IKA UNJ: Kurikulum Harus Jadi Benteng Moral Hadapi Bahaya Digital dan AI
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang besar bagi pendidikan, tetapi juga membawa risiko terhadap karakter, keamanan, privasi, kesehatan mental, dan integritas akademik.
Hal itu menjadi sorotan dalam Forum Diskusi Pedagogik (FDP) #1 Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) yang digelar secara hybrid, Rabu (26/8/2026).
Ketua Bidang Pedagogik PP IKA UNJ, Aan Harinurdin, mengatakan pendidikan tidak cukup hanya membekali siswa dengan keterampilan digital. Peserta didik juga harus memiliki karakter agar mampu menggunakan teknologi secara aman, etis, dan bertanggung jawab.
“Bahaya digital bukan lagi sekadar potensi risiko, tetapi sudah menjadi tantangan nyata,” ujar Aan.
Menurutnya, ancaman tersebut mencakup cyberbullying, phishing, judi online, kecanduan gawai dan gim, disinformasi hingga penyalahgunaan AI.
Karena itu, kurikulum perlu menguatkan empat pilar literasi digital, yakni digital skill, digital safety, digital ethics, dan digital culture, dengan melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Dekan FMIPA UNJ, Dr. Hadi Nasbey, menegaskan AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu, bukan menggantikan proses berpikir manusia.
Menurutnya, peserta didik perlu dibekali kemampuan mengevaluasi informasi, menjaga keamanan data, memahami jejak digital, serta mengambil keputusan secara etis.
Ia mendorong perubahan pendidikan dari digital skill menuju digital character, dari kurikulum parsial menuju pendekatan lintas disiplin, serta dari pendekatan reaktif menuju kurikulum yang preventif dan visioner.
Guru juga harus berperan sebagai digital moral compass atau kompas moral bagi peserta didik.
Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Jakarta Utara, Samsurial, menyatakan perkembangan AI tidak mungkin ditolak. Namun, penggunaannya harus disertai pendampingan dan pengawasan.
Ia menyebut kebijakan Kemenag melalui KMA Nomor 1503 Tahun 2025 memberikan ruang bagi pemanfaatan teknologi adaptif, AI, dan media digital sebagai alat bantu pembelajaran.
Dinas Pendidikan DKI Jakarta turut menyoroti pentingnya Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) untuk meningkatkan kemampuan guru mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran.
Pelatihan AI bagi guru dinilai harus praktis, kontekstual, berkelanjutan, dan disertai evaluasi kompetensi.
Dewan Pembina IKA UNJ, Budiarti, menegaskan AI tidak perlu ditolak, tetapi harus dipahami dan digunakan secara bertanggung jawab.
FDP #1 sekaligus menghidupkan kembali Forum Diskusi Pedagogik IKA UNJ setelah sekitar tiga tahun vakum. IKA UNJ berencana melanjutkannya melalui FDP Series untuk membahas isu kurikulum, AI, kompetensi guru, dan karakter digital.
Pesan utama forum tersebut jelas: AI harus membantu manusia berpikir, bukan menggantikan manusia berpikir. Teknologi harus memperkuat karakter, bukan melemahkannya.(RN-04)
- Penulis: Didik




Saat ini belum ada komentar