Terpapar Asap Karhutla, Orangutan Jantan Ditemukan Lemas di Perkebunan Warga Ketapang
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ketapang, ReportaseNews – Seekor orangutan jantan dewasa ditemukan dalam kondisi lemas dan tidak sadarkan diri di sekitar perkebunan sawit milik warga di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (30/8/2026)
Orangutan tersebut diduga mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti kawasan habitatnya dalam beberapa hari terakhir.
Satwa dilindungi itu pertama kali dilaporkan warga sekitar pukul 06.00 WIB. Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kemudian bergerak ke lokasi untuk melakukan penyelamatan.
Setelah ditemukan dalam kondisi lemah, orangutan jantan tersebut diberi nama Sampurna.
Staf SKW I Ketapang BKSDA Kalimantan Barat, Sarbandi, mengatakan tim langsung melakukan pengecekan setelah menerima laporan dari masyarakat.
“Pagi tadi kami menerima informasi dari masyarakat mengenai keberadaan orangutan di sekitar perkebunan. Kami langsung melakukan pengecekan ke lapangan dan menemukan orangutan tersebut dalam kondisi lemas. Diduga akibat kebakaran hutan dan lahan, orangutan bergeser dari habitatnya dan kemudian berada di area perkebunan,” ujarnya.
Tim gabungan bersama dokter hewan YIARI kemudian memberikan penanganan awal di lokasi. Untuk memudahkan proses evakuasi serta menjaga keselamatan petugas dan warga, Sampurna dibius.
Dokter hewan YIARI memberikan bantuan oksigen dan infus karena kondisi pernapasan orangutan tersebut terganggu. Dari pemeriksaan awal, tidak ditemukan luka terbuka maupun tanda-tanda luka bakar pada tubuh Sampurna.
Dokter hewan YIARI, Komara, menjelaskan paparan asap karhutla dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan satwa liar, terutama pada sistem pernapasan.
“Asap karhutla mengandung berbagai partikel dan zat yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan mengganggu fungsi paru-paru. Pada kondisi paparan berat, satwa dapat mengalami gangguan pernapasan dan kekurangan oksigen atau hipoksia,” kata Komara.
Meski demikian, tim medis masih akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan sejauh mana paparan asap memengaruhi kondisi kesehatan Sampurna.
Setelah mendapat penanganan awal, Sampurna dievakuasi ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Kiri. Pemeriksaan menyeluruh akan dilakukan, termasuk untuk mengetahui kemungkinan dampak paparan asap terhadap paru-paru dan organ dalam lainnya.
Penyelamatan Sampurna menambah daftar orangutan yang dievakuasi akibat ancaman karhutla di Kalimantan Barat sepanjang Agustus 2026. Sampurna tercatat sebagai orangutan ketujuh yang berhasil diselamatkan tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI dalam periode tersebut.
Direktur Operasional YIARI, Argitoe Ranting, mengatakan kondisi karhutla yang masih terjadi membuat tim penyelamatan dan medis meningkatkan kesiapsiagaan untuk merespons laporan satwa liar terdampak.
“Kasus Sampurna menunjukkan bahwa dampak karhutla terhadap satwa liar tidak selalu terlihat dalam bentuk luka bakar. Paparan asap juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius, sehingga setiap laporan mengenai satwa yang ditemukan dalam kondisi lemah atau tidak normal perlu segera ditindaklanjuti,” ujarnya.
YIARI menyatakan tim medis dan penyelamatan terus disiagakan selama 24 jam untuk merespons kemungkinan adanya satwa liar lain yang menjadi korban kebakaran hutan dan lahan di wilayah Ketapang.(Ad/RN-04)
- Penulis: Didik




Saat ini belum ada komentar