Breaking News
Trending Tags

Praktisi Hukum : Lelang Negara Jangan Lahirkan Sengketa Baru 

  • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta, ReportaseNews — Praktisi Hukum Tata Negara Turnya, S.H., M.H. menyoroti polemik lelang tanah dan bangunan atas nama Drs. Andri Tedjadharma yang dilakukan melalui KPKNL Jakarta I.

Menurut Turnya, persoalan tersebut tidak cukup dijawab hanya dengan mengatakan bahwa lelang dilaksanakan berdasarkan mekanisme pengurusan Piutang Negara. Negara juga harus mampu menunjukkan secara terang dasar hukum yang menyebabkan aset atas nama seseorang dapat disita dan kemudian dijual melalui lelang.

“Yang harus dijelaskan kepada publik bukan sekadar KPKNL berwenang atau tidak berwenang melakukan lelang. Pertanyaan hukumnya lebih dalam: apa dasar utangnya, bagaimana Andri Tedjadharma ditetapkan sebagai Penanggung Utang, apa dasar penyitaan aset pribadinya, dan apa dasar hukum objek tersebut kemudian dilelang? Rangkaian hukumnya harus jelas,” tegas Turnya.

Ia menilai keberadaan sertifikat asli yang disebut masih berada di tangan Andri memang tidak serta-merta membatalkan lelang. Namun kondisi tersebut justru menuntut transparansi dan kehati-hatian lebih tinggi dari negara.

“Kalau pengumuman lelang sendiri menyebut seluruh dokumen asli kepemilikan tidak dikuasai penjual, sementara sertifikat asli masih berada pada orang yang namanya tercantum dalam SHM, maka negara harus menjelaskan kepada calon pembeli bagaimana kepastian peralihan haknya nanti. Jangan sampai masyarakat memenangkan lelang, membayar miliaran rupiah, tetapi kemudian justru mewarisi sengketa hukum,” ujarnya.

Menurut Turnya, persoalan sertifikat hanya merupakan bagian dari masalah yang lebih besar. Hal yang harus diuji adalah legalitas mata rantai tindakan pemerintah sejak penetapan Piutang Negara, penetapan pihak yang bertanggung jawab, penyitaan, sampai dengan penjualan melalui lelang.

“Sertifikat ada di tangan siapa bukan satu-satunya ukuran sah atau tidaknya lelang. Tetapi negara wajib membuktikan bahwa sejak awal objek tersebut memang sah untuk dieksekusi. Jangan hanya bicara prosedur lelang di bagian akhir, sementara dasar hukum yang melahirkan hak negara untuk menyita dan menjual aset tersebut justru belum dijelaskan secara terang,” kata Turnya.

Turnya meminta PUPN dan KPKNL memberikan penjelasan terbuka mengenai hubungan hukum yang mendasari penetapan Andri Tedjadharma sebagai Penanggung Utang.

Terlebih apabila terdapat sengketa atau proses hukum sebelumnya yang berkaitan dengan Bank Centris International, BPPN maupun pihak-pihak terkait lainnya, menurutnya status dan relevansi perkara tersebut terhadap penagihan serta eksekusi aset harus dijelaskan secara transparan.

“Kalau utangnya memang sah, tunjukkan dasar hukumnya. Kalau Andri memang secara hukum bertanggung jawab, jelaskan konstruksi hukumnya. Kalau aset pribadinya memang boleh disita, tunjukkan dasar penyitaannya. Dan kalau semuanya sudah memenuhi ketentuan, KPKNL tentu dapat menjelaskan itu kepada publik. Jangan sampai ada mata rantai hukum yang terputus,” katanya.

Menurut Turnya, kewenangan pemerintah tidak dapat dipahami sebagai kewenangan tanpa batas.

“Dalam negara hukum, kewenangan bukan cek kosong. Setiap tindakan pemerintah harus dapat ditelusuri dasar kewenangannya, prosedurnya, objeknya dan tujuan penggunaannya. Semakin besar tindakan negara membatasi atau mengambil hak seseorang, semakin kuat pula dasar hukum yang harus dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Turnya juga mengingatkan bahwa persoalan ini bukan semata menyangkut kepentingan Andri Tedjadharma.

Ada kepentingan masyarakat sebagai calon peserta lelang yang juga harus mendapatkan perlindungan hukum.

“Orang mengikuti lelang negara karena percaya kepada negara. Mereka berasumsi objek yang ditawarkan pemerintah memiliki dasar eksekusi yang jelas. Kepercayaan seperti itu harus dijaga. Jangan sampai seseorang mengeluarkan Rp4,45 miliar atau bahkan lebih, kemudian setelah menang lelang baru mengetahui bahwa objek tersebut masih menghadapi persoalan hukum yang serius,” katanya.

Karena itu, menurutnya, transparansi dalam pengumuman lelang tidak cukup hanya mencantumkan bahwa dokumen asli kepemilikan tidak berada dalam penguasaan penjual.

“Calon pembeli harus mengetahui risiko hukumnya. Bagaimana proses balik nama dilakukan? Bagaimana apabila pemegang sertifikat asli menolak menyerahkannya? Bagaimana apabila dia menggugat? Dan apa jaminan hukum bagi pemenang lelang? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini harus mempunyai jawaban yang jelas,” ujar Turnya.

Turnya menegaskan bahwa dirinya tidak ingin mendahului proses hukum dengan menyatakan lelang tersebut pasti sah ataupun pasti tidak sah.

Namun menurutnya, polemik tersebut cukup serius untuk meminta klarifikasi terbuka dari instansi terkait.

“Saya tidak mengatakan hanya karena sertifikat asli berada pada Andri kemudian lelang otomatis batal. Itu terlalu sederhana secara hukum. Tetapi saya juga tidak setuju apabila keberadaan mekanisme lelang negara dianggap otomatis menyelesaikan seluruh persoalan mengenai kepemilikan, utang dan penyitaan. Semuanya harus diuji berdasarkan dasar hukumnya masing-masing,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar istilah “aset bodong” atau “barang curian” yang disampaikan pihak yang keberatan tidak langsung diposisikan sebagai fakta hukum.

“Itu merupakan pernyataan atau tudingan pihak yang merasa dirugikan dan tentu harus dibuktikan. Tetapi substansi keberatannya tetap harus dijawab. Jawaban terbaik bukan polemik, melainkan membuka dasar hukum penetapan utang, penyitaan dan lelang tersebut,” katanya.

Turnya menutup pernyataannya dengan meminta negara menempatkan kepastian hukum sebagai prioritas.

“Lelang negara seharusnya menyelesaikan persoalan, bukan memindahkan persoalan kepada pembeli. Kalau seluruh prosesnya sah, buka dan jelaskan kepada publik. Tetapi apabila masih terdapat persoalan fundamental mengenai dasar utang, subjek Penanggung Utang, penyitaan ataupun status objek, jangan korbankan masyarakat dengan menjual terlebih dahulu dan membiarkan sengketanya diselesaikan belakangan.”

“Negara boleh mengeksekusi ketika hukum memberikan kewenangan. Tetapi negara juga mempunyai kewajiban memastikan bahwa setiap rupiah yang dibayarkan masyarakat dalam lelang memperoleh objek dan hak yang mempunyai kepastian hukum. Itulah esensi negara hukum,” pungkasnya.(RN-04).

  • Penulis: Didik

Reportase Pilihan

  • Menjadi Korban Penipuan, Penerjemah  Kenegaraan Asal Korea Selatan Kesulitan Mencari Keadilan di Indonesia

    Menjadi Korban Penipuan, Penerjemah  Kenegaraan Asal Korea Selatan Kesulitan Mencari Keadilan di Indonesia

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Didik
    • 0Komentar

    Jakarta, ReportaseNews – Hur Young Soon, yang akrab disapa Ms Ayu, seorang penerjemah kenegaraan asal Korea Selatan, mengaku menjadi korban dugaan penipuan dan penggelapan investasi senilai Rp5,9 miliar yang berkaitan dengan PT Corpus Prima Mandiri. Ms Ayu merupakan salah satu dari lima warga negara Korea Selatan yang mengaku kehilangan dana investasi yang mereka tanamkan sejak […]

