Performa Para Gelandang Sangat Dipengaruhi Barisan BelakangÂ
Tetapi, para gelandang Tottenham Hotspur ini bukan tanpa kelemahan. Paling mencolok adalah mental mereka yang gampang rapuh bila lawan memberikan tekanan yang physical secara konstan.
Coach Mauricio Pochettino paham akan problem mental anak buahnya itu. Begitu kesalnya Pochettino sehingga dia pernah mengeluarkan komentar yang justru menggambarkan betapa dia sendiri tak habis pikir dengan kendala mental pasukannya.
Kelemahan lain, barisan tengah pertahanan yang dikawal duet palang pintu Eric Dier dan Kevin Wimmer yang, sekalipun tangguh untuk urusan menghalau bola udara, terkadang mudah dilewati penyerang lawan yang memiliki pace terobosan yang vertical. Sektor belakang kiri yang menjadi tanggung jawab Jan Vertonghen juga sering dieksploitasi lawan, apalagi jika tim lawan punya penyerang sayap yang super lincah, licin, dan berani adu lari. Sayap Chelsea, Pedro dan Eden Hazard, bakal menimbulkan masalah besar di sektor ini.
Kelengahan Tottenhham Hotspur di menit-menit crucial, khususnya di awal dan menjelang akhir babak pun terkadang kambuh, dan menggagalkan harapan untuk mencapai hasil positif. Nah, semua faktor yang mungkin menyebabkan kekalahan Spurs ini, justru merupakan kekuatan pasukan Conte.
Permainan lugas, bahkan cenderung phisycal, jelas melekat pada Kante dan Matic duet gelandang Chelsea. Keduanya sekaligus membuat tugas menjadi lebih ringan bagi trio bek tengah Gary Cahill, David Luiz dan Cesar Azplicueta. Sehingga penjaga gawang Courtois tak perlu sering bekerja keras, dan bisa menikmati streak (rentetan) clean sheet dalam enam partai terakhir Liga Primer.
Bagi Chelsea menang dalam London derby ini berarti mengamankan posisi puncak, sedangkan, bagi Tottenham Hotspur kekalahan berarti mulai terancam oleh Manchester United, bahkan oleh Everton, yang berambisi masuk lima besar klasemen.

