Berkah Ramadan, Usaha Manisan Rumahan di Banyumas Kebanjiran Pesanan
- calendar_month 44 menit yang lalu
- print Cetak

Usaha kuliner khas lebaran manisan dan kue kering di Banyumas.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyumas, ReportaseNews – Datangnya bulan suci Ramadan dan menjelang Hari Raya Idulfitri membawa berkah tersendiri bagi para pelaku usaha kuliner, khususnya produsen manisan dan kue kering khas Lebaran. Permintaan yang meningkat tajam membuat sejumlah pelaku usaha rumahan di Banyumas, Jawa Tengah, mengalami lonjakan penjualan hingga dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satunya dirasakan oleh Leni Ameliani, produsen manisan dan kue kering rumahan yang tinggal di Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Usaha yang ia rintis dari rumahnya memproduksi berbagai jenis manisan seperti manisan pepaya, manisan agar-agar, manisan pala, serta manisan kolang-kaling.
Tak hanya manisan, Leni juga memproduksi beragam kue kering khas Lebaran seperti nastar, kastengel, putri salju, dan kue semprit yang banyak dicari masyarakat untuk hidangan saat hari raya.
Perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai staf administrasi interior di Tangerang ini mengaku, pada Ramadan tahun ini permintaan produk buatannya meningkat tajam. Bahkan, manisan agar-agar dan manisan pepaya menjadi produk yang paling diminati oleh pelanggan.
Menurutnya, selain rasanya yang manis dan segar, tampilan manisan yang berwarna-warni membuat produk tersebut terlihat lebih menarik dibandingkan manisan pada umumnya.
Proses pembuatan manisan agar terbilang sederhana. Bahan yang digunakan antara lain agar-agar plain, jelly, gula pasir, serta perisa vanili.
Semua bahan dimasak selama kurang lebih 20 menit hingga mendidih, kemudian dituangkan ke dalam nampan untuk didinginkan.
Setelah mengeras, agar dipotong kecil seukuran satu ruas jari. Leni menghadirkan empat varian warna yakni merah, putih, hijau, dan oranye dengan menggunakan pewarna makanan. Ia juga memastikan seluruh produknya dibuat tanpa bahan pengawet maupun pemanis buatan.
“Alhamdulillah untuk tahun ini produksi manisan kami meningkat hingga 100 persen dibanding tahun lalu. Yang paling banyak diminati pelanggan adalah manisan agar-agar dan manisan pepaya karena tampilannya lebih menarik dan berbeda dari yang lain. Pesanan sudah masuk sejak sebelum Ramadan, bahkan ada yang dari luar Jawa hingga Jepang,” ujar Leni.
Pesanan manisan miliknya tidak hanya berasal dari wilayah Banyumas, tetapi juga dari berbagai daerah di Pulau Jawa, termasuk Semarang. Bahkan, seorang pelanggan dari Jepang memesan sebanyak 12 toples untuk dikirim sebagai sajian Lebaran.
Untuk harga, manisan agar-agar dijual seharga Rp55 ribu per toples, sementara manisan pepaya dibanderol Rp50 ribu per toples. Selain itu, Leni juga menyediakan paket hampers Lebaran yang diminati pembeli untuk dijadikan bingkisan bagi keluarga maupun kerabat.
Seiring meningkatnya permintaan selama Ramadan, Leni menambah lima tenaga kerja dari lingkungan sekitar rumahnya. Mayoritas pekerja tersebut merupakan ibu rumah tangga yang turut terbantu secara ekonomi melalui usaha tersebut.
Momen Ramadan dan Idulfitri pun tidak hanya menghadirkan keberkahan bagi pelaku usaha, tetapi juga membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Dengan inovasi produk serta menjaga kualitas rasa, usaha rumahan seperti yang dijalankan Leni membuktikan mampu berkembang dan meraih keuntungan di tengah tingginya permintaan sajian khas Lebaran. (Kus/RN-04)
- Penulis: Didik



Saat ini belum ada komentar