Dari Dalam Kabin Super Puma, Begini Perjuangan TNI AU Padamkan Karhutla Lewat Water Bombing
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, ReportaseNews – Di balik keberhasilan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui udara, terdapat perjuangan dan risiko besar yang dihadapi para prajurit TNI Angkatan Udara (TNI AU). Dengan mengandalkan helikopter Super Puma dan Caracal, TNI AU terus menunjukkan kesiapsiagaan dalam membantu mengatasi kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia.
Salah satu metode yang digunakan adalah water bombing atau pengeboman air, yakni teknik pemadaman dengan menjatuhkan air dari helikopter menggunakan perangkat khusus bernama Bambi Bucket.
Berdasarkan keterangan resmi TNI AU, operasi water bombing telah dilakukan di lima lokasi, yakni Pekanbaru, Riau; Pontianak, Kalimantan Barat; Balikpapan, Kalimantan Timur; Gunung Lawu, Jawa Tengah; serta Gunung Ciremai, Jawa Barat.
Dalam operasi tersebut, TNI AU mengerahkan helikopter H225M Caracal dari Skadron Udara 8 dan NAS-332 Super Puma dari Skadron Udara 6. Kedua jenis helikopter tersebut dilengkapi Bambi Bucket dengan kapasitas maksimal 2.950 liter air dalam sekali pengambilan (pick up).
Namun, keberhasilan misi tersebut tidak sekadar bergantung pada kecanggihan armada. Keterampilan pilot, koordinasi awak pesawat, serta kemampuan membaca kondisi medan menjadi faktor penting dalam setiap operasi.
Komandan Skadron Udara 6 sekaligus PIC dan pilot helikopter Super Puma, Letkol Pnb M. Ravi Rakasiwi, S.E., M.I.Pol., membagikan pengalaman menarik saat menjalankan misi water bombing di kawasan Gunung Lawu, Jawa Tengah.
Dalam keterangannya kepada tim redaksi Saksi Mata Network melalui sambungan telepon, Ravi mengungkapkan bahwa kondisi medan Gunung Lawu ternyata tidak semudah yang terlihat.
Menurutnya, banyak rintangan atau obstacle yang harus dihadapi untuk mencapai titik api maupun ketika melakukan pelepasan air.
Titik kebakaran bahkan berada di kawasan yang dikelilingi tebing-tebing tinggi. Kondisi tersebut membuat pilot dan seluruh awak harus melakukan perhitungan secara cermat serta menjaga koordinasi selama operasi berlangsung.
“Gunung yang terlihat friendly ternyata punya medan yang cukup sulit. Titik api berada di tengah atau dikelilingi tebing yang menjulang tinggi, sehingga butuh penanganan dengan perhitungan dan koordinasi yang sangat baik dalam proses perilisan air,” ujar Ravi.
Di dalam kabin helikopter Super Puma, keberhasilan water bombing merupakan hasil kerja sama sedikitnya lima personel dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Mereka terdiri dari pilot dan kopilot yang bertanggung jawab mengendalikan helikopter dengan konsentrasi penuh. Selanjutnya, dua operator bertugas memantau situasi di sekitar sasaran sekaligus mengoperasikan katup Bambi Bucket untuk membuka dan menutup aliran air.
Sementara itu, satu personel lainnya bertugas sebagai juru mesin yang bertanggung jawab terhadap kondisi teknis mesin helikopter.
Menurut Ravi, koordinasi dan kemampuan setiap personel menjadi kunci keberhasilan operasi.
Tanpa kerja sama yang solid, insting, serta pengalaman dalam membaca situasi di lapangan, misi water bombing akan sulit diselesaikan dengan baik.
Salah satu hal menarik dari operasi ini adalah kemampuan helikopter Super Puma dalam melakukan pengambilan dan pelepasan air secara berulang.
Dengan kapasitas maksimal Bambi Bucket mencapai 2.950 liter, satu kali pelepasan air dapat menjangkau titik api sejauh sekitar 300 hingga 500 meter.
Dalam satu misi, helikopter Super Puma bahkan dapat melakukan pengambilan dan pelepasan air sebanyak 10 hingga 15 kali.
Kemampuan tersebut menjadikan water bombing sebagai salah satu metode penting dalam penanganan karhutla, khususnya untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat.
Meski terlihat spektakuler ketika menjatuhkan air dari udara, Ravi mengungkapkan bahwa salah satu risiko terbesar dalam operasi water bombing justru terjadi saat proses pengambilan air.
“Risiko terbesar yang kami hadapi di lapangan justru ketika pick up air,” ungkap Ravi.
Menurutnya, lokasi sumber air yang sempit dan tidak terlalu luas dapat menyulitkan proses pengisian Bambi Bucket. Pilot harus mampu menjaga kestabilan helikopter hingga perangkat tersebut terisi penuh.
Tantangan lainnya muncul ketika sumber air berada di waduk atau cekungan yang dikelilingi perbukitan.
Dalam kondisi tersebut, pilot dan kopilot harus memperhitungkan kemampuan tenaga helikopter (power) ketika mengangkat Bambi Bucket dengan beban maksimal untuk melewati bukit yang memiliki elevasi lebih tinggi.
Situasi semakin menantang apabila sumber air berada tidak jauh dari kawasan permukiman penduduk.
“Kami harus benar menentukan arah approach jauh dari permukiman penduduk, karena angin yang dihasilkan sangat kencang dan bisa membahayakan,” jelasnya.
Artinya, setiap manuver harus diperhitungkan secara matang agar proses pengambilan air maupun pelepasannya tidak menimbulkan risiko tambahan bagi masyarakat.
Operasi water bombing memperlihatkan bahwa penanganan karhutla bukan hanya persoalan memadamkan api, tetapi juga membutuhkan kesiapan personel, teknologi, strategi, dan koordinasi yang terukur.
Para awak helikopter TNI AU harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari medan pegunungan, keterbatasan sumber air, hingga risiko saat bermanuver di sekitar kawasan permukiman.
Dedikasi tersebut sejalan dengan jargon pengabdian TNI AU, yakni AMPUH (Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis).
Melalui operasi water bombing, TNI AU berharap dapat mendukung terwujudnya visi “Udara untuk Nusantara Bebas Asap”.
Sebab, di balik setiap tetes air yang dijatuhkan dari langit, ada keberanian, keterampilan, dan kerja sama para prajurit yang berjuang menjaga hutan, lingkungan, serta keselamatan masyarakat Indonesia.(RN-04).
- Penulis: Didik




Saat ini belum ada komentar