Hangat di Lereng Slamet: Romantika Nasi Bronjol yang Mengundang Rindu di Musim Libur Panjang
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Nasi bronjol di lereng Gunung Slamet, Purbalingga, diserbu wisatawan saat libur panjang. Warung Samidtrans menghabiskan hingga 60 kilogram beras per hari karena lonjakan pengunjung. (Foto: RN/Kus)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Purbalingga, ReportaseNews — Di balik dinginnya udara pegunungan kaki Gunung Slamet, terselip kehangatan yang tak hanya berasal dari sepiring makanan, tetapi juga dari kisah sederhana yang menghidupkan suasana libur panjang. Warung Samidtrans milik Mukinah, yang berada di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, mendadak ramai diserbu wisatawan.
Antrean panjang tampak menghiasi halaman warung. Para pengunjung rela menunggu demi menikmati nasi bronjol – hidangan khas yang kini menjadi buah bibir di kalangan pelancong.
Lonjakan jumlah pelanggan pun terasa signifikan. Jika pada hari biasa hanya menghabiskan sekitar 20 kilogram beras, saat libur panjang angka itu melonjak hingga 60 kilogram per hari.
“Alhamdulillah, sekarang mulai ramai. Kalau hari biasa paling 20 kilogram, sekarang bisa sampai 60 kilogram,” ujar Mukinah kepada ReportaseNews, Sabtu (4/4/2026)
Nasi bronjol bukan sekadar makanan. Ia adalah perpaduan rasa dan tradisi. Beras merah yang dimasak bersama jagung menghasilkan tekstur unik, kemudian dipadukan dengan lauk sederhana: sayur mayur, tempe, tahu, ikan asin (gereh), petai, dan sambal hijau yang pedasnya membangkitkan selera.

Menu khas Nasi Bronjol Ibu Mukinah. (Foto: RN/Kus)
Kesederhanaan penyajiannya justru menjadi daya tarik. Selain dinikmati di tempat, nasi bronjol juga bisa dibawa pulang dalam besek bambu, menghadirkan nuansa tradisional yang semakin langka.
Dengan harga Rp15 ribu per porsi, hidangan ini terasa begitu bersahabat. Tak heran jika banyak wisatawan datang karena penasaran, termasuk Ali dari Purwokerto.
“Kami dapat info kalau nasi bronjol itu enak, jadi langsung ke sini. Rasanya memang enak, sambal hijaunya mantap. Dengan harga segini, sangat ekonomis,” ungkapnya.
Bagi Ali, pengalaman ini bukan sekadar makan. Ia merasakan nostalgia, seolah menemukan kembali cita rasa yang mengingatkannya pada kuliner khas Jawa Timur—namun hadir di tanah Banyumas.
Di lereng Slamet, nasi bronjol menjelma lebih dari sekadar santapan. Ia menjadi pengikat cerita, mempertemukan rasa, perjalanan, dan kenangan dalam satu piring sederhana.
Libur panjang kali ini pun tak hanya menghadirkan keramaian, tetapi juga menghidupkan denyut ekonomi warga sekitar.
Warung kecil bertingkat ini berubah menjadi tujuan, dan kehangatan tradisi kembali menemukan tempatnya di hati para pelancong.
Di tempat ini, romantika hadir dalam kesederhanaan – dalam uap nasi hangat, dalam sambal yang menggigit, dan dalam rindu yang diam-diam terobati di kaki Gunung Slamet. (Kus)
- Penulis: Kusworo
- Editor: Ullifna Tamama



Saat ini belum ada komentar