Iran Tutup Selat Hormuz, Serang Pangkalan Militer AS di 5 Negara Teluk
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Asap membubung dari sebuah pelabuhan di dekat Selat Hormuz di Kuhestak, Provinsi Hormozgan, Iran, setelah serangan AS pada 8 Juli 2026. (Reuters)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teheran, ReportaseNews – Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz sekaligus melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk setelah Washington melancarkan gelombang ketiga serangan udara ke wilayah Iran dalam sepekan terakhir.
Pemerintah Iran mengklaim serangan menyasar fasilitas militer AS di Bahrain, Qatar, Kuwait, Yordania, dan Oman. Langkah tersebut disebut sebagai respons atas serangan Amerika Serikat terhadap sejumlah target militer di wilayah selatan Iran.
Penutupan Selat Hormuz membuat kekhawatiran dunia meningkat. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia karena menjadi lintasan sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas global.
Iran menilai Amerika Serikat telah melanggar nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang disepakati kedua negara pada bulan lalu. Pelanggaran itu disebut menjadi salah satu alasan Teheran mengambil langkah militer dan menghentikan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya tidak akan lagi menerima kesepakatan yang hanya menguntungkan satu pihak.
”Era kesepakatan sepihak telah berakhir,” kata Ghalibaf, seperti dikutip dari Al Jazeera, Minggu (12/7/2026).
Ia juga memperingatkan Amerika Serikat agar mematuhi kesepakatan yang telah dibuat.
”Kami sudah memperingatkan, tepati janji atau bersiap menanggung akibatnya. Kenyataan kini sudah di depan mata,” ujarnya melalui akun X.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Pernyataan itu diikuti janji Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei untuk membalas kematian ayahnya yang disebut menjadi pemicu meningkatnya konflik.
AS Gempur Ratusan Target Militer
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi udara terbaru menargetkan sekitar 140 fasilitas militer Iran. Sasaran meliputi lokasi rudal dan drone, pangkalan angkatan laut, gudang amunisi, jaringan komunikasi, hingga sistem pengawasan di wilayah pesisir.
CENTCOM menyebut lebih dari 300 target telah diserang selama tiga malam berturut-turut guna mengurangi kemampuan Iran menyerang kapal dagang dan kapal sipil yang melintasi Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran melaporkan serangan udara AS juga menghantam sejumlah wilayah di Provinsi Lorestan, Khondab, serta lima kota di Provinsi Bushehr. Hingga kini, pemerintah Iran masih mendata jumlah korban jiwa dan kerusakan akibat serangan tersebut.
Iran Balas Serang
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim menyerang pusat logistik dan fasilitas pendukung kapal induk Amerika Serikat di Pelabuhan Duqm, Oman.
Di Qatar, Iran mengaku menembakkan rudal balistik ke Pangkalan Udara Al Udeid dan menargetkan pusat komando serta fasilitas perawatan pesawat tempur.
Namun, Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan seluruh rudal yang mengarah ke wilayahnya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara. Meski demikian, Kementerian Dalam Negeri Qatar melaporkan tiga orang, termasuk seorang anak, mengalami luka akibat serpihan hasil intersepsi rudal.
Iran juga mengklaim menyerang sistem pertahanan Patriot, gudang amunisi, dan radar milik militer Amerika Serikat di Kuwait. Sementara itu, serangan drone dan rudal juga disebut menyasar fasilitas komunikasi serta pusat komando militer AS di Bahrain dan Yordania.
Negara Teluk Tingkatkan Kewaspadaan
Meningkatnya eskalasi membuat sejumlah negara Teluk mengaktifkan sirene peringatan serangan udara dan meminta masyarakat tetap berada di tempat yang aman.

Iran menutup Selat Hormuz dan melancarkan serangan ke pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk sebagai balasan atas serangan udara Washington. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. (AP Photo)
Pemerintah Oman mengecam serangan yang terjadi di wilayahnya dan menyatakan akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan negara serta melindungi keselamatan warganya.
Qatar juga mengutuk keras serangan Iran. Pemerintah Doha menilai aksi tersebut merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan wilayah dan hukum internasional serta berpotensi memperburuk upaya penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Sementara itu, militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya tengah menghadapi sejumlah sasaran udara yang dianggap mengancam. Bahrain juga mengaktifkan sirene serangan udara dan meminta masyarakat tetap tenang di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
(Al Jazeera/RN-07)
- Penulis: Tama




Saat ini belum ada komentar