Serangan Udara AS-Israel Hantam Teheran Sepanjang Malam
- calendar_month 8 jam yang lalu
- print Cetak

Serangan Israel di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya 31 warga dan melukai 149 orang. Presiden Joseph Aoun mengecam serangan dan memperingatkan bahaya perang proksi. (Foto: REUTERS/Aziz Taher)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teheran, ReportaseNews – Ibu kota Iran, Teheran, mengalami salah satu malam pengeboman paling intens sejak perang dengan Amerika Serikat dan Israel pecah sekitar 10 hari lalu. Serangan udara menghantam berbagai wilayah kota berpenduduk lebih dari 10 juta orang itu.
Pesawat tempur dilaporkan terbang rendah di atas Teheran hingga Selasa (11/3/2026) dini hari. Puluhan bom berkekuatan besar dijatuhkan dan mengguncang sejumlah kawasan permukiman warga.
Rentetan ledakan membuat banyak penduduk yang tetap bertahan di rumah mereka diliputi ketakutan.
Serangan tidak hanya terjadi pada malam hari. Media lokal Iran melaporkan serangan lanjutan juga menyasar beberapa kota lain, termasuk Isfahan dan Karaj.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan bahwa Selasa akan menjadi “hari paling intens dari serangan kami di dalam Iran”.
Seorang warga Teheran yang menggunakan nama samaran, Sima (38), menggambarkan situasi mencekam saat pengeboman terjadi.
“Rasanya seperti puluhan jet tempur terbang tepat di atas kepala kami selama 15 menit tanpa henti, lalu berhenti sebentar sebelum gelombang serangan berikutnya datang,” kata Sima seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (11/3/2026).
Ia mengatakan suara pesawat dan ledakan membuat rumahnya bergetar hebat.
“Tanah, jendela, bahkan hati kami bergetar. Kami akhirnya berlindung di kamar mandi dan berhasil melewati malam itu,” ujarnya.
Sejumlah warga lainnya mengaku melihat kilatan cahaya terang dari serangan udara tersebut yang sempat membuat langit malam tampak seperti siang hari.
Beberapa video yang beredar di internet juga memperlihatkan kilatan cahaya biru di sejumlah titik kota. Kilatan tersebut diduga berasal dari fasilitas pembangkit listrik yang rusak akibat pengeboman.
Pemadaman listrik sempat terjadi di beberapa wilayah Teheran, namun pemerintah Iran menyatakan aliran listrik berhasil dipulihkan dalam beberapa jam.
Internet diputus
Di tengah situasi perang, pemerintah Iran juga menerapkan pemutusan internet nasional yang hampir total selama 11 hari terakhir.
Warga hanya dapat mengakses jaringan intranet layanan lokal yang dikendalikan negara sehingga arus informasi menjadi sangat terbatas.
Seorang warga bernama Alireza (25), yang tinggal di pusat Teheran, mengatakan situasi ini membuat komunikasi dengan keluarga dan teman menjadi sangat sulit.
“Saya hampir gila karena harus terus menelepon dan mengirim pesan kepada teman dan keluarga di Teheran dan kota lain untuk mengetahui lokasi yang terkena serangan. Hampir tidak ada informasi karena internet dimatikan,” ujarnya.
Banyak warga mencoba menggunakan VPN atau koneksi proxy yang dijual secara ilegal di pasar gelap. Namun akses tersebut kerap diblokir pemerintah setelah digunakan dalam waktu singkat.
Lembaga pemantau internet global NetBlocks menyebut pemadaman internet di Iran saat ini sebagai salah satu yang paling parah yang pernah terjadi di dunia.
Aktivitas kota tetap berjalan
Meski berada di bawah ancaman serangan udara, sebagian aktivitas ekonomi di Teheran masih berlangsung secara terbatas.

Suasana pasar di Teheran selama serangan AS-Israel ke Iran, Kamis (5/3/2026). (Foto: West Asia News Agency via Reuters/Majid Asgaripour)
Sejumlah toko di pusat kota tetap buka dalam waktu singkat, sementara pengemudi taksi dan kurir sepeda motor masih bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Antrean panjang juga terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar.
Seorang pekerja di Grand Bazaar Teheran mengatakan tokonya hanya beroperasi hingga sekitar waktu makan siang.
“Minggu ini kami buka dari pagi sampai sekitar waktu makan siang untuk tetap bekerja, tetapi pelanggan tidak terlalu banyak,” ujarnya.
Pemerintah Iran menyatakan banyak kawasan permukiman, rumah sakit, sekolah, dan situs bersejarah mengalami kerusakan akibat serangan Amerika Serikat dan Israel.
Teheran juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengambil tindakan atas dampak serangan terhadap warga sipil.
Di tengah konflik dan sanksi internasional, ekonomi Iran kini menghadapi tekanan berat dengan tingkat inflasi sekitar 70 persen. Lonjakan harga pangan disebut semakin menekan kehidupan jutaan warga Iran. (RN-07)
- Penulis: Tama



Saat ini belum ada komentar