Sampah Palembang Masuk PSEL, 960 Ton Ditarget Jadi Listrik
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Pemkot Palembang mulai mengirim sampah ke PSEL. Sebanyak 960 hingga 1.000 ton sampah per hari ditargetkan diolah menjadi energi listrik. (Don)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Palembang, ReportaseNews — Pemerintah Kota Palembang mulai mengubah pola pengelolaan sampah perkotaan dengan mengirimkan sampah ke fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik atau PSEL. Pengiriman perdana dilakukan pada Selasa (1/9/2026), dengan target sekitar 960 hingga 1.000 ton sampah per hari diolah di fasilitas tersebut.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa meninjau langsung proses pengiriman sampah ke PSEL. Menurutnya, pengoperasian fasilitas ini menjadi langkah penting untuk mengurangi beban pengelolaan sampah sekaligus memberikan nilai tambah dari limbah perkotaan.
“Hari ini adalah hari perdana masuknya sampah dari beberapa tempat ke PSEL yang menghasilkan energi listrik. Dari Dinas Lingkungan Hidup diperkirakan sampah yang masuk mencapai 960 ton per hari,” ujar Ratu Dewa, Selasa (1/9/2026).
Berdasarkan data Pemerintah Kota Palembang, timbulan sampah di wilayah tersebut mencapai sekitar 1.260 ton per hari. Dari jumlah itu, sekitar 960 hingga 1.000 ton per hari dialokasikan untuk dikirim ke bunker PSEL.
Pasokan sampah tersebut dikumpulkan dari berbagai wilayah melalui lebih dari 400 Tempat Penampungan Sementara atau TPS.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang Akhmad Mustain mengatakan, pengaturan distribusi armada menjadi salah satu hal penting dalam memastikan pasokan sampah ke PSEL berjalan secara optimal.
“Pengangkutan mencakup seluruh wilayah. Kita terus mengatur ritase armada agar distribusi sampah menuju PSEL dapat berjalan optimal,” kata Akhmad Mustain.
Untuk menunjang proses tersebut, Pemkot Palembang menyiagakan 141 armada dari total 160 armada yang tersedia. Pemerintah juga menyiapkan penambahan armada melalui Anggaran Perubahan guna memperkuat sistem pengangkutan sampah.
Berbeda dari pola pembuangan sampah konvensional, material yang masuk ke PSEL tidak langsung dibakar. Sampah terlebih dahulu menjalani sejumlah tahapan pengolahan, termasuk proses fermentasi selama sekitar lima hingga tujuh hari sebelum memasuki tahapan berikutnya untuk menghasilkan energi listrik.
Ratu Dewa menyebut keberadaan PSEL juga menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional dan menempatkan Palembang sebagai salah satu daerah percontohan pengelolaan sampah berbasis teknologi.
“Ini merupakan proyek strategis nasional dan Palembang menjadi salah satu percontohan. Jadi kita berharap pelaksanaannya berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Pengoperasian PSEL Palembang dijadwalkan memasuki tahapan penting pada September 2026. Agenda pada 10 September direncanakan dihadiri sejumlah pejabat pemerintah pusat, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pangan serta Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Sementara itu, peresmian fasilitas PSEL ditargetkan berlangsung pada Desember 2026 dan direncanakan diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia.
Meski PSEL mulai beroperasi, Pemerintah Kota Palembang tetap meminta masyarakat mengurangi produksi sampah dan melakukan pemilahan sejak dari rumah. Pengelolaan berbasis teknologi dinilai tetap perlu dibarengi dengan upaya pengurangan dan pemanfaatan sampah dari sumbernya.
Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat digunakan kembali, sementara sampah yang membutuhkan pengolahan dapat diarahkan ke sistem pengelolaan yang tersedia.
Dengan pengiriman perdana ini, Pemkot Palembang mulai mengintegrasikan pengangkutan sampah dari ratusan TPS ke fasilitas pengolahan yang ditujukan untuk menghasilkan energi. Pemerintah berharap sistem tersebut tidak hanya mengurangi beban sampah perkotaan, tetapi juga memberikan manfaat lingkungan dan energi bagi masyarakat.
(Don)
- Penulis: Don
- Editor: Tama




Saat ini belum ada komentar