Fakta Mengejutkan Bom Rakitan MAN 3 Padang, Pelaku Korban Bullying
- calendar_month 12 jam yang lalu
- print Cetak

Polisi mengungkap pelajar pembawa bom rakitan di MAN 3 Padang merupakan korban bullying. Bom dirakit sendiri dari panduan internet dan kasus masih didalami. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Padang, ReportaseNews – Polisi mengungkap fakta baru dalam kasus pelajar yang membawa bom rakitan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatera Barat. Remaja berinisial R (17) diduga nekat melakukan aksinya setelah mengalami tekanan psikologis akibat menjadi korban perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.
Peristiwa tersebut terjadi di MAN 3 Padang, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Selasa (14/7/2026). Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Kombes Pol. Mayndra Eka mengatakan, petugas keamanan sekolah lebih dahulu menemukan benda yang diduga sebagai bom rakitan sebelum situasi berkembang lebih jauh.
”Dari pemeriksaan awal, petugas mengamankan sejumlah barang, antara lain kotak hitam, tas hitam, telepon genggam, petasan, pisau, anak panah, kelereng, baut, dan beberapa barang lainnya,” ujar Mayndra kepada wartawan, Selasa (14/7/2026).
Penyelidikan kemudian mengarah pada kondisi psikologis pelajar tersebut. Polisi menyebut R selama ini kerap menjadi sasaran ejekan teman-temannya hingga mengalami tekanan mental.
Kabid Humas Polda Sumatera Barat Kombes Pol. Susmelawati Rosya membenarkan bahwa dugaan perundungan menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi tindakan remaja tersebut.
”Iya betul korban bullying karena tekanan psikologi sering jadi objek ejekan teman-temannya ya, dia berbuat seperti itu,” kata Rosya.
Menurut Rosya, hasil pendalaman sementara menunjukkan R merasa terus-menerus menjadi target perundungan sehingga memengaruhi kondisi kejiwaannya.
”Dia (R) merasa dirinya kerap menjadi objek bully sama teman-temannya. Jadi masalah psikologis yang mendalam karena menjadi korban bullying,” ungkapnya.
Saat ini, penyidik tidak hanya mendalami aspek pidana, tetapi juga memprioritaskan pemulihan psikologis terhadap pelajar tersebut. R telah diamankan di Polresta Padang untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
”Kita fokus pemulihan anak karena si anak melakukan itu bukan jaringan seperti yang kita pikirkan ya. Dan kita melakukan pemulihan-pemulihan ke arah lain takut terpapar lebih parah pokoknya mengamankan dulu sambil diperiksa,” tutur Rosya.
Di sisi lain, Densus 88 mengungkap bom rakitan tersebut dibuat sendiri oleh R setelah mempelajari cara merakit bahan peledak melalui internet. Dari pemeriksaan awal, remaja itu mengaku terinspirasi oleh kasus bom di sebuah SMA di Jakarta yang terjadi pada 2025.
”Terduga juga mengaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring dan terinspirasi oleh peristiwa bom di sebuah SMA di Jakarta pada tahun 2025,” ucap Mayndra.
Polisi menyebut perangkat yang diduga sebagai bom dirakit secara mandiri di rumah menggunakan bahan-bahan yang dibeli secara daring tanpa diketahui orang tuanya.
Selain itu, R juga mengaku sempat bergabung dengan sejumlah grup di internet yang membahas pembuatan bahan peledak. Meski demikian, seluruh pengakuan tersebut masih terus diverifikasi untuk memastikan ada atau tidaknya keterlibatan pihak lain.
”Pelaku juga mengaku telah bergabung dalam sejumlah grup daring yang membahas pembuatan bahan peledak. Seluruh pengakuan tersebut masih dalam proses verifikasi dan pendalaman lebih lanjut oleh aparat penegak hukum,” kata Mayndra.
(RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar