluruh pihak yang terlibat dalam Satgas pemulihan tidak bekerja dengan ritme yang lambat. (RN-03)
- Penulis: Saparuddin Siregar


Saat ini belum ada komentar