Di Tengah PD II, Pilot Jerman Franz Stigler Pilih Kemanusiaan Daripada Kemenangan
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Kisah kemanusiaan di Perang Dunia II ketika pilot Jerman Franz Stigler memilih mengawal pesawat musuh yang rusak parah hingga selamat kembali ke Inggris. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Di tengah kerasnya pertempuran Perang Dunia II, sebuah kisah kemanusiaan terjadi di langit Jerman. Seorang pilot tempur Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) memilih tidak menembak jatuh pesawat musuh yang sudah dalam kondisi kritis. Keputusan itu menyelamatkan sembilan awak pesawat Amerika Serikat dan menjadi salah satu kisah paling mengharukan dalam sejarah perang.
Peristiwa itu terjadi pada Desember 1943 saat pesawat pengebom B-17 Flying Fortress bernama Ye Old Pub milik 379th Bomb Group kembali dari misi pengeboman di Bremen, Jerman. Pesawat yang dikomandani Letnan Charles L. “Charlie” Brown mengalami kerusakan parah akibat tembakan artileri antipesawat dan serangan pesawat tempur Jerman.
Dalam kondisi badan pesawat dipenuhi lubang, bagian ekor rusak, serta tiga awak mengalami luka berat, Brown berusaha menerbangkan pesawatnya kembali ke Inggris yang berjarak sekitar 400 kilometer.
Di tengah perjalanan, pesawat tersebut dicegat oleh Oberleutnant (letnan satu) Franz Stigler, pilot tempur Jerman yang menerbangkan pesawat Messerschmitt Bf 109. Sebagai seorang ace dengan lebih dari dua lusin kemenangan udara, Stigler mendapat perintah untuk menembak jatuh pesawat pembom Amerika itu.
Namun, ketika berada di dekat B-17, Stigler justru melihat kondisi pesawat yang nyaris hancur. Ia kemudian mengenang momen tersebut.
“Bagian ekor dan belakang rusak berat, dan penembak di belakang juga terluka. Hidung pesawat itu hancur dan ada lubang di mana-mana,” kata Stigler.
Alih-alih menarik pelatuk, Stigler memilih terbang di sisi pesawat tersebut. Dari jarak dekat, ia melihat Charlie Brown berjuang mengendalikan pesawat yang rusak parah demi membawa seluruh krunya pulang.
Keputusan yang diambil Stigler menjadi tindakan yang bertentangan dengan tugas militernya. Ia mengawal B-17 hingga mendekati Laut Utara agar terhindar dari serangan pesawat Jerman lainnya. Sebelum berpisah, Stigler memberi hormat kepada Brown, lalu memutar balik pesawatnya menuju wilayah Jerman.
Brown dan krunya akhirnya berhasil mendarat di Inggris. Mereka melaporkan seluruh kejadian kepada atasan, tetapi diminta untuk tidak membicarakan insiden tersebut demi menjaga moral pasukan.
Meski perang telah usai, Brown tidak pernah melupakan sosok pilot yang menyelamatkan hidupnya. Setelah pensiun dari Angkatan Udara Amerika Serikat pada 1972, ia mulai mencari identitas pilot Jerman tersebut. Upaya itu berlangsung selama 46 tahun hingga akhirnya sebuah surat yang dimuat di surat kabar dibaca oleh Franz Stigler.

Pertemuan kembali antara Letnan Charles L. “Charlie” Brown (kiri) dengan Oberleutnant Franz Stigler (kanan) pada 20 September 1997. (Foto: Adam Makos)
Keduanya kemudian bertemu pada 1989 dalam reuni 379th Bomb Group di Seattle, Amerika Serikat. Pertemuan itu menjadi momen emosional setelah puluhan tahun mereka hanya saling mengingat melalui peristiwa yang terjadi di langit Jerman.
Saat ditanya alasan tidak menembak pesawat musuh, Stigler menjawab, “Aku tidak sampai hati untuk menghabisi orang-orang berani itu.”
”Aku terbang di samping mereka untuk waktu yang lama. Mereka berusaha mati-matian untuk pulang dan aku akan membiarkan mereka melakukannya. Aku tidak bisa menembak mereka. Ini akan jadi sama saja seperti penembakan seseorang yang sedang terjun payung,” ujar Stigler
Setelah perang berakhir, Stigler menetap di Kanada, sedangkan Brown tinggal di Amerika Serikat. Keduanya terus menjalin persahabatan melalui surat-menyurat dan saling mengunjungi hingga beberapa kali menghadiri pertemuan veteran militer.
Dalam surat pertamanya kepada Brown, Stigler menulis, “Bertahun-tahun lamanya aku bertanya-tanya apa yang terjadi pada B-17 dan para krunya. Apakah ia berhasil pulang dengan selamat?”
Pertanyaan tersebut akhirnya terjawab. Brown bersama seluruh awak pesawat berhasil kembali ke Inggris dengan selamat berkat keputusan seorang pilot musuh yang memilih mengedepankan nilai kemanusiaan.
Franz Stigler meninggal dunia pada 22 Maret 2008. Delapan bulan kemudian, Charlie Brown wafat pada 24 November 2008. Kisah keduanya hingga kini dikenang sebagai simbol bahwa rasa kemanusiaan tetap dapat tumbuh, bahkan di tengah peperangan yang paling brutal.
(RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar