Kematian Larijani Tak Goyahkan Iran, Ini Alasannya
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

Ali Larijani. (Foto: Reuters/Thaier Al Sudani)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teheran, ReportaseNews – Pemerintah Iran menegaskan kematian Ali Larijani tidak akan melemahkan struktur kekuasaan negara tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut sistem pemerintahan Iran tetap kokoh meski kehilangan sejumlah tokoh penting.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Araghchi menilai Amerika Serikat dan Israel keliru jika menganggap Iran bergantung pada satu figur.
“Saya tidak tahu mengapa Amerika dan Israel belum memahami bahwa Republik Islam Iran memiliki struktur politik yang kuat dengan institusi yang mapan,” ujar Araghchi, seperti dilansir Al Jazeera, Rabu (18/3/2026).
Ia menegaskan, keberadaan atau ketiadaan satu individu tidak akan memengaruhi stabilitas sistem negara.

Menlu Iran Abbas Araghchi, tegaskan sistem pemerintahan tetap kuat meski tokoh penting Ali Larijani tewas. (Foto: AP/Khaled Elfiqi)
“Individu memang berperan, tetapi yang terpenting adalah sistem politik Iran merupakan struktur yang sangat solid,” lanjutnya.
Larijani, 67 tahun, diketahui tewas dalam serangan pada Senin malam. Ia merupakan salah satu tokoh senior di lingkaran kekuasaan Iran serta memiliki kedekatan dengan pemimpin tertinggi sebelumnya, Ali Khamenei.
Araghchi juga menyinggung kematian Khamenei dalam serangan pada 28 Februari lalu. Meski menjadi kehilangan besar, ia menyebut pemerintahan tetap berjalan normal.
“Kami tidak memiliki sosok yang lebih penting dari pemimpin tertinggi, namun bahkan setelah beliau gugur, sistem tetap berjalan dan segera menghadirkan pengganti,” katanya.
Ia menambahkan, hal serupa akan terjadi jika tokoh lain, termasuk dirinya, mengalami nasib serupa.
“Jika menteri luar negeri gugur, pada akhirnya akan ada pengganti,” ujarnya.
Selain Larijani, media pemerintah Iran melaporkan Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani juga tewas dalam serangan yang disebut sebagai aksi “musuh Amerika-Zionis”.
Soleimani diketahui memimpin pasukan Basij, bagian dari Garda Revolusi Iran, dan berperan penting dalam keamanan internal selama beberapa tahun terakhir.
Analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara, menilai praktik pembunuhan terhadap pemimpin politik bukan hal lazim dalam perang.
“Dalam perang, Anda tidak memulai dengan membunuh pemimpin politik, termasuk yang terpilih. Itu bukan norma perang,” kata Bishara.
Meski demikian, ia menilai kematian tokoh penting tetap dapat membawa dampak tertentu dalam dinamika politik.
Sementara itu, Araghchi kembali menegaskan konflik yang terjadi bukan inisiatif Iran, melainkan dipicu oleh Amerika Serikat.
“Perang ini bukan perang kami. Amerika Serikat yang memulainya dan harus bertanggung jawab atas semua konsekuensinya,” tegasnya. (RN-07)
- Penulis: Tama



Saat ini belum ada komentar