Dari Ajibarang, Mimpi Pesepak Bola Muda Mulai Ditempa
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

SSB Indonesia Muda Ajibarang membina sekitar 80 pesepak bola usia dini di Banyumas Barat, sekaligus menanamkan disiplin, mental, dan kerja sama. (Kus)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyumas, ReportaseNews – Mimpi menjadi pesepak bola profesional mulai tumbuh dari lapangan sepak bola di wilayah Banyumas Barat, Jawa Tengah. Sekolah Sepak Bola (SSB) Indonesia Muda Ajibarang menjadi salah satu wadah yang membina anak-anak untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menanamkan nilai kedisiplinan dan kerja sama sejak usia dini.
SSB Indonesia Muda Ajibarang berdiri sejak 2019 dan kini memiliki sekitar 80 peserta. Para pemain berasal dari sejumlah wilayah di Kabupaten Banyumas, terutama kawasan Banyumas Barat, dengan mayoritas masih duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.
Pelatih Indonesia Muda Ajibarang, Bima Ramadhani, mengatakan tidak ada batasan khusus bagi anak yang ingin bergabung. Rata-rata peserta berusia 9 hingga 13 tahun, meski terdapat pula pemain yang usianya lebih muda.
“Usianya rata-rata sembilan sampai 13 tahun, dari SD sampai SMP. Tidak ada batasan khusus untuk bisa bergabung,” ujar Bima saat ditemui, Minggu (13/9/2026).
Kegiatan latihan digelar tiga kali dalam sepekan, yakni setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu. Dalam satu sesi, peserta menjalani latihan selama sekitar dua hingga tiga jam.
Pembinaan yang diberikan tidak berhenti pada penguasaan teknik dasar sepak bola. Sejumlah pemain binaan Indonesia Muda Ajibarang juga telah mendapatkan kesempatan tampil dalam kompetisi dan meraih prestasi.
Salah satunya saat para pemain mengikuti ajang Bela Suratin Jawa Tengah bersama PSS Cilacap. Dalam kompetisi tersebut, tim yang diperkuat pemain binaan berhasil keluar sebagai juara pertama.
Meski demikian, pembinaan pemain usia dini memiliki tantangan tersendiri. Bima mengatakan perbedaan kemampuan menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi ketika ada pemain baru bergabung di tengah program latihan yang sudah berjalan.
“Kesulitannya ketika ada anak baru. Misalnya materi latihan sudah masuk tahap kelima, kemudian ada anak baru yang belum mengikuti materi sebelumnya. Di situ yang agak sulit,” katanya.
Pelatih kemudian harus menyesuaikan materi agar pemain baru dapat mengejar ketertinggalan tanpa mengganggu perkembangan peserta yang telah lebih dahulu mengikuti program.
Selain kemampuan teknis, konsistensi kehadiran pemain juga menjadi tantangan. Kesibukan sekolah, kegiatan keluarga, maupun aktivitas lain membuat jumlah peserta dalam setiap sesi latihan tidak selalu sama.
“Kalau pasang surut dalam latihan pasti ada. Banyak kegiatan di sekolah atau acara lainnya, akhirnya yang datang latihan hanya beberapa anak,” ujar Bima.
Dari sekitar 80 peserta yang terdaftar, Bima memperkirakan 60 hingga 70 persen mengikuti latihan karena memiliki ketertarikan terhadap sepak bola yang berasal dari diri sendiri. Sebagian lainnya mulai mengikuti latihan atas dorongan orang tua.
Bagi Indonesia Muda Ajibarang, pembinaan sepak bola tidak semata-mata ditujukan untuk mencetak pemain profesional. Sepak bola juga dipandang sebagai sarana membentuk karakter anak melalui kedisiplinan, kerja sama, mental, dan aktivitas positif.
“Harapan terbesar kami, anak-anak bisa terus berkembang dan bermanfaat bagi orang lain. Kalaupun nantinya tidak menjadi pemain sepak bola, setidaknya mereka bisa mendapatkan manfaat dari sepak bola,” tutur Bima.
Untuk bergabung, calon peserta cukup melakukan pendaftaran dan mengisi formulir yang disediakan pengurus. Setelah proses tersebut selesai, peserta dapat langsung mengikuti latihan.
Biaya pembinaan yang dikenakan juga relatif terjangkau. Peserta membayar biaya pendaftaran sekitar Rp150 ribu dan iuran bulanan Rp75 ribu. Sementara kebutuhan perlengkapan seperti jersey menjadi tanggung jawab masing-masing peserta.
Dukungan orang tua turut menjadi bagian penting dalam keberlangsungan pembinaan. Salah satunya Budi Swanto, warga Ajibarang Kulon, Kecamatan Ajibarang, yang mendaftarkan putranya ke Indonesia Muda Ajibarang sejak melihat ketertarikan sang anak terhadap sepak bola.
Budi mengatakan putranya yang kini berusia tujuh tahun sudah menunjukkan ketertarikan terhadap sepak bola sejak duduk di taman kanak-kanak. Ia kemudian memilih menyalurkan minat tersebut melalui kegiatan latihan sepak bola.
“Kalau melihat bola dia sangat senang. Sebagai orang tua, kami akhirnya menyalurkan minat dan bakatnya. Kebetulan di Ajibarang ada Indonesia Muda yang lokasinya dekat,” kata Budi.
Menurut Budi, kegiatan olahraga juga dapat menjadi sarana untuk mengarahkan anak pada aktivitas positif sekaligus mengurangi waktu bermain gawai.
“Sejak TK sudah senang main bola. Sekarang di Indonesia Muda termasuk masih paling muda karena usianya tujuh tahun. Kami ingin melatih mental sekaligus mengenalkan sepak bola sejak dini,” ujarnya.
Budi berharap pembinaan di Indonesia Muda Ajibarang tidak hanya meningkatkan kemampuan anaknya dalam bermain sepak bola, tetapi juga membentuk mental dan membuka peluang untuk meraih prestasi.
“Mudah-mudahan ke depannya bisa berprestasi dan ikut mendukung kemajuan sepak bola Indonesia. Apalagi sekarang pendidikan sepak bola usia dini sedang banyak digalakkan di seluruh Indonesia,” katanya.
Di tengah proses pembinaan tersebut, mimpi menjadi pesepak bola profesional juga tumbuh dari para pemain muda. Salah satunya Devan, peserta latihan yang mengaku mulai menyukai sepak bola setelah sering menyaksikan pertandingan melalui televisi.
Kecintaannya terhadap sepak bola membuat Devan tertarik mengikuti latihan secara rutin. Ia mengidolakan sejumlah pemain dunia, di antaranya Lamine Yamal dan Cristiano Ronaldo. Untuk pemain Indonesia, Devan mengidolakan Ole Romeny.
Seperti pemain seusianya, Devan juga menyimpan cita-cita untuk menjadi pesepak bola terkenal.
Kehadiran Indonesia Muda Ajibarang menunjukkan bahwa pembinaan sepak bola usia dini tidak hanya berkembang di kota-kota besar. Dari lapangan sepak bola di tingkat kecamatan, anak-anak Banyumas Barat mulai mendapatkan ruang untuk mengasah kemampuan dan mengejar mimpi.
Lebih dari sekadar mencetak pemain, proses tersebut menjadi bagian dari upaya membangun generasi muda yang disiplin, mampu bekerja sama, memiliki mental bertanding, serta terbiasa menjalani aktivitas positif sejak usia dini.
(Kus)
- Penulis: Kus
- Editor: Tama




Saat ini belum ada komentar