Blokade Gaza Bikin Biaya Dokter Gigi Melonjak, Warga Tak Mampu Berobat
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Dokter gigi Liza Hassouna, sedang menangani pasien di kamp Nuseirat Gaza, Palestina. (Foto: Al Jazeera/Lina Abuzayed)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nuseirat, Gaza, ReportaseNews — Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kini tidak hanya memukul sektor pangan dan tempat tinggal, tetapi juga layanan kesehatan dasar, termasuk perawatan gigi. Lonjakan harga obat dan alat medis membuat banyak warga Palestina memilih menahan rasa sakit daripada menjalani pengobatan.
Murad Haji, warga berusia 50 tahun di kamp pengungsian Nuseirat, menjadi salah satu korban situasi tersebut. Selama berbulan-bulan ia menahan sakit gigi yang terus memburuk karena biaya pengobatan dinilai terlalu mahal untuk keluarganya.
Dengan tangan memegang rahang yang membengkak, Haji akhirnya kembali mendatangi klinik dokter gigi setelah rasa nyeri menyebar hingga ke bagian rahang.
“Saya sudah tidak sanggup menahan rasa sakit ini. Tapi saya tahu biaya pengobatannya lebih mahal dari kemampuan saya,” ujar Haji seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (29/5/2026).
Ia mengungkapkan, biaya perawatan mencapai sekitar 400 shekel atau setara Rp1,8 juta. Uang sebesar itu, menurut dia, lebih penting untuk membeli makanan bagi anak-anaknya selama beberapa hari.
“Empat ratus shekel sangat besar. Anak-anak saya lebih membutuhkan uang itu,” katanya.
Dokter gigi Liza Hassouna menjelaskan, blokade dan perang yang berlangsung di Gaza menyebabkan pasokan alat kesehatan gigi semakin langka. Kondisi tersebut memicu kenaikan tajam biaya perawatan di berbagai klinik.
Menurut Hassouna, banyak pasien datang dalam kondisi infeksi yang sudah parah karena sebelumnya tidak mampu membayar pengobatan.
“Banyak pasien datang setelah infeksi memburuk karena mereka tidak mampu berobat lebih awal. Padahal sebelumnya itu hanya membutuhkan tindakan sederhana,” kata Hassouna.
Ia mengatakan, keterlambatan penanganan membuat prosedur medis menjadi lebih rumit, menyakitkan, dan mahal. Dalam sejumlah kasus, infeksi bahkan menyebar ke bagian tubuh lain sehingga pasien membutuhkan tindakan operasi.
Kasus yang dialami Haji menjadi gambaran nyata kondisi tersebut. Masalah gigi yang awalnya ringan berubah menjadi pembengkakan serius disertai nanah dan nyeri hebat akibat penanganan yang tertunda.
Sebelum menjalani tindakan medis, pasien seperti Haji juga harus membeli antibiotik dan obat penghilang rasa sakit untuk mengendalikan infeksi. Biaya tambahan itu semakin memberatkan warga di tengah kondisi ekonomi yang memburuk.
Hassouna menuturkan, banyak pasien akhirnya meminta pencabutan gigi karena dianggap lebih murah dibanding perawatan lain. Namun, biaya pencabutan kini ikut melonjak drastis.
Di tengah kehancuran ekonomi Gaza akibat perang, prosedur sederhana yang sebelumnya terjangkau kini berubah menjadi layanan mahal bagi sebagian besar warga.
Manajer klinik, Dr Nidal al-Sindi, mengatakan operasional klinik juga semakin sulit dipertahankan. Harga sewa tempat, perlengkapan medis, dan bahan perawatan meningkat tajam sejak perang berlangsung.
Ia mencontohkan harga satu kotak anestesi yang sebelumnya sekitar 150 shekel kini naik menjadi 500 shekel. Sementara bahan cetakan gigi “Zeta Plus” melonjak dari 150 shekel menjadi hingga 6.000 shekel.
Sebelum perang, biaya pencabutan gigi biasa berkisar 30 hingga 150 shekel. Kini, tarif tersebut meningkat tajam seiring tingginya biaya operasional dan keterbatasan alat medis.
“Bagian tersulit adalah melihat pasien pulang masih menahan sakit karena mereka tidak mampu membayar pengobatan,” ujar al-Sindi.
Krisis layanan dokter gigi disebut mencerminkan kerusakan besar sektor kesehatan di Gaza secara keseluruhan. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sekitar 84 persen fasilitas kesehatan di Gaza rusak atau hancur sejak perang pecah pada Oktober 2023.
Serangan dan blokade berkepanjangan juga menyebabkan banyak tenaga medis terpaksa membuka layanan darurat di tenda atau fasilitas seadanya dengan peralatan terbatas.
Di tengah kondisi tersebut, warga Gaza kini dihadapkan pada pilihan sulit antara membeli makanan untuk keluarga atau mendapatkan layanan kesehatan yang layak. (RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar