Attacking Scheme, More Promising

Tinggal sekarang, siapa pemain ketiga yang mendampingi Bayu dan Fano. Coach Alfred Riedl harus segera memastikan dan menyiapkan pemain pengganti Evan Dimas yang cedera. Pemain ini bisa saja seorang gelandang murni seperti Dedi Kusnandar yang juga kuat dalam bertahan.

Namun, laga lawan Singapura pada hari Jum’at, 25 November 2016, adalah partai hidup mati. Opsi satu-satunya semestinya adalah bermain menyerang. Maka, jika konsep permainan attacking yang dipilih, seyogianyalah Riedl mulai memberi kepercayaan kepada Zulham Zamrun atau Bayu Gatra Sanggiawan turun sebagai starter. Formasi yang paling pas, dalam konteks ini, adalah 4-3-3, sekalipun kita maklum Coach Riedl selama ini lebih suka pola 4-4-2 atau 4-4-1-1.

Tampil sebagai pemain pengganti, dalam dua partai pertama, Zulham Zamrun tidak effektif dan berkontribusi sangat minim. Apabila Zulham main, saya kira, posisi terbaik baginya adalah di belakang Boaz Solossa, sebagai gelandang kiri yang men-support Boaz. Betul, dia belum pernah main di posisi ini, tapi Zulham punya modal teknik dan kecepatan walaupun Zulham tak terlalu tangguh dalam bertahan. Zulham tetap bernilai tinggi jika, kali ini, dia benar-benar mau berkorban yakni tampil disiplin sebagai gelandang pen-support, dan tak lagi egoistis dengan memaksakan dribble yang sering boros.

Tetapi, bila Riedl memainkan Bayu Gatra, maka posisi terbaik bagi Bayu Gatra adalah di belakang Andik Vermansah. Boaz Solossa menempati posisi sayap kiri, sedangkan Lerby Eliandri Pong Babu tetap menjadi targetman. Barisan depan Garuda butuh striker yang berpostur kokoh dan jangkung seperti Lerby untuk mengancam bek-bek tengah Singapura yang berbadan tinggi. Hanya saja, skema permainan Timnas dengan Zulham Zamrun atau Bayu Gatra jelas punya konsekwensi. Mungkin Rizki Pora yang dapat giliran dicadangkan dulu.