The Zlatan Show Time
Zlatan Ibrahimovic mencetak gol demi gol lewat kaki kanan, kaki kiri, dan tandukan. Dia bisa dan bersedia mencetak gol dengan cara apapun.
Lebih dari itu, Ibrahimovic masih mau berlari memburu bola atau mengejar umpan bahkan, when and if necessary, berpacu untuk melewati bek-bek lawan bak pemuda berumur 25 tahun.
To sum up, kehebatan Ibra merupakan gabungan dan perpaduan banyak aspek. Ketangguhan fisik, teknik, skills, kecepatan, agility, dan…thinking!
Ya, terdepan dari segala kualitas Ibra tak lain adalah otaknya yang brilyan. Coach Mourinho tak segan mengakui bahwa Ibra, yang kini menjelma sebagai pemimpin dan idola baru Old Trafford, punya otak yang cemerlang.
“Yang hebat dari Ibra adalah bagaimana dia berpikir (otaknya). Yang hebat bukan tubuhnya (semata). It’s really fantastic for a 35 year old player. Gol-golnya bikin cemburu banyak penyerang yang berusia 25 tahunâ€, ujar Mourinho.
Tak terbantahkan, kekuatan Ibra dalam berpikir itulah yang membuat perbedaan. Tanpa itu sungguh sulit membayangkan seorang pemain berusia 35 tahun tetap mampu bermain di level tertinggi, di liga yang lebih mengedepankan permainan fisik.
Otaklah yang mengatur kapan Ibra bergerak quietly mencari posisi (tentu sambil mengatur napas) lalu pada timing yang tepat tentunya bergerak cepat untuk menyambut umpan dari Paul Pogba atau Henrikh Mkhitaryan, misalnya.
Lihat pula aksi Ibra ketika menyambut umpan tarik Anthony Martial di babak pertama laga versus Middlesborough pada malam tahun baru kemarin. Dengan kaki kanannya yang panjang (sambil lompat menerjang), Ibra menaklukkan Victor Valdes dan menceploskan bola ke gawang Boro. Hanya saja wasit Lee Mason menganulir gol hebat itu karena menilai Ibra telah lebih dahulu melanggar Valdes.
Atau sebaliknya, ketika Ibra berperan sebagai pengumpan, dia harus berjibaku melewati lawan sambil dribbling atau beradu fisik dengan lawan untuk menerima bola. Bergerak untuk membuka ruang atau simply memberikan passing cerdas yang kemudian menjadi assist karena rekannya mampu mencetak gol, seperti proses lahirnya gol Mkhitaryan saat lawan Sunderland pada Boxing Day.
Thinking process Ibra-lah yang menghasilkan apa yang kini layak disebut sebagai The Zlatan Show Time!
Sangat boleh jadi kemampuan olah otaknya itu jugalah yang membuatnya menguasai lima bahasa yaitu bahasa Swedia, Bosnia, Italia, Spanyol dan bahasa Inggris secara aktif ditambah kemampuan di atas rata-rata untuk bahasa Belanda dan Prancis!

