Harga Pakan Naik, Peternak Bebek di Banyumas Tertekan
- calendar_month 12 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyumas, ReportaseNews – Kenaikan harga pakan menjadi salah satu kendala yang dihadapi peternak bebek di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Biaya produksi yang terus meningkat tidak sepenuhnya diimbangi dengan harga jual telur yang cenderung tertekan.
Kondisi tersebut salah satunya dirasakan Noviawati, ibu rumah tangga di Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, Banyumas. Selain mengurus keluarga, Noviawati menjalankan usaha ternak bebek dengan memelihara ratusan ekor bebek.
Setiap hari, Noviawati harus membagi waktu antara pekerjaan rumah tangga dan merawat ternaknya. Sejak pagi, ia menyelesaikan berbagai kebutuhan keluarga dan anak-anak. Setelah pekerjaan rumah selesai, barulah ia menuju kandang untuk memberi pakan dan memastikan kondisi ternaknya.
Namun, dalam beberapa waktu terakhir, usaha tersebut menghadapi tantangan akibat kenaikan harga pakan. Harga pakan yang sebelumnya sekitar Rp375 ribu untuk kemasan 50 kilogram, kini mencapai Rp410 ribu per karung.
Kenaikan tersebut membuat biaya pemeliharaan semakin berat. Untuk menekan pengeluaran, Noviawati berupaya menggunakan pakan alternatif, salah satunya nasi aking yang dicampurkan dengan pakan komersial.
“Sekarang saya ngerasa berat banget karena harga pakannya naik. Dulu dua tahun yang lalu masih Rp375 ribu satu karung, isinya 50 kilogram,” ujar Noviawati.
Di tengah kondisi tersebut, Noviawati berharap ada dukungan pemasaran yang lebih luas bagi produk telur bebek yang dihasilkan. Ia juga berharap telur bebek dapat dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Menurutnya, telur bebek memiliki kandungan protein yang baik dan berpotensi menjadi salah satu sumber pangan bergizi. Keterlibatan produk peternak lokal dalam program tersebut dinilai dapat membantu membuka akses pasar sekaligus menjaga keberlanjutan usaha peternak skala rumahan.
Dalam kondisi produksi stabil, kandang milik Noviawati mampu menghasilkan sekitar 350 hingga 400 butir telur bebek per hari. Namun ketika produksi menurun, hasilnya hanya berkisar 160 hingga 170 butir per hari.
Penurunan produksi yang terjadi bersamaan dengan kenaikan biaya pakan menjadi tantangan besar bagi peternak. Kondisi itu membuat peternak rumahan harus memutar strategi agar usaha tetap berjalan dan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Bagi Noviawati, dukungan pemasaran dan akses pasar yang lebih luas menjadi salah satu harapan agar usaha ternak bebek yang dijalankannya dapat terus bertahan.
Di tengah kenaikan harga pakan dari Rp375 ribu menjadi Rp410 ribu per karung berisi 50 kilogram, Noviawati berharap usaha ternaknya tetap mampu menopang perekonomian keluarga tanpa harus mengorbankan kebutuhan rumah tangga.(Kus/RN-04).
- Penulis: Didik




Saat ini belum ada komentar