IMM Desak Kapolres Madina Mundur Jika Tak Tertibkan PETI di Kotanopan
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Lokasi Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sepanjang aliran sungai di Kecamatan Kotanopan, Madina. (Foto: Antara)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Madina, ReportaseNews – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Mandailing Natal (PC IMM Madina) mendesak Kapolres Madina AKBP Bagus Priandy segera menertibkan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sepanjang aliran sungai di Kecamatan Kotanopan.
Desakan ini muncul menyusul maraknya penggunaan alat berat jenis ekskavator dan mesin dompeng yang dinilai merusak ekosistem sungai serta mengancam keberlangsungan hidup masyarakat lokal di Bumi Gordang Sambilan.
Ketua Umum PC IMM Madina Abdul Hadis mengultimatum agar aparat penegak hukum segera bertindak konkret melawan mafia tambang dalam waktu satu pekan kedepan. Dia menilai ketidaktegasan kepolisian selama ini telah memperparah kerusakan lingkungan dan menciptakan mosi tidak percaya dari kalangan mahasiswa terhadap institusi Polri di Madina.
“Kami mendesak Kapolres Mandailing Natal AKBP Bagus Priandy untuk tidak bermain mata dengan para mafia tambang. Jika dalam waktu 7 × 24 jam alat berat masih beroperasi di aliran sungai Kotanopan dan sekitarnya maka kami nyatakan Kapolres telah gagal menjalankan amanah sebagai penegak hukum,” kata Abdul Hadis, dilansir mohganews.co.id, Selasa (28/4/2026).
Dalam pernyataan sikapnya, IMM Madina menuntut kepolisian menyita seluruh alat berat serta menetapkan tersangka terhadap aktor intelektual maupun pemilik modal di balik tambang ilegal tersebut.
Selain menuntut transparansi publik mengenai progres pemberantasan PETI, mereka juga menekankan agar hukum berpihak pada rakyat yang kini terancam krisis air bersih dan bencana ekologis akibat ulah para pengusaha.
Abdul Hadis menegaskan poin-poin tuntutan tersebut merupakan ultimatum final yang tidak dapat dinegosiasikan, karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Dia memperingatkan jika dalam tujuh hari kedepan tidak ada tindakan nyata di lapangan, maka mahasiswa akan melakukan konsolidasi besar-besaran untuk turun ke jalan.
“Kami tidak sedang bernegosiasi. Sungai urat nadi masyarakat. Jangan paksa mahasiswa untuk turun ke jalan dengan kekuatan yang lebih besar demi membela hak rakyat yang dirampas oleh para penambang ilegal,” tutur Abdul Hadis. (RN-03)
- Penulis: RN-03



Saat ini belum ada komentar