Mahasiswa LSPR Ciptakan Gerakan Inklusif Untuk Teman Tunarungu
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Mahasiswa LSPR menghadirkan gerakan INTUISI untuk meningkatkan komunikasi inklusif bagi teman tunarungu di Kelurahan Sukabumi Selatan, Jakarta Barat, melalui edukasi bahasa isyarat. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap bahasa isyarat masih menjadi tantangan besar bagi penyandang disabilitas, khususnya teman tuli, di Kelurahan Sukabumi Selatan, Jakarta Barat. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Konsentrasi Public Relations Digital Communication LSPR Institute of Communication & Business meluncurkan program INTUISI (Interaksi Untuk Inklusi) sebagai upaya membangun lingkungan yang lebih ramah dan inklusif.
Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) yang telah diverifikasi bersama Kelurahan Sukabumi Selatan, terdapat lebih dari 40 penyandang disabilitas yang tinggal di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, lebih dari 20 orang merupakan teman tuli dengan usia yang bervariasi.
Berangkat dari hasil observasi lapangan, tim mahasiswa menemukan bahwa kendala utama yang dihadapi teman tunarungu bukan hanya terbatasnya akses informasi, tetapi juga minimnya kemampuan masyarakat dalam menggunakan bahasa isyarat sebagai sarana komunikasi sehari-hari.
Project Leader INTUISI, Carizsa Pasha Lady Jacob, mengatakan program ini dirancang untuk menjembatani komunikasi antara teman tunarungu dengan lingkungan sekitar sehingga tercipta interaksi yang lebih setara.
”Melalui observasi dan kunjungan lapangan yang kami lakukan, kami menemukan bahwa hambatan terbesar yang dihadapi teman tuli bukan hanya keterbatasan akses informasi, tetapi juga minimnya kemampuan lingkungan sekitar untuk berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Oleh karena itu, INTUISI hadir sebagai jembatan yang menghubungkan teman tuli dengan keluarga, tetangga, dan masyarakat agar tercipta lingkungan yang lebih inklusif,” ujar Carizsa, Jumat (26/6/2026).
Program yang mengusung tema “Interaksi Untuk Inklusi” tersebut menghadirkan sejumlah kegiatan berkelanjutan. Salah satunya adalah DIAM (Dengan Isyarat Aku Menyapa), yakni pelatihan bahasa isyarat bagi kelompok Dasawisma. Selain itu, tim juga melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk mendampingi keluarga teman tuli, menjalankan kampanye digital BISIK (Bahasa Isyarat Itu Asik), hingga menyelenggarakan talkshow mengenai komunikasi inklusif.
Pada tahap awal pelaksanaan, tim INTUISI mendatangi rumah-rumah teman tunarungu di Sukabumi Selatan. Kegiatan ini bertujuan membangun kedekatan dengan keluarga sekaligus memetakan kebutuhan komunikasi yang dihadapi dalam aktivitas sehari-hari.
Pelaksanaan program turut melibatkan berbagai pihak sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor. INTUISI bekerja sama dengan SMKN 45 Jakarta dengan melibatkan para siswa sebagai bagian dari pelaksana kegiatan. Selain itu, mahasiswa LSPR School of Special Needs Education (SSNE), Dipa Rizky Prakusha, bersama siswi SMKN 45 Jakarta, Razka Nayla Asshiddiqi, dipercaya menjadi Brand Ambassador yang mewakili pengalaman serta aspirasi teman tunarungu.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, INTUISI menggelar talkshow edukatif yang diikuti 171 peserta. Kegiatan tersebut menghadirkan dosen LSPR School of Special Needs Education (SSNE), Nunur Aeni, serta CEO PTI-Ruang Isyarat, Phieter Angdika. Keduanya membahas pentingnya membangun komunikasi yang inklusif, berbagai tantangan yang masih dihadapi teman tuli di Indonesia, serta peran masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang menghargai keberagaman.
Peserta juga diajak mengikuti simulasi bahasa isyarat agar dapat mempraktikkan komunikasi dasar secara langsung. Melalui pengalaman tersebut, diharapkan semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya bahasa isyarat sebagai jembatan komunikasi.
Melalui sinergi bersama keluarga, kelompok Dasawisma, tokoh masyarakat, institusi pendidikan, hingga komunitas teman tunarungu, INTUISI diharapkan mampu menumbuhkan budaya komunikasi yang lebih inklusif di Kelurahan Sukabumi Selatan.
Program ini menjadi bukti bahwa bahasa isyarat tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi sarana membangun kesetaraan, memperkuat rasa saling memahami, serta menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
(RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar