Ucapan Trump Picu Kontroversi Global, Iran Sebut AS Bertindak Seperti Perompak
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, (Foto: Kemenlu Iran)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teheran, ReportaseNews — Pemerintah Iran mengecam keras pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut penyitaan kapal-kapal Iran sebagai “perompakan”. Pernyataan tersebut dinilai sebagai pengakuan terbuka atas tindakan yang melanggar hukum internasional.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa ucapan Trump bukan sekadar kekeliruan.
“Presiden AS secara terbuka menggambarkan penyitaan ilegal kapal-kapal Iran sebagai ‘perompakan,’ dengan berani membanggakan bahwa ‘kami bertindak seperti perompak,’” ujar Baghaei dalam unggahan di platform X, Sabtu (2/5/2026).
“Ini bukan sekadar salah ucap. Ini adalah pengakuan langsung dan memberatkan tentang sifat kriminal dari tindakan mereka terhadap pelayaran maritim internasional,” imbuhnya.
Sebelumnya, Trump dalam sebuah acara di Florida, Jumat (1/5/2026), mengklaim Angkatan Laut AS bertindak agresif terhadap kapal-kapal Iran.
“Kami merampas kapal, kami merampas kargo, kami merampas minyak. Ini bisnis yang sangat menguntungkan,” kata Trump.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Teheran, yang menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum laut internasional.
Iran juga mendesak komunitas global, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), untuk tidak membiarkan praktik tersebut dinormalisasi. Baghaei menyerukan agar negara-negara anggota PBB dan Sekretaris Jenderal mengambil sikap tegas terhadap apa yang disebutnya sebagai “pelanggaran terang-terangan”.
Ketegangan meningkat setelah AS memberlakukan blokade terhadap Iran di Selat Hormuz, menyusul kegagalan perundingan di Islamabad pada 11–12 April.
Gencatan senjata antara Iran, AS, dan Israel mulai berlaku pada 8 April setelah konflik bersenjata selama 40 hari.
Konflik dipicu serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari yang menargetkan Teheran dan kota lain, menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat militer dan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke target Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Teheran juga memperketat kontrol di Selat Hormuz, termasuk membatasi jalur aman bagi kapal yang terafiliasi dengan AS dan Israel. (xinhua/RN-07)
- Penulis: Tama



Saat ini belum ada komentar