  • Polda Sumsel dan Divisi Humas Polri memperkuat mitigasi karhutla menghadapi El Nino 2026 melalui dialog publik lintas sektor di Palembang. (Foto: ReportaseNews/HO-Humas Polri)

    Polri Siaga El Nino, Karhutla Sumsel Diwaspadai

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Tama
    • 0Komentar

    Palembang, ReportaseNews — Polda Sumatera Selatan bersama Divisi Humas Polri memperkuat langkah mitigasi menghadapi ancaman El Nino 2026 yang diprediksi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), krisis pangan, hingga gangguan sosial di wilayah Sumatera Selatan. ‎Upaya tersebut dibahas dalam Dialog Publik bertajuk “Strategi Pencegahan dan Mitigasi Dampak Bencana El Nino di Sumatera Selatan dalam Mewujudkan […]

  • Tim SAR Gabungan Temukan Remaja Tenggelam di Sungai Kapuas

    Tim SAR Gabungan Temukan Remaja Tenggelam di Sungai Kapuas

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle Didik
    • 0Komentar

    Sintang, ReportaseNews — Tim SAR Gabungan berhasil menemukan seorang remaja yang dilaporkan tenggelam saat berenang di Sungai Kapuas, Desa Tanjung Ria, Kecamatan Sepauk,Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Jumat (25/9) pagi. Korban diketahui bernama Paulus (14), warga Desa Tanjung Ria, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (24/9) […]

  • Keluarga Nikita Mirzani Minta Keadilan TPPU

    Keluarga Nikita Mirzani Minta Keadilan TPPU

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Ferdy Ferdy
    • 0Komentar

    Jakarta, ReportaseNews – Keluarga Nikita Mirzani meminta transparansi hukum setelah artis tersebut menerima vonis enam tahun penjara dan denda Rp1 miliar dalam kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Kuasa hukum Nikita, Usman Lawara, mengatakan keluarga berharap proses hukum berjalan terbuka dan objektif agar publik dapat melihat fakta sebenarnya di persidangan. “Pihak keluarga prinsipnya menginginkan keadilan […]

  • PWI resmi melaporkan Hotman Paris ke Polda Metro Jaya atas dugaan penghinaan terhadap profesi wartawan. Laporan disertai barang bukti video dan menggunakan Pasal 242 KUHP. (Foto: ReportaseNews/Tama)

    PWI Resmi Polisikan Hotman Paris ke Polda Metro Jaya

    • calendar_month Senin, 20 Jul 2026
    • account_circle Tama
    • 0Komentar

    Jakarta, ReportaseNews – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat resmi melaporkan pengacara Hotman Paris Hutapea ke Polda Metro Jaya terkait dugaan penghinaan terhadap profesi wartawan. Laporan tersebut didaftarkan pada Senin (20/7/2026) dan telah diterima dengan nomor LP/B/5291/VII/2026/SPKT/Polda Metro Jaya. ‎Direktur Anti Kekerasan Wartawan PWI Pusat, Edison Siahaan, mengatakan laporan dibuat setelah pihaknya melakukan koordinasi dengan penyidik […]

  • Cegah Kenakalan Remaja, Siswa SIP Angkatan 55 Sindikat 59 Beri Penyuluhan Bahaya Tawuran di Sukabumi

    Cegah Kenakalan Remaja, Siswa SIP Angkatan 55 Sindikat 59 Beri Penyuluhan Bahaya Tawuran di Sukabumi

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle RN-03
    • 0Komentar

    Sukabumi, ReportaseNews — Siswa Sekolah Inspektur Polisi (SIP) Angkatan 55 dari Sindikat 59 menggelar kegiatan Pembinaan dan Penyuluhan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) mengenai bahaya tawuran pelajar di SMK Ar-Rahmah, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan yang dipimpin oleh Perwira Pendidik AKP Febry Marcus Sahumena ini merupakan bagian dari rangkaian penugasan materi Pembinaan Masyarakat (Binmas) sekaligus […]

expand_less