Lampaui Kebumen, Tambak Udang Raksasa NTT Capai 2.000 Hektare
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

Tambak udang di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. (Foto: dok. KKP)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membangun kawasan tambak udang terintegrasi berskala besar di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Proyek ini diklaim menjadi kawasan tambak udang terbesar di Indonesia sekaligus mendorong pemerataan pembangunan budidaya di luar Pulau Jawa.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, TB Haeru Rahayu, menegaskan pemilihan Waingapu selaras dengan pendekatan Indonesia-sentris yang tengah dijalankan pemerintah. Lokasi tersebut dinilai memenuhi aspek teknis serta memiliki ketersediaan lahan yang memadai.
”Kan Indonesia bukan hanya Jawa, Indonesia sentris. Di sana ada hamparan lahan yang luas, clear and clean, serta free, sudah menjadi haknya KKP. Jadi luasnya 2.000 hektare,” ujar Haeru di kantor KKP, Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Menurut dia, luas kawasan tambak di Waingapu jauh melampaui proyek serupa yang pernah dibangun di Kebumen, Jawa Tengah.
”Jauh, Kebumen cuma 100 hektare. Di sana (Waingapu) 2.000 hektare. Ini kan ada 20 kali lipatnya ya,” katanya.
Kawasan tambak ini dirancang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Fasilitas pembenihan, pabrik pakan, pabrik es, hingga cold storage akan berada dalam satu kawasan guna menekan biaya logistik dan menjaga mutu produksi.
”(Tambak udang di Waingapu) terbesar, terintegrasi. Nanti akan ada end to end-nya, ada hulu hilirnya, ada pembenihannya, ada pakannya, ada pabrik esnya, ada cold storage-nya, ada segala macam. Semuanya didekatkan di sana. Sehingga menjadi betul-betul udang yang premium, dan harganya bagus,” jelasnya.
Pembangunan kawasan diproyeksikan rampung dalam dua hingga tiga tahun. Namun, KKP menargetkan sebagian area sudah dapat beroperasi pada tahun ini.
”Itu (target pembangunan) 2-3 tahun. Tapi kita upayakan di tahun ini sudah ada sebagian yang sudah bisa dioperasionalkan. Kita dorong,” ujar Haeru.
Pada tahap awal, dua klaster ditargetkan mulai berjalan dari total 12 klaster yang direncanakan. Setiap klaster terdiri atas 128 petak tambak.
”Dua kluster paling tidak sudah bisa operasional tahun ini, dari total 12 kluster. Dua klaster itu.. satu klusternya 128 petak. Jadi kalau 2 klaster, 256 petak,” katanya.
Secara penuh, kawasan tambak udang Waingapu ditargetkan memproduksi hingga 52.000 ton udang vaname per tahun. Komoditas ini selama ini menjadi tulang punggung ekspor perikanan Indonesia.
”Total kapasitas produksinya nanti kalau semua (pembangunan sudah) jadi 52 ribu ton udang per tahun,” sebut dia.a
Haeru menyampaikan produksi udang nasional saat ini berada pada kisaran 1,2–1,3 juta ton per tahun dengan nilai ekonomi sekitar 5,5 miliar dollar AS. Dari angka tersebut, nilai ekspor berkisar 1,6–2,2 miliar dollar AS per tahun.
Ketergantungan terhadap pasar Amerika Serikat masih tinggi, yakni 67–70 persen dari total ekspor.
”Ekspor 67%-70% ke Amerika. Makanya isu Cesium 137 kemarin kan sangat berdampak,” ujarnya.
Pemerintah kini membuka peluang perluasan pasar ke Eropa, Asia Timur, Jepang, Korea, hingga Timur Tengah.
”Ekspor sementara ini masih ke Amerika, tapi Ditjen PDSPKP sedang menjajaki ke Eropa, kemudian ke Asia Timur, Jepang, Korea, dan ke Timur Tengah,” kata Haeru.
Dari sisi ketenagakerjaan, proyek tambak udang terintegrasi ini diproyeksikan menyerap ribuan tenaga kerja lokal.
”Tenaga kerja banyak, ribuan. Itu sudah dikelola oleh badan SDM KKP,” ujarnya.
Adapun nilai investasi pembangunan kawasan mencapai sekitar 500 juta dollar AS atau setara Rp7,2 triliun. Pendanaan dilakukan melalui skema Kredit Swasta Asing (KSA) atau pinjaman luar negeri.
”(Tambak di Waingapu) sistemnya pinjaman, KSA atau kredit swasta asing, Rp7,2 triliun. Detailnya skema atau mekanismenya di Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Kalau kami dapat duitnya kemudian menerima, dan membangun, itu tanggung jawab kami,” pungkasnya. (RN-07)
- Penulis: Tama


Saat ini belum ada komentar