Hidup Terisolasi di Tengah Kebun Sawit, Induk dan Anak Orangutan Terpaksa Dievakuasi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

BKSDA Kalbar dan YIARI menyelamatkan induk dan anak orangutan yang terjebak di area terbatas perkebunan sawit di Ketapang. (BKSDA Kalbar)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ketapang, ReportaseNews — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelamatkan sepasang orangutan, induk dan anaknya, yang terjebak di kawasan perkebunan kelapa sawit di Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang. Penyelamatan dilakukan setelah habitat kedua satwa tersebut semakin terbatas dan sebagian area di sekitarnya terdampak kebakaran.
Kedua orangutan yang kemudian diberi nama Mama Lifa dan Lifa itu pertama kali dilaporkan masyarakat melalui Call Center BKSDA Kalimantan Barat pada Rabu (16/9). Tim Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (SKSDA) Wilayah Ketapang bersama Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI kemudian melakukan verifikasi ke lokasi pada Kamis (17/9).
Hasil verifikasi menunjukkan Mama Lifa dan anaknya bertahan di area yang hanya memiliki beberapa pohon akasia dengan luas sekitar 400 meter persegi. Area tersebut dikelilingi perkebunan kelapa sawit dan tidak lagi menyediakan sumber pakan yang memadai. Kondisi sekitar lokasi juga diketahui telah mengalami kebakaran.
Atas kondisi tersebut, tim memutuskan melakukan evakuasi pada Jumat (18/9). Untuk menjaga keselamatan satwa dan mengantisipasi risiko selama proses penyelamatan, tim menggunakan senapan bius untuk mengevakuasi kedua orangutan.
Setelah berhasil dipindahkan ke tempat yang aman, tim medis melakukan pemeriksaan terhadap kondisi keduanya. Pemeriksaan awal tidak menemukan luka bakar maupun luka lainnya pada Mama Lifa dan Lifa.
Namun, suhu tubuh Mama Lifa tercatat mencapai 39,5 derajat Celsius. Tim medis kemudian memberikan pengobatan, dukungan infus, dan oksigen. Berdasarkan pemeriksaan gigi, Mama Lifa diperkirakan berusia sekitar 15 tahun, sedangkan Lifa diperkirakan baru berusia 1-2 bulan.
Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, mengatakan kondisi kedua orangutan tersebut menunjukkan kemampuan satwa bertahan di habitat yang semakin terbatas.
“Keberadaan Mama Lifa dan Lifa menunjukkan bagaimana orangutan dapat bertahan di area yang sangat terbatas ketika habitat di sekitarnya sudah tidak lagi mendukung,” ujar Argitoe dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Menurut dia, kedua orangutan tersebut hanya memiliki beberapa pohon akasia sebagai tempat bertahan, sementara kawasan di sekelilingnya merupakan perkebunan kelapa sawit dan sebagian telah terbakar.
Argitoe mengatakan keputusan evakuasi diambil setelah tim melakukan verifikasi dan memastikan kondisi lapangan.
“Ketika area yang tersedia sangat kecil dan sumber pakan tidak memadai, risiko bagi orangutan menjadi semakin besar. Karena itu, setelah verifikasi dilakukan dan kondisi lapangan dipastikan, kami bersama BKSDA memutuskan untuk melakukan penyelamatan terhadap induk dan anak ini,” katanya.
Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengapresiasi masyarakat yang melaporkan keberadaan kedua orangutan tersebut. Menurut dia, laporan masyarakat mempercepat proses verifikasi dan penanganan satwa di lapangan.
“Apresiasi kami sampaikan kepada masyarakat yang telah peduli dan segera melaporkan keberadaan orangutan ini melalui Call Center BKSDA Kalimantan Barat. Respons cepat dari masyarakat sangat membantu kami memperoleh informasi awal sehingga tim dapat segera melakukan verifikasi dan mengambil langkah penanganan di lapangan,” kata Murlan.
BKSDA Kalimantan Barat juga mengimbau masyarakat tidak melakukan penanganan sendiri apabila menemukan orangutan atau satwa liar dalam kondisi terancam, khususnya di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat dapat melaporkan temuan tersebut melalui Call Center BKSDA Kalimantan Barat di 0811-5670-041 atau 0811-5776-767 agar dapat ditindaklanjuti petugas bersama pihak terkait.
(RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar